Wanita Surga Bidadari Dunia

Wanita Surga Bidadari Dunia
Bab 2.6


__ADS_3

"Wah, lo enak banget yah. Bolos sekolah langsung main ke sini." Cela Gisel samar dengan senyuman lebar di wajahnya.


Aish tersenyum miring,"Enak, tertarik? Tinggal bolos aja sih apa susahnya."


Gisel tertawa terbahak-bahak, dia memukul pundak Iyon dengan main-main.


"Enggaklah, gue mana berani ngelawan orang tua."


Aish merasa aneh lagi. Entah mengapa hari ini dia merasa bila Gisel agak memusuhinya. Tapi apa ini cuma perasaannya saja?


"Hem, makanya lo jangan coba-coba cemburu ngeliat orang bolos kalau lo sendiri gak bisa bolos sekolah." Kata Aish santai tapi ditanggapi dengan muram oleh Gisel.


Aish tidak terlalu memperhatikan tingkah laku Gisel yang aneh karena fokusnya saat ini melihat orang-orang menari vulgar di bawah cahaya lampu kelap-kelip. Iyon sempat mengajaknya tapi dia menolak karena sedang tidak mood. Alhasil Gisel lah yang pergi menari bersama Iyon dibawah desakan Gisel sendiri.


Pukul 11 malam, Aish dan Iyon akhirnya keluar dari tempat hiburan. Mereka berdua memutuskan untuk langsung pulang dan tidak mampir ke tempat makan.


"Lho, kok kita ke sini?" Heran Aish melihat bangunan motel di depannya.


Iyon tersenyum penuh makna. Dia tidak menjawab tapi tangannya sudah berkelana menyentuh pinggang ramping Aish untuk menyiratkan makna tertentu.


"Iyon, kamu apa-apaan sih. Gak lucu tahu enggak!" Bentak Aish marah sambil menyingkirkan tangan Iyon.


Iyon masih tersenyum.


"Kamu gak usah malu-malu, sayang. Kita sudah dewasa dan sudah saatnya kita maju ke tahap yang lebih serius." Kata Iyon ingin menarik Aish tapi langsung dihindari.


Aish benar-benar tidak suka dengan cara Iyon. Dia marah semarah-marahnya karena dia pikir Iyon berbeda dengan cowok-cowok di luar sana. Karena hei, selama mereka pacaran Iyon tidak pernah melakukan apa-apa kepadanya kecuali pegangan tangan saja.

__ADS_1


"Iyon, please. Kita masih pacaran. Kita belum bisa untuk masuk ke tahap itu kecuali kamu adalah suami aku!" Kata Aish serius.


Iyon sekarang mulai kehilangan senyum di wajahnya,"Terus apa? Toh ujungnya aku bakal nikah sama kamu. Ngelakuin ini sekarang sama nanti itu gak ada bedanya, sayang." Iyon berbicara dengan sabar.


Tapi karena ucapannya ini membuat Aish semakin marah kepadanya.


"Perbedaannya jelas. Saat ini kamu bukan siapa-siapa aku tapi nanti setelah menikah, kamu adalah suamiku. Jadi sampai hari itu tiba kamu gak boleh menyentuh aku."


Iyon terdiam. Dia hanya menatap wajah datar Aish dengan tatapan memohon. Namun, semakin dia memohon maka semakin dingin pula Aish kepadanya.


Menghela nafas panjang, Iyon mengusap wajahnya kasar. Dia mengatur nafasnya yang memburu sebelum berbicara dengan lembut kepada Aish.


"Fine, kita tunda dulu sampai kamu akhirnya bersedia." Katanya membuat Aish kecewa.


Iyon masih labil, pikirannya benar-benar belum dewasa pikir Aish menyesal.


"Aku pulang." Kata Aish sambil berbalik menjauh dari Iyon.


"Aku antar."


"Gak perlu. Aku bisa sendiri." Tolak Aish dingin.


Tangannya melambai menghentikan taksi yang lewat dan segera masuk tanpa mengucapkan sepatah katapun kepada Iyon.


Setelah masuk ke dalam mobil, wajah dingin Aish perlahan mencair digantikan oleh ekspresi sendu. Kepalanya bersandar di kaca mobil sambil memikirkan perdebatannya dengan Iyon tadi.


"Maaf, Yon. Tapi aku harus belajar dari pengalaman Mamaku jika tidak ingin berakhir sakit." Bisik Aish sedih.

__ADS_1


Mama mencintai Ayah tapi dikecewakan oleh Ayah. Cinta, tidak menjamin hidup akan lebih bahagia karena Mama adalah salah satu contohnya. Daripada mencintai orang lebih baik dicintai orang karena peluang untuk tersakiti sebenarnya tidak besar.


Jika kita dicintai, kita akan dihargai dengan baik dan diperlakukan dengan tulus. Ini adalah kepercayaan Aish selama ini. Dan karena kepercayaan ini dia mau berpacaran dengan Iyon, laki-laki yang dia pikir memiliki perasaan yang tulus kepadanya.


Tapi setelah melihat kejadian ini...


"Apa hubungan ini benar-benar layak dipertahankan?" Gumam Aish mulai bimbang.


Walaupun tidak mencintai Iyon tapi hatinya telah mempercayai Iyon sebagai orang yang dekat, orang yang patut menerima kepercayaannya.


...🌪️🌪️🌪️...


Ketika kakinya sudah menginjak halaman depan rumah, Aish bersyukur melihat gerbang masih belum terkunci. Dari halaman dia memperhatikan jika lampu rumah sudah padam kecuali menyisakan tempat-tempat khusus. Dia pikir semua orang pasti sedang tidur sekarang.


Melihat ke sembarang arah untuk memastikan situasi, dia lalu mengambil kunci cadangan dari dalam dompetnya dan membuka pintu dengan lancar.


Gelap, Aish mengendap-endap masuk ke dalam rumah. Langkah kakinya sangat ringan karena dia berjalan tanpa alas kaki agar tidak mengundang suara yang tidak diharapkan.


Klik


Lampu di ruang tengah tiba-tiba menyala. Langkah ringan Aish membeku di tempat, di dalam hatinya dia merutuki kesialannya malam ini.


"Baru pulang?" Tanya Ayah dengan gigi terkatup.


Aish menegakkan punggungnya dan menatap Ayah yang sedang berdiri di samping saklar lampu. Jelas saja tersangka yang menyalakan lampu tadi adalah Ayah.


"Iya, Ayah. Hari ini sangat sibuk." Kata Aish berpura-pura normal di depan Ayah.

__ADS_1


Padahal saat ini dia sangat ketakutan menghadapi wajah dingin Ayahnya.


"Sibuk apa sampai harus bolos sekolah dan pulang jam segini?" Tanya Ayah tajam.


__ADS_2