Wanita Surga Bidadari Dunia

Wanita Surga Bidadari Dunia
Bab 10.2


__ADS_3

Kejamnya, apa yang dia katakan sungguh kejam dan menyakiti hati tapi Aish tahu bahwa itu semua memang fakta adanya. Dia persis seperti yang Paman gambarkan tapi apakah Paman dan yang lainya pernah bertanya-tanya kenapa dia tumbuh menjadi gadis yang seperti itu?


Hah, tidak. Mereka tidak akan pernah mau tahu karena sedari awal dia memang tidak diterima di rumah ini.


Keberadaannya tidak sepenting Aira.


"Sangat sombong! Masih kecil saja kamu sudah sombong apalagi setelah tua nanti. Aku yakin kamu pasti tidak akan pernah melihat kedua orang tuamu lagi." Dan satu demi satu suara mulai menghakimi Aish, memojokkan ke sudut tanpa tempat untuk melakukan perlawanan.


Aish ingin berteriak dan membantah semua yang mereka ucapkan tapi setelah dipikir-pikir lagi semuanya percuma saja, mereka tidak akan mendengarnya dan mereka juga tidak akan mau memahaminya.


"Cukup." Potong Nenek akhirnya mengambil alih suara.


Suara Nenek memang kecil tapi semua orang langsung mendengarkan dengan patuh apa yang Nenek katakan. Segera, ruangan ini menjadi sunyi.

__ADS_1


"Aisha," Nenek menatap dingin cucunya yang telah mengalami banyak perubahan.


Aish diam tidak mau menjawab.


"Kamu harus segera diperbaiki sebelum semuanya terlambat. Demi kebaikan mu, Nenek memutuskan untuk mengirim mu ke pondok pesantren di luar kota. Di sana kamu akan mendapatkan pendidikan agama yang benar, ahlak mu juga akan dipupuk dengan serius di sana hingga kamu akhirnya bisa melahirkan rasa disipilin yang tinggi dan memiliki adab yang baik. Selama tinggal di sana, Nenek dan Ayahmu akan menanggung semua pengeluaran mu. Jadi kamu tidak perlu memikirkan biaya dan fokus saja pada kehidupan di pondok pesantren." Kata Nenek pelan tapi langsung menciptakan kegemparan untuk semua orang.


Mereka hanya menduga bila Aish akan dihukum seperti biasanya tapi ternyata dugaan mereka salah karena Nenek telah mengambil alih masalah ini dan memberikan keputusan yang sangat mengejutkan.


Semua orang terkejut dengan berita dadakan ini dan Aish pun tidak terkecuali. Kelopak matanya terangkat tinggi karena shock, tapi beberapa waktu kemudian Aish kembali memiliki penampilan sendunya.


Dia pernah menebak jika orang-orang ini lambat laun pasti akan merasa bosan dengannya. Dan ketika hari itu datang Aish juga menebak bahwa dirinya akan diusir dari rumah ini. Lalu lihatlah sekarang, tebakannya tidak melesat sama sekali karena mereka akhirnya memiliki alasan untuk mendorongnya pergi dari rumah ini.


"Wah, ini adalah keputusan yang baik, Bu. Aku juga setuju jika Aish pindah ke pondok pesantren. Masalah biaya aku juga sanggup memberikannya asalkan dia mau belajar dengan bersungguh-sungguh di sana." Paman yang sempat memojokkan Aish sangat bersedia membantu biaya pendidikan Aish selama tinggal di pondok pesantren.

__ADS_1


"Kalau masalah biaya itu bukan masalah karena aku juga sanggup membiayainya." Satu demi satu mereka semua angkat bicara.


Suasana kembali ramai.


Entahlah, Aish tidak tahu apakah mereka benar-benar tulus kepadanya atau justru sebaliknya, mereka bergembira atas kepergiannya.


Ah, Aish sungguh tidak perduli karena dia pun sudah lelah di tempat ini.


"Terima kasih atas kekhawatiran kalian tapi sungguh tidak perlu. Aku bisa membiayai hidup ku sendiri selama tinggal di sana." Ucap Aish kosong.


Dia kali ini telah dihancurkan oleh orang-orang yang dia sebut sebagai keluarganya.


"Tuh kan, kambuh lagi deh sikap sombongnya!"

__ADS_1


"Kamu harus lebih rendah hati di masa depan nanti-"


"Cukup, jangan ribut lagi, ini sudah larut." Nenek lalu beralih menatap Ayah yang sudah lama tidak mengucapkan sepatah katapun dari mulutnya.


__ADS_2