
...رَبُّكُمْ اَعْلَمُ بِكُمْ ۗ ...
..."Tuhanmu lebih mengetahui tentang kamu."...
...(QS. Al-Isra' 17: Ayat 54)...
...🌪️🌪️🌪️...
Waktu sudah beranjak memasuki fase baru. Sinar matahari tidak lagi mendominasi bumi. Perlahan langit mulai diwarnai sapuan merah kelabu yang membawa rasa nostalgia. Ada sepi dan patah hati, orang-orang yang terluka sangat menyukai suasana saat ini.
Namun Aish bukanlah orang yang suka menatap langit sambil melayangkan rasa nostalgia karena sejauh ini dia tidak pernah memiliki kenangan yang pantas untuk dikenang. Kenangan Mama pun sangat samar diusianya, belum lagi dia tidak memiliki perasaan kepada Iyon. Jadi sejauh ini...dia merasa hampa.
"Gilang! Ayo cepat, Nak! Habib Thalib sudah jalan ke mushola." Suara Ibu-ibu di komplek perumahannya sangat riuh semenjak habib Khalid tinggal di sini.
Bukan hanya anak-anak yang didorong untuk pergi tapi juga para gadis-gadis yang sebelumnya menyentuh lantai musholla hanya pada malam pertama terawih di bulan Ramadhan saja saat ini berbondong-bondong berjalan ke arah musholla.
Mereka menggunakan beraneka ragam warna mukena- sekali pandang saja orang tahu bila mukena itu masih baru atau mungkin hanya digunakan saat sholat Ied dan setelah itu dibiarkan berjamur di dalam lemari.
Penampilan mereka jelas mencolok apalagi ada sentuhan makeup tipis di wajah merona mereka. Hell, Aish hanya mencibir saja melihat kegilaan orang-orang kepada habib Khalid karena dia sendiri tahu dan pernah melihat pacar habib Khalid. Gadis itu sangat cantik dan pemalu, dia tentu saja tidak bisa dibandingkan dengan gadis-gadis ini.
"Cih, bukannya tertarik, yang ada Kak Khalid jatuhnya malah ilfil sama mereka. Cek...cek, jadi cewek kok gatel banget, sih?" Gumam Aish mencibir.
__ADS_1
Karena ada banyak orang yang pergi ke musholla, Aish secara alami melambatkan langkah kakinya tidak ingin menarik perhatian. Barulah saat tidak ada lagi orang di depannya, dia kembali berjalan normal.
Namun saat melewati musholla dia tidak sengaja berpapasan dengan habib Khalid yang datang dari arah persimpangan kanan.
"Eh," Aish terkejut dan salah tingkah.
"Kak Khalid?"
Habib Khalid tidak menghentikan langkahnya, tapi langkah kakinya jauh lebih lambat dari sebelumnya. Dia mengangkat kepalanya, mengangguk ringan kepada Aish sebagai sapaan dengan senyum sopan di wajahnya.
Aish terpesona dan tanpa sadar menghentikan langkah kakinya. Kedua matanya bersinar terang saat melihat pemilik punggung tegap itu perlahan masuk ke dalam musholla.
"Sayang sekali dia sudah memiliki seorang pacar." Gumam Aish kecewa.
"Allahuakbar." Gema takbir yang kuat dan lembut segera mencapai pendengaran Aish.
Aish menoleh ke arah musholla dengan ekspresi rumit di wajahnya.
"Kamu adalah laki-laki yang baik... beruntunglah wanita yang akan mendampingi mu kelak."
Setelah menyimak beberapa saat, Aish memutuskan untuk pulang ke rumah karena rasanya agak canggung bila dilihat oleh orang. Berdiri sendirian di dekat musholla disaat orang-orang sedang melaksanakan sholat berjamaah, bukankah pemandangan ini agak... canggung?
__ADS_1
...🌪️🌪️🌪️...
Aish melihat ada beberapa mobil di halaman depan rumah. Mobil-mobil itu tidak asing dan bahkan meninggalkan kesan buruk di dalam hati Aish.
"Hari ini aku sangat sial." Kata sebal seraya mendorong pintu masuk.
"Aku pulang." Kata Aish santai mengabaikan tatapan orang-orang di dalam rumah.
Hari ini keluarga Kakek dan Nenek dari pihak Ayah datang ke rumah untuk berkunjung. Selama beberapa waktu dalam sebulan, keluarga pihak Ayah akan datang dan menginap di rumah. Mereka akan membuat acara dan menggosipkan banyak hal. Tentu saja rumah sangat hidup karena bertambahnya penghuni baru, tapi selama ada mereka Aish tidak akan pernah merasa bahagia. Alasannya...
"Astagfirullah, kalau masuk rumah itu biasakan ketuk pintu dan ucapkan salam. Jangan main nyelonong masuk aja tanpa mengucapkan salam." Teguran seorang Bibi membuat wajah Aish langsung cemberut.
Tapi Aish masih menjawab dengan- nada asal-asalan. Malas sekali dia meladeni keluarga munafik ini.
"Assalamu'alaikum. Apa sekarang aku bisa masuk?"
Karena sikap asal-asalan Aish, bibi itu jadi marah dan bahkan anggota keluarga yang lain juga sama tidak puasnya dengan dia.
"Apa begini caramu berbicara dengan orang tua?" Kata bibi marah.
Aish tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya berdiri di tempat sambil menebalkan gendang telinganya untuk mendengarkan omelan mereka.
__ADS_1
"Dia masih belum mendengar. Padahal aku sudah menasehatinya agar lebih banyak bertanya kepada Aira bagaimana sikap sopan santun yang benar...."
Kepala Aish langsung berdengung,"Aira lagi... Aira lagi.."