Wanita Surga Bidadari Dunia

Wanita Surga Bidadari Dunia
Bab 9.2


__ADS_3

Sungguh menakjubkan. Sungguh luar biasa. Rasanya sangat memuakkan.


"Begitu mudahnya kalian mempercayainya, tapi denganku? Rasanya aku tidak berbeda dengan seorang tahanan kriminal. Bahkan berkali-kali pun aku menjelaskannya nanti Ayah dan yang lainnya tidak akan percaya. Karena kepercayaan kalian telah diambil alih oleh putri kesayangan kalian. Maka percuma saja. Sekuat apapun aku menjelaskannya kepada kalian, semua yang aku katakan tidak ada bedanya dengan sebuah kebohongan. Ini melelahkan. Aku bosan berurusan dengan prasangka buruk kalian terus. Aku lelah. Sungguh, memang benar aku adalah gadis yang sangat buruk dan pemberontak tapi bukan berarti aku adalah orang yang sangat kejam. Seburuk apapun diriku, masih ada ruang untuk kebaikan dan sebaik apapun orang itu di depan kalian, di dalam hatinya masih ada ruang untuk kejahatan.Permisi, aku harus segera kembali ke kamarku dulu." Tanpa menunggu mereka mengucapkan kata-kata menyakitkan lainnya, Aish segera naik ke atas kamarnya.


Menulikan kedua telinganya untuk setiap kata-kata cemoohan dan prasangka buruk yang tidak ada habisnya. Hanya Allah yang tahu dan hanya Allah pula yang mengerti bagaimana perasaan hatinya saat ini.


Sedih, dia menutup pintu kamar dan menguncinya dengan erat. Nasi goreng yang masih hangat di tangannya dia taruh tanpa minat di atas meja rias. Dia telah kehilangan selera makannya. Jatuh berbaring di atas kasur dengan kedua mata terpejam tampak sangat damai. Tidak berselang lama, butiran bening air mata mulai menyelinap keluar dari sudut matanya.

__ADS_1


Hah, rasanya sangat melelahkan. Rasanya sungguh melelahkan.


Dia lelah. Tapi tidak bisa melakukan apa-apa selain bertahan sebanyak mungkin di tempat ini. Tempat yang tidak pernah mau menerima kehadirannya dan menolak kehadirannya tanpa ampun. Bertanya-tanya sampai kapan semua ini akan terus seperti ini?


...🌪️🌪️🌪️...


Sejak hari itu Aish tidak pernah bertegur sapa dengan siapapun di rumah ini. Lidahnya seolah kelu tak mampu bersikap baik-baik saja di depan mereka karena hatinya memang sedang tidak baik-baik. Dia sudah terlampau kecewa untuk semua perlakuan mereka kepadanya.

__ADS_1


3 hari kemudian Aish kembali masuk sekolah dengan suasana sekolah yang monoton. Tidak ada Gisel ataupun Iyon yang akan membuntutinya, juga tidak ada Dira yang akan mendebatnya di sekolah. Semua orang pergi meninggalkannya di sini, terbakar sepi yang mengosongkan hatinya. Terkadang dia akan menatap sekelilingnya dengan tatapan kosong seolah-olah terjebak di dalam dunia ilusi.


Lalu hari libur pun tiba. Nanti malam ada acara pesta di sebuah gedung pusat kota. Hampir semua siswa di sekolah datang untuk menghampiri pesta termasuk Aish dan Aira. Walaupun Aish tidak akan memiliki teman di sana, tapi datang lebih baik daripada harus mendekam di dalam rumah itu.


"Bunda, baju ini cocok enggak buat, aku?" Suara manis Aira masuk ke dalam pendengaran Aish.


Aish baru saja turun dari tangga dan melihat pemandangan ini. Di ruang tengah Aira menggunakan gamis berwarna pink peach yang sangat indah dan menyenangkan mata. Berputar-putar di depan Bunda dan Ayah untuk menunjukkan penampilannya yang luar biasa.

__ADS_1


"Baju ini sangat cocok, Nak. Sebenarnya Aira cocok menggunakan baju warna apapun karena Aira akan selalu terlihat cantik." Puji Ayah tulus kepada putrinya.


"Sungguh, Ayah?" Aira sangat senang mendengarnya.


__ADS_2