Wanita Surga Bidadari Dunia

Wanita Surga Bidadari Dunia
Bab 4.3


__ADS_3

"Bahkan jika kamu tidak mengumpat atau menggunakan kata-kata kasar, apa begini caramu berbicara dengan orang tua?" Kritik Ayah dengan kemarahan terendam.


Ayah mengenal dengan baik bagaimana karakter putrinya itu. Dia tidak suka ditegur ataupun dinasehati karena putrinya itu selalu berpikir berada di posisi yang benar. Sama seperti saat ini. Apa yang Aish katakan memang dibenarkan tapi caranya berbicara kepada orang tua tidak bisa dibenarkan. Aish terlalu lancang dan agak kurang ajar jadi wajar bibi marah kepadanya.


"Jadi menurut Ayah aku adalah gadis yang kurang ajar? Okay, aku mengerti. Sekarang karena kalian tahu aku kurang ajar dan selalu melawan, maka jangan pernah menegurku lagi dengan embel-embel nasihat atau demi kebaikan diri sendiri. Hell, jika memang benar untuk kebaikan ku sendiri seharusnya orang yang berbicaralah yang lebih dulu membuktikannya agar aku tidak membuat keributan dan 'melawan' lagi. Jika tidak mampu melakukannya, maka jangan banyak bicara seolah-olah dia telah melakukannya saja." Balas Aish tidak kenal takut.


Jika karena masalah ini dia harus dikeluarkan dari rumah ini maka, fine. Dia akan pergi dan tidak akan pernah kembali lagi karena toh, di rumah ini dia hanya sendirian.


"Dasar keras kepala," Kata bibi masih jengkel disindir oleh Aish.


Jangan disebutkan lagi betapa malunya dia terus disebut-sebut oleh Aish. Bahkan alasan 'tuanya' pun mampu ditangkis dengan baik oleh Aish. Dan sebenarnya, apa yang Aish katakan memang benar, hanya saja menurut bibi kebenaran itu terlalu menyakitkan dan telah mempermalukannya jadi bagaimana bisa bibi masih bisa bernegosiasi dengan Aish setelah buat malu?


Bibi jelas tidak mau melepaskannya.


"Mamamu dulu wanita yang sangat-"


"Jangan bawa-bawa Mamaku dalam permasalahan ini." Potong Aish dingin tidak berpura-pura marah.


Dia tidak suka Mamanya disebut oleh mulut kotor mereka.


"Kak, lihat putri Kakak. Dia bahkan berani memotong ucapan ku!" Adu bibi.


Ayah menggelengkan kepalanya cukup kewalahan. Putrinya ini sangat keras kepala apalagi jika menyangkut Mamanya.

__ADS_1


"Hah, aku tidak pernah lupa orang yang membuat Mamaku berakhir depresi dan sakit adalah kalian semua, keluarga yang harmonis." Ejek Aish diakhir kalimatnya.


Hening, bibi yang tadinya sangat agresif tanpa sadar memalingkan wajahnya enggan melihat Aish. Tidak hanya bibi saja yang merasa tidak enak, tapi Ayah dan anggota keluarga yang lain juga agak merasa malu melihat Aish.


Dan Bunda, Ibu tirinya yang baru saja masuk dari dapur langsung menjadi kaku. Dia tidak berani berbicara karena sumber rasa sakit Aish adalah keberadaannya di keluarga ini. Bahkan walaupun dia bisa berbicara Aish juga tidak akan pernah mau mendengarnya, jadi hasilnya pasti akan sia-sia.


Masa lalu adalah kesalahan yang tidak akan pernah bisa mereka perbaiki lagi. Ini adalah sebuah penyesalan yang tidak bisa diucapkan.


"Aish sudah pulang?" Suara lembut Nenek memecahkan keheningan.


Dari belakang rumah nenek masuk bersama Kakek.


Aish melihat Nenek dan Kakek yang tiba-tiba datang dengan senyum di wajah tua nan keriput mereka. Entah mengapa hatinya tiba-tiba menjadi sesak, dia ingin menangis dan mengadu kepada mereka berdua karena di keluarga ini hanya mereka berdua lah yang selalu memperlakukannya dengan lembut ataupun tidak membandingkannya dengan Aira.


Nenek berusaha naik ke atas tangga sambil dibantu oleh Kakek. Dengan usianya saat ini agak sulit menapaki jalan yang bertingkat.


"Jangan naik, Nek. Kaki Nenek pasti akan sakit." Larang Aish seraya membantu Kakek membawa Nenek turun dari tangga.


Nenek menyentuh kepala Aish,"Gadis baik...gadis baik, Allah selalu mencintaimu, Nak."


Aish tersenyum tapi tidak mengatakan apa-apa.


Sambil berjalan ke bawah, Nenek berbicara lagi, tepat menusuk ke dalam hatinya.

__ADS_1


"Maafkan mereka semua, Nak. Kesalahan di masa lalu bisa terjadi itu dikarenakan oleh Nenek. Nenek lah yang mengizinkan Ayah mu menikah lagi jadi jangan salahkan mereka semua, Nak."


Diam, Aish tidak mau mengatakan komentar apapun karena hatinya...semakin sesak memikirkannya.


"Kamu-"


"Nenek, aku lelah. Aku ingin beristirahat di dalam kamar."


Tanpa menunggu kesediaan Nenek membiarkannya pergi, Aish langsung naik kembali ke lantai dua. Berjalan cepat menapaki tangga tanpa niat sedikitpun untuk menoleh atau melihat bagaimana ekspresi semua orang sekarang.


Kesalahan masa lalu, tentu saja semua orang di keluarga ini terlibat dan memiliki andil. Aish tahu dan cukup kagum sebenarnya.


Sebab, betapa kompaknya mereka semua mengkhianati kepercayaan Mama dan betapa luar biasa kompaknya mereka semua menyakiti Mama. Mereka adalah segerombolan penjahat yang sangat mengagumkan!


Aish membencinya!


DOR!


Aish mendorong pintu kamarnya marah. Dia melemparkan tasnya ke meja rias tanpa menoleh dan langsung menjatuhkan dirinya ke atas kasur untuk berbaring.


Diam, kedua mata merahnya yang berkedip pahit memandangi langit-langit kamar yang sejujurnya tidak memiliki kelebihan apapun. Hanya warna abu-abu pucat seperti suasana hatinya saat ini.


Itu tampak menyedihkan.

__ADS_1


__ADS_2