Wanita Surga Bidadari Dunia

Wanita Surga Bidadari Dunia
Bab 3.1


__ADS_3

...Apapun yang menjadi takdirmu, pasti akan mencari jalannya sendiri untuk menemukanmu....


...(Ali bin Abi Thalib)...


...🌪️🌪️🌪️...


Pukul 3 dini hari Aish tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Dia menggosok kedua matanya yang gatal, kemudian menatap linglung di sekitarnya. Mengapa dia tertidur di depan pintu masuk?


"Oh, aku lupa sempat bertengkar dengan Ayah." Katanya linglung.


Dia lalu bangun dari duduknya. Tanpa menyalakan lampu kamar dia merebahkan tubuhnya di atas kasur ingin memasuki alam mimpi lagi. Tapi sayang, rasa kantuknya telah lama menguap sehingga dia hanya bisa terbengong di atas tempat tidur.


Tidak berdaya, Aish turun dari tempat tidurnya berjalan menuju jendela kamarnya. Dengan satu tarikan dia menyingkap gorden jendelanya, membuka kait jendela dan membiarkan angin malam yang dingin masuk ke dalam kamarnya yang sunyi.


"Hufh..." Dia menghirup udara malam dengan rakus, memasukkan gelombang besar oksigen ke dalam paru-parunya untuk diproses.


"Heran deh, kenapa sih aku sering banget terbangun di jam-jam ini? Apa yang orang bilang katakan itu benar yah kalau suka terbangun di tengah malam artinya aku lagi digangguin sama hantu?!" Aish bergidik ngeri.


Soal hantu dia percaya dan tidak percaya karena benar-benar belum pernah ngalamin. Tapi saat mendengar cerita-cerita orang di sosial media ada sedikit keyakinan jika hantu itu ada.


"Kenapa aku harus takut? Rumahku kan dekat musholla. Lagian hantu gak bakal berani deket-deket sama tempat suci." Kata Aish santai.


Kebetulan rumahnya tepat berada di sebelah musholla kompleks sehingga setiap kali ada orang yang sholat atau mengaji, Aish pasti bisa melihat ataupun mendengarnya.


Terkadang dia juga sering mengamati orang-orang yang beribadah itu, bertanya-tanya di dalam hatinya mengapa mereka begitu taat kepada Tuhan?

__ADS_1


Padahal Tuhan kan sering membuat hamba-Nya menderita?


Aish tidak mengerti.


"Hem?" Aish menatap ragu sosok putih nan tinggi yang berjalan dari jauh dan masuk ke dalam musholla.


"Apa yang sedang dilakukan orang ini datang ke masjid di tengah malam?" Ini aneh dan baru pertama kali terjadi.


Tapi, entah mengapa dia merasa jika pemilik punggung tegap itu sedikit familiar?


"Apa aku mengenalnya? Tapi itu tidak mungkin karena aku yakin jika di kompleks ini tidak ada laki-laki setinggi dia." Gumamnya membantah.


Tapi, dia tiba-tiba teringat dengan sosok tampan yang dilihat kemarin di pinggir jalan. Entah mengapa punggung laki-laki itu cukup mirip dengan sosok tampan kemarin.


"Mana mungkin ada kebetulan sebanyak ini di dunia?"


Tapi semua pikirannya segera terbantahkan ketika mendengar alunan lembut nan merdu dari ayat-ayat suci Al-Qur'an yang di langitkan. Suaranya tidak besar namun bergema indah di dalam musholla, memenuhi getaran udara malam hingga merasuki kekosongan Aish.


Bingung, Aish menatap linglung bangunan musholla di depannya. Menatap bangunan suci tempat bersembunyi nya laki-laki tersebut.


"Betapa indahnya..." Bisik Aish tanpa sadar menyentuh dadanya.


Hatinya tiba-tiba menjadi tenang dan nyaman.


"Namun sayang sekali suara seindah itu tidak digunakan untuk bernyanyi." Katanya asal.

__ADS_1


Dia melirik pintu masuk musholla singkat sebelum menghempaskan tubuhnya ke atas kasur. Ditemani oleh dinginnya malam yang masuk dari jendela dan lantunan ayat-ayat suci dari laki-laki itu, kantuk Aish tanpa sadar datang menerpa.


Lalu dia tertidur dengan mudahnya. Tidurnya yang sangat lelap dan nyaman, seolah ada pelukan hangat yang datang untuk membekapnya.


Ini sungguh sangat nyaman.


...🌪️🌪️🌪️...


Pagi harinya Aish sudah siap dengan seragam dan tas sekolahnya. Dia tidak tahu sejak kapan tas sekolahnya kembali tapi yang pasti Aira lah yang membawa tasnya pulang untuk diadukan kepada Ayah.


"Dasar serakah." Cibir Aish mencela.


"Padahal tanpa kamu minta pun dunia Ayah sudah menjadi milikmu, putri kesayangannya yang sok alim."


Aish memang tidak menyukai Aira sejak mengetahui Mama jatuh depresi karena kehadirannya di dunia ini. Dia memang tidak menyukainya tapi bukan berarti membenci karena biar bagaimanapun Aira tidak tahu apa-apa tentang orang tua.


Perasaan ketidaksukaannya berubah menjadi kebencian bukanlah tanpa alasan. Aira suka berulah, menciptakan masalah dengan polosnya kepada Aish dan memonopoli semua perhatian Ayah.


Aish tentu tidak akan pernah mentolerir sikap ini karena Aira bermaksud menyingkirkannya dari rumah dan keluarganya.


Tidakkah dia terlalu kejam?


"Aish, ayo turun sarapan, Nak." Suara lembut Bunda menarik Aish dari lamunannya.


Aish tersadar. Dia tidak menjawab tapi matanya bersinar tidak senang saat melirik pintu.

__ADS_1


"Drama apa lagi ini." Aish mengambil tas yang lain dan memasukkan beberapa buku secara acak ke dalam tasnya.


__ADS_2