Wanita Surga Bidadari Dunia

Wanita Surga Bidadari Dunia
Bab 3.2


__ADS_3

Setelah itu dia keluar dari pintu dan berjalan melewati Bunda di luar. Dia bertindak seolah-olah tidak ada siapapun di sana.


"Hari ini Bunda masakin kamu ayam goreng dan sambal banteng hijau kesukaan kamu-"


"Makanan berat gak cocok untuk sarapan." Potong Aish gerah.


Bunda tidak putus asa. Dia masih berusaha menarik perhatian Aish.


"Makanannya bisa dibawa ke sekolah untuk makan siang. Rasanya masih enak-"


"Aish lagi puasa." Bohongnya.


"Eh," Bunda tercengang, dia menatap punggung Aish yang semakin menjauh dari pandangannya.


"Bukannya hari Jumat gak boleh puasa, yah?"


...🌪️🌪️🌪️...


Dia tidak berbicara dengan Ayah tapi tetap mencium tangannya saat akan berangkat sekolah. Walaupun marah Ayah juga tetap memberikan uang saku kepada Aish tapi ditolak karena dia masih punya simpanan, hasil dari kerjanya selama ini.


Ayah tidak marah dan malah mengirimnya ke rekening Aish secara diam-diam tanpa memberi tahu siapapun.


Mumpung masih pagi Aish membawa langkah kakinya berjalan melewati komplek perumahannya untuk membeli bubur sumsum dan jajanan pagi yang enak untuk dijadikan sarapan.


Saat berjalan melewati sebuah blok rumah dia tidak sengaja bertemu dengan kerumunan Ibu-ibu dan Bapak-bapak yang sedang asik mengerubungi seseorang.


"Habib kenapa tidak bilang kemarin pulang ke sini?" Suara salah satu Ibu-ibu tidak keras tapi masih bisa didengar oleh Aish.

__ADS_1


Aish menoleh, melihat ke arah pusat perhatian mereka. Di sana berdiri seorang laki-laki tampan nan tinggi dengan senyuman ramah di bibirnya. Kedua matanya memiliki sudut yang tajam selayaknya almond dan sentuhan tinta hitam pada bola matanya.


Untuk sesaat Aish terkejut melihatnya karena laki-laki ini adalah orang yang sempat mencuri perhatiannya kemarin.


Dalam keterkejutannya Aish lagi-lagi dibuat tercengang karena sosok tampan laki-laki itu memiliki sikap yang sopan dan ramah, sangat mudah didekati oleh orang dan mudah tersenyum.


Terlihat sangat hangat.


Apa mungkin laki-laki semalam adalah dia? Batin Aish ragu.


"Habib? Namanya habib?" Gumam Aish berdiri di pinggir jalan.


"Apakah habib akan tinggal lama di sini? Ibu bisa memasak setiap hari untuk habib. Kebetulan putri Ibu sedang libur kuliah jadi dia bisa meluangkan waktunya menemani Ibu di dapur."


Belum selesai pertanyaan yang satu, Ibu-ibu yang lain langsung menyerobot mengirim pertanyaan.


"Eh, putri Ibu juga punya banyak waktu di rumah. Kebetulan putri Ibu ikut sekolah memasak di Ibu kota jadi masakannya gak kaleng-kaleng dan terjamin enak, ya kan, Pak?"


Orang-orang ini jelas memiliki makna tertentu untuk mendekati habib.


"Astaga apa mereka tidak tahu jika habib sudah memiliki pacar? Cek... Ibu-ibu ini, seperti tidak ada laki-laki yang lain saja di dunia ini."


"Lho Aish belum berangkat sekolah?" Sebuah tepukan ringan di bahunya mengalihkan fokus Aish.


Aish melihat ada seorang Bibi muda yang menyapa. Orangnya sangat ramah jadi Aish tidak terlalu canggung saat bertukar kata dengannya.


Tapi aneh, mengapa dia merasa jika ada seseorang yang sedang memperhatikannya?

__ADS_1


Bingung, Ai lantas menoleh ke belakang dan bertemu pandang dengan tatapan mata habib. Mata mereka bertemu di udara, beberapa detik kemudian sebuah senyuman lembut terbentuk di wajah habib. Habib mengangguk kepada Aish sebagai sapaan sopan sebelum menarik pandangannya untuk berbicara dengan kerumunan lagi.


Deg


Deg


Deg


Telinga Aish berdengung nyaring mendengarkan suara jantungnya yang berdegup kencang. Perasaan ini datang lagi...


Sebuah perasaan manis yang penuh akan harapan. Kenapa?


Padahal habib hanya tersenyum singkat kepadanya tapi dampaknya sudah sebesar ini.


"Masya Allah, habib Thalib orangnya sopan dan ramah, dia juga memiliki wajah yang tampan jadi wajar rasanya melihat para Ibu-ibu berlomba menjodohkan putri mereka." Kata Bibi itu.


"Habib Thalib?" Gumam Aish yang masih bisa didengar oleh Bibi itu.


"Iya, Nak. Habib Thalib adalah seorang Sayyid, keturunan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam yang dijaga baik dengan ilmu. Karena memiliki ilmu yang tinggi dan luas, semua orang sekarang suka memanggilnya habib. Padahal habib Thalib sendiri tidak mau menerima gelar ini karena terlalu berat baginya. Masya Allah, dia tidak hanya sopan dan berilmu tapi juga memiliki hati yang rendah." Jelas Bibi itu tidak bisa menyembunyikan nada kekaguman di wajahnya.


Sayangnya dia memiliki seorang putra di dalam rumah tangganya, jika tidak, maka mungkin dia juga akan seperti para Ibu-ibu itu. Berlomba-lomba mencalonkan putri masing-masing kepada habib Thalib.


"Habib Thalib..."


Sementara Bibi itu sibuk dengan pikirannya, Aish justru sama sekali tidak mengerti penjelasan yang Bibi katakan tadi. Gelar atau pun garis keturunan yang mulia, Aish tidak terlalu memikirkannya.


"Eh, Nak Aish tidak berangkat sekolah?" Ingat Bibi itu menyadarkan Aish.

__ADS_1


"Oh ya, ini aku mau berangkat. Kalau begitu Aish pergi dulu ya, Bibi. Dah!"


Aish melirik habib Thalib singkat sebelum membawa langkahnya menjauh dari komplek. Niat hati ingin membeli bubur terpaksa dia urungkan karena harus segera berangkat ke sekolah.


__ADS_2