
"Serius Aish gak mau ngelakuin itu sama kamu?" Gisel berseru kaget setelah mendengar keluhan Iyon.
Iyon mengangguk lesu. Semalam Gisel memberinya ide agar maju ke tahap 'itu' dengan Aish berhubung hubungan mereka sudah lama terjalin. Dan menurut Gisel, Aish harusnya tidak keberatan karena Iyon adalah pacarnya.
Ide ini langsung diterima oleh Iyon dan dia memiliki kepercayaan diri yang tinggi karena selama ini hubungannya dengan Aish bisa dibilang stabil.
Tapi siapa yang sangka jika Aish segera menepis ide itu jauh-jauh dan membuat Iyon sangat malu.
"Kok Aish gitu, sih? Padahal kalian berdua udah lama lho pacaran tapi belum bisa ngapa-ngapain. Menurut kamu ini agak aneh gak, sih?"
Iyon tidak langsung menjawab tapi ekspresi wajahnya menjadi muram.
Gisel semakin menambah bahan bakar.
"Sebagai satu-satunya sahabat Aish, aku gak mau menyembunyikan sesuatu sama kamu, Yon."
"Maksud kamu?"
Gisel berpura-pura tidak enak,"Ini... Aish mungkin gak punya perasaan apa-apa sama kamu. Soalnya kalau ada mana mungkin dia nolak kamu."
Iyon tersenyum tipis,"Aish bukannya nolak tapi dia memiliki prinsip. Sebelum aku jadi suaminya, dia gak akan izinin aku nyentuh dia. Jadi, tunggu halal aja."
Iyon tidak terlalu percaya diri karena dialah yang memaksa Aish menjadi pacarnya. Tapi sudah dua tahun mereka bersama dan Iyon tidak akan percaya bila Aish tidak memiliki perasaan sedikit saja untuknya.
__ADS_1
"Oh," Gisel mengamati ekspresi Iyon dengan hati-hati.
"Mungkin itu hanya alasan dia aja untuk nolak kamu. Lihat saja sikapnya selama ini ke kamu, apa kamu pernah diperhatikan dengan baik sama Aish sebagai seorang pacar? Apa kalian berdua pernah ciuman di sekolah atau di luar sekolah?" Gisel memojokkan.
Iyon tidak menjawab tapi Gisel sudah tahu jawabannya. Diam-diam dia merutuki kebodohan Aish karena tidak bisa memanjakan Iyon dengan baik. Padahal Iyon memiliki semuanya, dia tidak kekurangan apapun sehingga tidak akan rugi menjalani hubungan dengannya.
"Sebenarnya," Gisel berdehem ringan. Wajahnya yang putih tanpa sadar memerah karena malu.
"Kalau kamu mau masih ada wanita yang mau mengorbankan semuanya untuk kamu." Katanya pelan dengan implikasi tertentu.
Tapi Iyon tentu saja mengerti.
...🌪️🌪️🌪️...
Tapi ini berbeda untuk Aish. Keinginannya ini sangat kuat sampai-sampai jam tangannya mulai berkarat karena sering dipelototi.
"Yo, mau bolos lagi ya, lo?" Suara menyebalkan Dira berhasil mengusik kedamaian Aish.
"Gak ada kerjasama lagi." Kata Aish to the point.
Wajah Dira langsung menjadi jelek. Dia memutar bola matanya jelas tidak memiliki niat untuk bekerjasama dengan Aish.
"Lha, yang mau kerjasama sama lo emangnya siapa? Ogah gue mah." Deliknya jengkel.
__ADS_1
Aish tidak perduli dan tidak mau menanggapi. Untungnya hari ini suasana hatinya sedang baik sehingga dia tidak menganggap Dira terlalu 'mengganggu'.
"Pacar lo..." Kata Dira tiba-tiba.
Aish berkata,"Kenapa? Lo suka?"
Dira gatal ingin memukul wajah cantik Aish. Apa dia pikir laki-laki di dunia ini hanya Iyon?
"Enggak selevel, terlalu rendah."
"Cih," Dengus Aish.
"Lo tahu... laki-laki gak selamanya bisa dipercaya jadi lo harus hati-hati." Kata Dira agak aneh untuk Aish.
"Maksud lo apa?" Aish tidak mengerti.
Dira tidak mau mengatakannya lagi. Yang pasti dia sudah melakukan bagiannya dan salahkan Aish sendiri jika tidak mengerti perkataannya. Toh, dia sudah mengingatkan agar jangan terlalu mempercayai Iyon...Hem, laki-laki memang sulit dipercaya.
"Pikirin sendiri." Dan dengan begitu dia langsung pergi meninggalkan Aish.
Aish menatap punggung Dira dengan ekspresi bertanya-tanya. Agak heran sebenarnya melihat Dira tiba-tiba berbicara dengan nada 'cukup' ramah hari ini karena biasanya dia selalu berbicara dengan nada yang sangat menjengkelkan.
"Aneh," Bisiknya sambil memandangi kepergian Dira. Tapi dia tiba-tiba teringat dengan ucapan Dira barusan,"Apa maksudnya Iyon tidak bisa dipercaya?"
__ADS_1