Wanita Surga Bidadari Dunia

Wanita Surga Bidadari Dunia
Bab 10.3


__ADS_3

"Cukup, jangan ribut lagi, ini sudah larut." Nenek lalu beralih menatap Ayah yang sudah lama tidak mengucapkan sepatah katapun dari mulutnya.


"Nak, segera kemasi barang-barang Aisha. Malam ini kita akan mengirimnya ke pondok pesantren."


Begitu larut?


Aish tidak bisa menahan kejutan di dalam matanya.


Tapi Nenek sengaja tidak melihatnya. Dia jelas-jelas menghindari tatapan bertanya Aish.


"Bu, sangat cepat?" Ayah bertanya linglung.


Emosinya sangat rumit malam ini setelah mendengar kata-kata Aish. Dan hatinya semakin tenggelam tatkala melihat cahaya redup di jaga putri pertamanya...


.... benar, putri yang tanpa sadar dia lupakan keberadaannya ini.


Kata-kata penuh kekecewaan itu, Ayah tidak mungkin bisa berpura-pura tuli untuk tidak mendengarnya.

__ADS_1


Dia merasa sangat malu pada putrinya sendiri karena seperti yang putrinya katakan tadi, dialah orang yang paling mengecewakan di sini. Entah itu sebagai seorang suami untuk istri pertamanya ataupun sebagai seorang Ayah untuk putri pertamanya, dia telah mengecewakan mereka berdua.


"Lebih cepat, lebih baik. Kirim dia ke pondok pesantren malam ini." Perintah Nenek kukuh.


Aish menundukkan kepalanya kosong. Dia berdiri di tempat tanpa bergerak sedikitpun. Diam tanpa suara melihat Paman dan Bibinya secara gotong royong membawa barang-barangnya ke bawah.


Memindahkannya ke bagasi mobil yang telah disiapkan entah sejak kapan.


Aku tahu bila suatu hari mereka akan membuang ku. Aku tahu akan tetapi aku masih belum siap untuk menerimanya...ya Allah, hatiku sakit...hatiku sakit ya Allah! Batin Aish sedih mengeluh pada sang maha kuasa.


Melihat putrinya terdiam, Ayah ingin datang menghiburnya tapi langkahnya langsung tertahan ketika Bunda memintanya pergi ke kamar Aira. Bunda bilang Aira ingin berbicara dengannya.


...🌪️🌪️🌪️...


Sekarang di sinilah Aish. Duduk di kursi paling belakang mobil sendirian. Kedua mata basahnya tidak pernah berpaling dari pemandangan di luar sana. Entah apa yang dia pikirkan saat ini tapi air mata terus menerus mengalir dari sudut matanya.


Di dalam mobil, semua orang bercengkrama dengan harmonis sekalipun malam sudah sangat larut. Mereka memiliki banyak topik untuk dibicarakan dan Aish sama sekali tidak memperdulikan mereka semua.

__ADS_1


Dia merasa lelah- ah, lebih tepatnya dia sangat lelah dengan semua ini. Dia kecewa, sedih, terluka dan patah hati. Semua rasa sakit ini menyatu di dalam dadanya hingga bernafas saja rasanya sangat tidak nyaman. Dia benci tapi apa yang harus dia lakukan?


Dia sudah dibuang, di usir secara halus, dan tidak dibutuhkan lagi di dalam keluarga mereka. Yah, dia akhirnya dibuang selayaknya sampah yang sangat menggangu penglihatan.


3 jam kemudian mereka akhirnya sampai di depan sebuah bangunan besar. Di depan bangunan tersebut ada sebuah tinggi dengan ukiran mencolok di depannya.


Tertulis,


PONDOK PESANTREN ABU HURAIRAH


Tempat yang dipenuhi oleh para pencari ilmu dan pengejar ridho Allah. Tempat yang mendapatkan julukan penjara suci karena setiap orang yang menetap di tempat ini langsung terikat oleh aturan-aturan ketat. Di dalamnya mereka semua ditekan untuk menimba ilmu, mengembangkan akhlak yang baik dan adab yang mumpuni sehingga tidak heran lulusan pondok pesantren biasanya sangat dihormati oleh masyarakat luar.


"Penjara suci..." Gumam Aish menatap linglung bangunan besar nan luas di depannya.


"Aku akan mencari cara untuk melarikan diri dari tempat ini dan pergi memulai hidup baru di luar kota, kota yang sangat jauh dari jangkauan mereka...agar aku bisa hidup dengan tenang. Bisa gila aku jika menetap di tempat ini!" Gumam Aish berjanji kepada dirinya sendiri.


Di sekolah saja dia malas belajar apalagi di tempat ini?

__ADS_1


Di tambah dia tidak suka pakaian tertutup, sok bercadar pula, jadi mana mungkin dia bisa betah hidup di tempat ini?!


__ADS_2