
Tok
Tok
Tok
Samar, aku mendengar suara ketukan pintu dari luar. Tidurku terganggu dan aku juga tidak mau bangun jadi aku mengabaikan begitu saja ketukan pintu di luar. Biarkan saja Aira menunggu sampai lumutan di luar sana karena aku tidak akan pernah meladeninya-
"Allahuakbar... Allahuakbar..."
Tunggu!
Kelopak mataku spontan melebar kaget. Ini...ini bukan suara adzan dari kompleks perumahan ku. Suara adzan ini lebih merdu di dalam telingaku dan suaranya juga sangat asing di dalam pendengaran ku, eh?!
"Bodoh! Bodoh! Bodoh! Dasar bodoh! Kamu kan udah dibuang sama mereka semalam ke tempat aneh ini!" Gerutu ku heran.
Bagaimana bisa aku lupa jika mereka semua sudah menendang ku keluar dari rumah, huh!
Tok
Tok
__ADS_1
Tok
"Assalamualaikum?"
Ketukan itu terdengar lagi. Tapi kaki ini diikuti oleh suara lembut perempuan.
Aku menghela nafas berat sangat tidak puas dengan gangguan ini karena aku masih belum cukup tidur!
Tapi ini adalah rumah Umi dan Abah, aku tidak boleh bersikap kurang ajar sebab mereka adalah orang yang sangat baik.
"Waalaikumussalam, tunggu sebentar!" Aku dengan ogah-ogahan turun dari atas kasur.
Berjalan tanpa alas kaki dan membuka pintu kamar. Di luar sudah berdiri seorang gadis seumuran ku. Matanya bulat mirip Umi dan hidungnya mancung mirip Abah, sekilas aku menyimpulkan bila gadis ini adalah putri Umi dan Abah.
Tapi sikapnya tidak sombong ataupun sok akrab seperti Gisel. Dia adalah gadis yang masuk akal.
"Tidak, tapi aku belum cukup tidur." Kataku blak-blakan tanpa menjawab salamnya.
Toh, aku sudah menjawab salamnya yang pertama, kan?
Mendengar jawaban ku, gadis itu lantas tersenyum aneh. Hem, apa yang aneh? Gadis ini sebenarnya tidak buruk tapi memiliki kesan aneh.
__ADS_1
"Aku minta maaf mengganggu tidurmu tapi kamu harus tetap bangun untuk melaksanakan sholat subuh. Kamu belum sholat subuh, kan?"
Sholat subuh? Hanya karena ini?
Aku spontan memutar bola mataku malas. Waktu istirahat ku benar-benar terganggu karena panggilan sholat ini?
Bukankah ini hanya dua rakaat saja jadi tidak apa-apa melewatkannya karena istirahat tubuhku jauh lebih penting. Lagipula aku juga bukan orang yang sok alim sehingga melewatkan beberapa sholat bukanlah masalah besar untukku.
"Aku belum sholat."
"Nah, karena kamu belum sholat, bagaimana kalau kamu mengikuti keluar untuk mengambil air wudhu. Lalu kita bisa sholat bersama-sama dengan Umi." Kata gadis itu kepadaku.
Aku tidak mau pergi tapi aku malu dengan Umi. Dia adalah orang yang baik dan aku tidak enak untuk menolaknya.
"Kamu tidak bisa menunda sholat apalagi menolaknya karena sholat adalah penghubung antara kita dengan Allah. Bila penghubung antara kita dengan Allah terputus, lalu bagaimana kita bisa mendapatkan ridho nya?" Gadis itu mulai menceramahi ku, sungguh menyebalkan.
Padahal kan aku belum mengatakan apa-apa tapi dia sudah menceramahi ku walaupun yah apa yang dia katakan memang benar bila aku agak enggan untuk pergi sholat.
"Aku ingin sholat di kamar saja.." Kataku mencari alasan.
"Kamu tidak bisa melakukan itu karena sekarang sudah resmi menjadi santriwati di pondok pesantren Abu Hurairah. Apapun yang kamu lakukan harus sesuai dengan aturan pondok. Seperti kasus ini misalnya. Kamu tidur di rumah Umi dan Abah, maka kamu juga harus ikut sholat berjamaah dengan Umi. Jika tidak kamu akan mendapatkan pengurangan poin dari petugas kedisiplinan asrama putri." Celotehnya membuatku hampir gila.
__ADS_1
Tidak!
Bukankah gadis ini gila? Aku baru saja sampai di sini pukul 3 pagi dan harus dibangunkan untuk sholat pukul 5 subuh?!