
Aish mendengus jengkel. Tanpa rasa takut sedikitpun dia langsung masuk ke dalam rumah dan mengabaikan suara protes bibinya itu.
"Lihat, kan? Orang tua sedang berbicara dia malah nyelonong masuk ke dalam rumah. Perilakunya sangat kurang ajar! Kenapa dia tidak bisa belajar dari Aira? Aira sangat pandai dalam urusan agama sehingga dia akhlaknya terjaga dengan baik. Sudah begitu, dia juga menggunakan jilbab dan ca-"
"Bibi sendiri bagaimana?" Tanya Aish muram tidak tahan lagi dibanding-bandingkan dengan Aira.
Padahal semua orang paling tahu jika hubungannya dengan Aira sudah sangat buruk tapi mengapa mereka masih mengaitkannya dengan gadis bermuka dua itu?
Aish tidak terima dan semakin tidak menyukai keluarga Ayah. Karena sama seperti Ayah, di mata mereka hanya selalu ada Aira.
"Maksud kamu apa?" Situasi tiba-tiba menjadi menegangkan.
Bibi menatap Aira sambil berkacak pinggang.
__ADS_1
Aira tidak takut membalas.
"Bibi selalu menasehati ku untuk mengikuti Aira. Ikuti akhlaknya lah, ikuti dia menggunakan jilbab lah, atau menggunakan cadar. Lalu bagaimana dengan bibi sendiri? Kenapa bibi tidak melakukannya terlebih dahulu daripada memberikan ceramah kepada orang lain. Bila bibi bisa menggunakan jilbab apalagi sampai menggunakan cadar dan memiliki sikap yang baik terhadap keponakan, maka aku juga akan menggunakan jilbab dan cadar. Tapi lihat bibi sendiri? Memberikan ceramah dimana-mana namun diri sendiri tidak mengambil tindakan apa-apa. Bibi ku yang cantik, guru agama di sekolahku pernah berkata jika seseorang hanya bisa menasehati orang lain tapi dia sendiri tidak mau melakukan nasehatnya, maka dia sungguh orang yang berdosa! Jika dilihat dari konteks ini bibi adalah orang yang berdosa karena hanya bisa memberikan ku nasehat namun bibi sendiri tidak melakukannya." Ucap Aish membuat bibi sangat marah.
Dada bibi rasanya terbakar saking marahnya. Dia tidak pernah menyangka jika Aish akan langsung melemparinya sebuah kata-kata balasan- sulit rasanya mengelak.
"Dasar kurang ajar! Aku sudah tua dan tidak harus menggunakan jilbab! Sedangkan kamu masih anak gadis dan perlu menutup aurat untuk kebaikan mu sendiri!"
"Tua? Bibi, itu tidak bisa menjadi alasan. Mungkin bila bibi setua nenek, itu tidak akan menjadi masalah karena nenek lebih banyak menghabiskan waktu di dalam rumah. Sedangkan bibi? Bibi memang tidak muda lagi tapi masih bugar. Bibi juga sangat suka menghabiskan waktu diluar rumah jadi alangkah baiknya bibi menggunakan jilbab hehehe... Tapi..tapi jika bibi bersikeras menggunakan alasan tua, maka aku sarankan bibi sebaiknya menutup aurat dan perbanyak berbuat baik karena badan bibi sudah bau tanah-"
"Aisha Rumaisha!" Teriak Ayah marah.
Aish sangat terkejut dan langsung menutup rapat mulutnya. Dia tahu hari ini dia banyak bicara tapi dia melakukan itu karena sungguh tidak tahan. Lagipula apa yang dia katakan juga benar, kok. Orang yang memiliki otak pasti mengerti dan orang yang tidak mengerti adalah orang yang paling bodong. Aish bahkan curiga jika orang itu menempatkan otaknya di dengkul.
__ADS_1
"Kakak, Aish sudah sangat keterlaluan!" Keluh bibi sangat malu.
Dia dipermalukan oleh Aish di depan anggota keluarga, betapa malunya dia!
"Bibi lah yang memulainya lebih dulu. Aku hanya membalas apa yang bibi katakan." Kata Aish enggan mengalah.
Dia memang segan terhadap Ayahnya tapi bukan berarti dia akan lemah dicurangi oleh mereka. Jadi, dia akan melawan selama dia mau.
"Dasar kurang ajar, kamu masih berani berbicara?!" Karena ada Ayah, bibi jauh lebih percaya diri melawan Aish.
Aish berpura-pura polos.
"Bibi bagaimana mungkin? Apa aku salah mengatakan semua itu? Aku yakin tidak mengatakan kata-kata kasar atau mengumpat, jadi bagaimana mungkin aku bisa disebut kurang ajar?" Ah, dia sejujurnya merasa dianiaya.
__ADS_1