
Hati Aish sudah terlalu lelah menerima rasa sakit dari keluarganya. Dia pikir hatinya sudah mati rasa terhadap semua rasa sakit dan sudah kebal terhadap rasa sakit tapi ternyata perkiraannya salah karena nyatanya malam ini dia sangat kesakitan.
"Jawab, Ayah! Kenapa kamu diam saja!" Bentak Ayah sekali lagi.
Aish menundukkan kepalanya sendu, tersenyum tipis, dia kemudian menjawab,"Menurut Ayah kenapa lagi aku bisa melakukan itu? Tentu saja itu karena aku membenci benih haram yang Ayah dan wanita itu hasilkan-"
Plak
"Dasar kurang ajar!" Tampar Nenek marah.
Sebagai seorang Nenek dia tidak membedakan antara Aish dan Aira karena menurutnya mereka berdua sama-sama cucunya. Tapi sikap dan tindakan Aish baru-baru ini telah membuatnya kecewa berkali-kali sehingga kesukaannya Aish semakin berkurang.
__ADS_1
Lalu puncaknya malam ini.
Sekali lagi ditampar, air mata Aish yang keluar semakin deras, dia tidak ingin menangis sebenarnya tapi rasa sakit dihatinya sungguh sangat menyakitkan sampai-sampai bernafas saja rasanya menyakitkan.
"Bukankah apa yang aku katakan benar?" Tanya Aish memprovokasi semua orang.
"Karena dia dan ibunya, Mamaku jatuh sakit dan depresi, tapi kalian menutup mata dengan kondisi Mamaku dan secara terang-terangan menjadikan mereka sebagai anggota keluarga kalian. Kalian hidup bahagia, harmonis, dan damai, tapi Mamaku di luar sana berjuang untuk rasa sakit fisik dan batinnya. Dia berjuang sendirian! Dia berjuang sendirian tapi apa kalian semua pernah perduli! Apa kalian semua pernah memikirkan apa yang dia rasakan?! Tidak! Tidak! Tidak! Kalian semua tidak pernah memikirkannya! Kalian semua hanya diam saja melihatnya seperti itu. Bukannya meminta maaf kepada Mamaku tapi kalian malah semakin mendorongnya ke kurang kehancuran. Hidup Mamaku hancur sementara kalian di sini hidup dengan damai dan bersenang-senang-"
"Aisha Rumaisha!" Tegur Ayah marah.
"Aisha Rumaisha-"
__ADS_1
"Apa?!" Teriak Aish tidak kuasa menahan kesedihannya lagi.
Dia seolah berada di atas ranjang pesakitan, terus menerus mendapatkan luka tajam dari benda tajam tak kasat mata, ingin melarikan diri kedua kakinya tak mampu karena ada tangan-tangan aneh yang menekannya terus menerus. Namun jika dia tidak melarikan diri maka dia akan terus menerus dilukai oleh benda tajam tersebut. Langkahnya jadi serba salah dan dia sangat kelelahan memikirkannya.
"Katakan jawaban apa yang ingin Ayah dengar dariku?! Jawaban apa yang ingin kalian semua dengar dariku?!"
Apa yang harus Aish katakan?
"Tidak ada gunanya, bukan? Semua yang Aish katakan akan tetap salah di mata dan telinga kalian jadi kenapa aku harus mengatakannya?!" Karena inilah faktanya.
Dia tidak memiliki tempat di rumah ini maka suaranya akan selalu disalahartikan oleh mereka semua. Padahal dia butuh kasih sayang, dia butuh cinta keluarga, dia butuh kehangatan keluarga tapi tidak! Tapi tidak ada yang mau memberikan semua itu kepadanya.
__ADS_1
Dia selalu seperti ini, kesepian dan dicap sebagai sebuah kegagalan orang tua dalam mendidik anaknya.
"Aisha...kamu...kamu sangat mengecewakan Ayah, Aish!"