
"Aish, bagaimana kabar mu, Nak?" Tanya Nenek sambil mengambil tangan cucunya untuk dipegang.
Aish sedikit tidak biasa dan tanpa sadar bergerak menghindari tangan Nenek. Sungguh, Aish tidak sengaja melakukannya. Penghindaran nya tadi adalah murni karena reaksi fisiologis yang tidak suka terlalu sok akrab dengan orang. Dengan keluarganya saja dia seperti ini apalagi dengan orang lain yang memang sudah sangat asing.
"Maaf, Nek. Aku bau keringat karena baru pulang dari sekolah." Kata Aish membuat alasan.
Senyuman Nenek awalnya membeku. Beberapa detik kemudian dia kembali tersenyum normal tapi tidak lebar seperti sebelumnya.
Nenek dengan sengaja menyapu pandangannya menatap Ayah dan keluarga Ayah dengan ekspresi tidak puas yang tidak disamarkan.
"Nenek dan Kakek kok tumben banget datang ke sini, kalau Aish boleh tahu ada apa, yah?" Aish berpura-pura tidak melihat sikap permusuhan Nenek kepada mereka.
Diingatkan tentang maksud kedatangannya, Nenek dan Kakek lalu saling memandang, mereka merasa tidak enak kepada Aish dan memutuskan untuk menyembunyikannya dulu.
__ADS_1
"Bukan apa-apa, Nak. Kami hanya merindukan kamu saja. Oh ya, Kakek dan Nenek telah menyiapkan hadiah untukmu di dalam kamar jadi jangan lupa digunakan yah."
Aish mengangguk ringan. Setelah berbicara singkat dengan Nenek, Aish memutuskan untuk masuk dan naik ke kamarnya. Ketika masuk ke dalam rumah, punggungnya seolah mati rasa karena ditatap sedemikian rupa oleh beberapa gelintir orang.
Aish tahu mereka pasti ingin bertanya bagaimana dia bisa pulang sepagi ini atau mengapa dia pulang pagi sedangkan putri kesayangan mereka tidak?
Hah, sayang sekali. Aish tidak akan memberitahu mereka.
Dia membuka pintu kamar. Melempar tas ke sembarang arah dan menutup pintu kamar dengan dorongan kaki kanan. Setelah itu dia langsung merebahkan diri di atas kasur dengan kedua mata terpejam. Beberapa detik kemudian dia mengangkat kelopak matanya, melihat langit-langit kamarnya yang monoton untuk kesekian kalinya. Lalu pikirannya teralihkan ketika melihat dua kotak hadiah di atas meja rias.
Penasaran, dia menggunakan kaki kirinya untuk menggeser kotak tersebut ke pinggir meja rias. Setelah mencapai pinggir, kaki yang satunya lagi terangkat dan dengan bekerja di kedua kakinya bisa membawa kotak itu kepadanya.
"Ini apaan, yah?" Dia menaruh kotak itu di atas perutnya.
__ADS_1
"Tidak terlalu berat dan tidak terlalu ringan, isinya mungkin tas atau baju." Gumam Aish menebak.
Tapi alangkah terkejut dia ketika membuka kotak tersebut karena tidak sesuai harapannya. Apalagi ketika melihatnya dengan benar, rahang Aish langsung jatuh saking shock nya.
"Ini...ini mukena?" Tanya Aish kosong sambil merentangkan kain hijau muda yang dia ambil dari dalam kotak pertama.
"****, ini beneran mukena!" Amuk Aish sambil melemparkan mukena itu ke lantai.
"Mukena lebaran aja masih belum kepakai eh udah ada mukena baru aja. Nenek tidak bisa memilih hadiah dengan betul." Keluh Aish membuka kotak yang lain.
Hasilnya kurang lebih sama karena di dalam kotak itu ada satu set gamis cantik yang memiliki kualitas kain bagus. Aish benar-benar tidak bisa menerimanya, jadi dia melemparnya ke sembarangan arah.
Kesal, dia lalu bangun dari tempat tidur. Berjalan beberapa langkah ke depan jendela kamar yang masih tertutupi gorden. Aish menyeret gorden menjauh sehingga sinar matahari siang bisa masuk ke dalam. Entah apa yang dia pikirkan saat ini karena dia hanya diam memandangi kubah musholla di depan rumah. Bingung, Aish merendahkan kepalanya bertumpu pada sisi jendela. Perlahan suara isak tangis ringan terdengar di dalam kamar ini. Dia terisak menangis dalam diam. Hatinya terasa perih dan sesak, setiap kali mengambil nafas rasanya sangat menyakitkan. Tapi apa yang harus dia lakukan?
__ADS_1