
Ditambah lagi kedua matanya yang berlinang air mata, sangat sulit bagi mereka untuk tidak mempercayainya. Bila cerita ini keluar dari mulut orang lain, mereka pasti akan meragukan 'kesalahan kecil' itu yang berimbas sampai dikeluarkan dari sekolah. Tapi ini Aira yang berbicara. Dan kesalahan kecil akan bermakna sebagai sebuah kesalahan kecil di benak mereka semua.
"Aish...anak ini, pantas saja dia pulang pagi! Jadi ini alasannya!" Kata salah satu Bibi kian tidak puas terhadap keponakannya yang satu ini.
Nenek dan Bunda juga tidak menyangka bila Aish akan melangkah sejauh ini. Menyebarkan aib orang lain hingga membuat orang itu harus putus sekolah bukanlah sebuah perbuatan yang baik.
"Dia pasti melebih-lebihkan kesalahan orang lain sehingga imbasnya orang itu harus putus sekolah. Jika tidak? Sekolah tidak mungkin mengeluarkan mereka bila kesalahannya kecil." Kata Bibi yang lain geram.
Emosi orang rumah kini telah digerakkan oleh lidah lihai Aira.
Hum, siapa suruh Kak Aish bertindak genit ke habib Thalib. Lihat saja nanti, setelah pulang ke rumah, Kak Aish tidak akan pernah memiliki malam baik malam ini. Nah, ini adalah hadiah untuk saat ini. Lain kali? Hahaha...siapa yang tahu! Batin Aira diam-diam tersenyum menang dibalik cadarnya.
...🌪️🌪️🌪️...
Aish entah mengapa merasa malu berjalan di samping habib Khalid. Meskipun jarak di antara mereka berdua agak jauh dan terkesan menghindar, tapi debaran jantung dihatinya sama sekali tidak mempermasalahkannya. Dia sangat senang, faktanya. Iris matanya tidak bisa untuk tidak mencuri pandang ke arah habib Khalid. Ditambah lagi dengan tatapan iri para gadis yang mereka lewati, Aish diam-diam bersorak di dalam hatinya karena dia adalah satu-satunya gadis yang bisa berjalan dengan habib Khalid. Siapa Aira dan Nabila? Tak satupun diantara mereka berdua yang memiliki keberuntungan sebaik dirinya.
"Assalamualaikum habib Thalib?"
__ADS_1
"Habib Thalib mau kemana?"
"Habib Thalib mau saya anterin pakai motor?"
Di sepanjang jalan habib Khalid mendapatkan sapaan ramah dari para warga di kompleks perumahan ini. Dan di sepanjang perjalanan ini pula iris mata Aish tidak pernah meninggalkan sosok habib Khalid. Dia memperhatikan interaksinya dengan orang-orang itu. Senyuman sopan dan lembut tidak tidak pernah menghilangkan dari sudut bibirnya. Membuat Aish bertanya-tanya apakah wajah itu tidak lelah menarik garis senyuman?
Dari senyuman ini pula Aish belajar bahwa semua orang di mata habib Khalid adalah sama. Dia tidak akan pernah pilih kasih untuk memberikan senyuman cemerlangnya.
Sisi ini membuat Aish lega juga sedih. Senang sekali bertemu dengan orang yang sangat bijak dan memiliki toleransi yang tinggi, tapi dia sedih karena ternyata dia tidak sepenting itu di mata habib Khalid.
Ya ampun Aish! Aish! Apa sih yang kamu pikirkan? Kak Khalid adalah orang yang baik dan alim. Tipe wanita yang dia suka pasti juga alim. Heh, kamu mana masuk ke dalam matanya. Batin Aish asam.
Melihat gadis ini Aish mendengus tidak senang karena pernah salah paham. Dan hebatnya lagi Nabila waktu itu tidak menyangkal kesalahpahaman Aish. Seolah dia menyetujui apa yang Aish katakan.
"Assalamualaikum habib Thalib?" Sapa Nabila ramah dari jarak beberapa meter tempat mereka berdiri.
Aish kian tak senang karena Nabila mengabaikannya.
__ADS_1
"Waalaikumussalam." Habib Khalid membalas.
Jadi sebelum Nabila berbicara lagi Aish langsung menarik perhatian habib Khalid.
"Lho, kok Kak Khalid sopan banget sama pacar sendiri? Enggak mau deketan nih sama pacar sendiri mumpung ada di sini?"
Habib Khalid melirik Aish singkat. Sekilas dia langsung tahu apa tujuan dari Aish berbicara begitu kepadanya. Tidak ada sedikitpun ekspresi marah atau ketidaknyamanan di wajah tampannya yang meneduhkan.
"Aku tidak berpacaran dengan siapapun dan aku juga tidak ingin berpacaran." Habib Khalid kembali menegaskan.
Aish sangat senang mendengarnya lagi. Apalagi ketika habib Khalid mengatakannya secara langsung didepan Nabila, kian senang saja Aish rasanya.
"Oh, aku kira Kak Khalid pacaran dengan seseorang. Ternyata enggak, yah." Sindir Aish tidak takut.
Nabila sangat malu. Wajah cantiknya memerah dalam tunduk. Dia tahu Aish sedang menyindirnya. Memang hari itu dia tidak menyangkalnya karena memiliki harapan besar bila habib Khalid juga menyukainya. Tapi suka bukan berarti pacaran, kan?
"Ini salah paham, Aish. Habib Thalib dan aku tidak pernah berpacaran."
__ADS_1
Kata Nabila membuat pembelaan. Wajahnya yang merah mengintip ke arah habib Khalid untuk melihat reaksinya. Kecewa, habib Khalid tidak menunjukkan perubahan apapun di wajahnya.
"Kak Khalid sudah mengatakannya kepadaku jadi kamu tidak perlu mengatakannya lagi." Kata Aish dengan dada membusung tinggi.