
Aish ikut berbaur dengan teman-teman sekolahnya di antara kerumunan yang memadati gedung dua lantai ini. Acara ini memang sengaja diselenggarakan untuk anak-anak sekolah Aish tapi walaupun begitu dia masih bisa melihat beberapa anak sekolah luar ikut berbaur.
Saat melewati mereka kebetulan topik pembahasan yang mereka bicarakan adalah tentang Iyon dan Gisel yang baru-baru ini santer dibicarakan banyak sekolah. Menjadi bahan gosip beberapa sekolah dan menjadi bahan olok-olokan dari sekolah musuh. Apa pun yang terjadi diluar Aish tidak perduli karena itu bukanlah urusannya.
Menatap sekelilingnya, dia memilih untuk berdiri di sudut ruangan. Diam-diam mengamati teman-teman sekolahnya berkumpul dengan gelas jus di tangan masingmasing sudah seperti adegan drama saja. Di antara kerumunan yang padat Aish dapat melihat dengan jelas tokoh utama pesta malam ini. Ya, siapa lagi kalau bukan Aira. Dia dikelilingi anak-anak sekolah yang memiliki predikat cerdas dan berprestasi, berlomba-lomba untuk berbicara dengannya atau menjalin hubungan pertemanan dengannya.
Di samping Aira, ada salah satu guru muda yang selalu senantiasa memperhatikan Aira. Guru itu pasti menyukai Aira bila dilihat dari tatapan matanya yang penuh akan rasa kagum.
Melihat pemandangan menjijikkan ini, Aish mendengus jijik, memutar bola matanya malas agaknya sudah bosan menonton 'citra' baik Aira yang di setting malam ini.
"Hei, Aish?" Aish menoleh.
Orang yang menyapanya adalah Pak Roni, guru BK yang menangani kasusnya beberapa hari yang lalu.
"Pak Roni...ada apa ya, Pak?" Aish bergerak menyamping.
__ADS_1
Pak Roni memang masih lajang dan tampangnya juga cukup tampan, tapi Aish sama sekali tidak tertarik dengannya apalagi pekerjaannya hanyalah seorang guru. Di dalam kepala Aish kesan guru tidak terlalu bagus karena pengalamannya sekolah selama beberapa tahun ini.
"Kamu sendirian jadi aku datang menghampiri mu." Kata Pak Roni tidak lagi menggunakan nada formal seperti di sekolah.
Aish tersenyum tipis, tidak tertarik.
"Aku ingin sendirian, Pak, makanya diam di sini." Kata Aish menyiratkan pengusiran.
Pak Roni tidak melihat maksudnya yang tersirat dan dengan bodohnya bertanya.
Pak Roni sudah menyukai Aish sejak awal bertemu. Meskipun Aish memberikan kesan gadis yang buruk dan suka membuat masalah di sekolah, namun bagi Pak Roni dia masih masuk ke dalam tipe yang disukainya. Aish cantik dan semua orang di sekolah mengakuinya. Hanya saja Aish tidak mudah didekati dan acuh tak acuh kepada laki-laki yang mendekatinya. Di sekolah, satu-satunya laki-laki yang berhasil meluluhkan Aish adalah Iyon. Dan karena Iyon lah Pak Roni tidak berani mendekati Aish.
Tapi sekarang berbeda. Aish sudah jomblo maka dia mengambil kesempatan ini untuk mengisi hati Aish yang kosong.
"Maaf Pak kalau aku jujur. Tapi kedatangan Pak Roni di sini benar-benar membuat aku terganggu. Kalau bisa Pak Roni jaga jarak sama aku dulu deh." Ucap Aish blak-blakan.
__ADS_1
Pak Roni yang patah hati,"...." Nah, Aish selalu bersikap kejam.
"Oh." Pak Roni enggan.
Aish menegaskan sekali lagi.
"Aku mau sendiri, Pak."
Kalau Pak Roni di sini dia tidak bisa menjalankan rencananya dengan benar. Takutnya apa yang dia lakukan masuk ke mata Pak Roni. Jadi demi kelancaran aksinya dia memutuskan untuk menjaga jarak dari Pak Roni.
"Baiklah, aku tahu kamu butuh waktu untuk sendirian. Nanti kalau kamu butuh sesuatu, jangan sungkan untuk menghubungi aku."
Aish tidak menjawab apa-apa dan hanya merespon dengan senyuman kecil saja. Jujur saja Aish tidak membutuhkan bantuan darinya. Dan bila dia benar-benar merasa sulit, Aish juga tidak akan mencari bantuannya sebab dia sudah terbiasa sendiri dan mandiri. Dia tidak membutuhkan uluran tangan orang lain. Kepercayaannya kepada orang lain sudah sampai dititik dia lebih suka sendiri daripada harus mendapatkan pengkhianatan yang lain.
Pak Roni lalu pergi ke arah kerumunan Aira. Bukan karena ingin mengelilingi Aira tapi karena di sana ada beberapa guru yang dikenalnya sedang berkumpul bersama. Aish akhirnya bisa bernafas lega.
__ADS_1
l