Wanita Surga Bidadari Dunia

Wanita Surga Bidadari Dunia
Bab 10.5


__ADS_3

Namun orang-orang pondok pesantren sangat sopan dan ramah, karena sikap mereka yang rendah hati ini membuat keluarga Aish tidak tega untuk tidak berbicara balik.


"Tapi sebelum itu perkenalkan nama saya Supar, di sebelah kiri saya namanya Suher, dan di sebelah kanan saya namanya Dadi. Kami bertiga adalah staf lingkungan pondok pesantren. Bila ada sesuatu yang ingin Bapak tanyakan, Bapak bisa menanyakannya kepada kami." Pak Supar memperkenalkan dirinya dan dua lainnya.


"Aku tidak punya pertanyaan, Pak. Karena aku sudah sepenuhnya mempercayai putriku di sini." Kata Ayah bijak.


Aish di belakang mencibir.


Muram, dia melihat sekitarnya dengan rasa ingin tahu yang tinggi. Gedung pondok pesantren yang awalnya sunyi perlahan terdengar hidup di dalam pendengaran Aish. Dia mengernyit heran, mendongakkan kepalanya menatap lurus ke depan. Dari tempatnya berjalan dia melihat ratusan orang berbondong-bondong ke suatu tempat. Aish tertegun. Dia melongo tidak percaya dengan pemandangan yang disajikan oleh tempat ini di waktu yang sangat...pagi?


"Sekarang pukul 3 dini hari. Pondok pesantren kami memiliki kebiasaan bangun jam segini untuk melaksanakan sholat tahajud berjamaah dan membaca Al-Qur'an sampai waktu subuh datang." Kata Pak Supar menjelaskan.


"Sholat jam seginian?" Heran Aish.


"Oh yah, Kak Khalid kan juga suka sholat jam seginian. Tapi kalau dilakuin setiap hari kan gak bagus untuk tubuh karena banyak begadang." Gumam Aish berbicara dengan dirinya sendiri,"Apalagi..." Dia menatap sekali lagi pada santri yang berbondong-bondong pergi ke masjid sambil bergumam,"Aku juga akan dipaksa melakukan sholat ini setiap hari!" Gumam Aish gondok di dalam hatinya.

__ADS_1


Ugh! Dia memang suka bangun jam segini tapi enggak setiap hari juga!.


Tapi tunggu,


Aish menoleh ke belakang tapi tidak menemukan siapapun.


"Apa ini cuma perasaan aku aja yah.." Gumam Aish ragu.


"Tapi kok rasanya enggak deh. Karena perasaan diperhatiin ini terlalu nyata..." Bisik Aish sambil mengawasi sekelilingnya.


Bukannya Aish terlalu percaya diri tapi perasaan diperhatikan ini terlalu jelas dan dia sudah sering merasakannya. Jadi wajar Aish berpikir bila ada orang yang sedang memperhatikannya.


"Hem?" Sampai akhirnya Aish menangkap keberadaan seseorang- ah, sebenarnya ada beberapa orang tapi entah mengapa sosok punggung tegap itu tampak tidak asing untuknya.


"Aneh, kenapa aku ngerasa dia mirip-"

__ADS_1


"Apa yang sedang kamu lihat." Tegur Bibi masih judes.


Aish belum membalas tapi Bibi sudah menariknya ke depan. Tanpa disadari mereka sekarang sudah berdiri di depan rumah luas yang sarat akan kesederhanaan dan rendah hati dari pemilik rumah. Pasalnya rumah ini cukup luas tapi tidak memiliki rasa kemewahan di dalamnya.


"Assalamualaikum, habib Ja'far?" Salam Pak Supar dengan suara yang sangat lembut.


Dari dalam rumah muncul laki-laki paruh baya tinggi dengan kain sorban putih melilit lehernya. Auranya sangat berbeda di mata Aish. Entah dari senyuman ataupun sikap bersahajanya, Aish merasakan perasaan yang sangat nyaman.


"Waalaikumussalam. Sudah datang? Mari silakan masuk, Ibu-ibu dan Bapak-bapak istirahat dulu di dalam." Habib Ja'far mengundang semua orang masuk ke dalam rumahnya.


Aish selama perjalanan sangat patuh dan tidak pernah melawan. Jadi, ketika habib Ja'far menawarkan kenyamanan, Aish tidak ragu masuk ke dalam rumahnya.


Masuk ke dalam rumahnya, Aish sekali dibuat terpesona oleh deretan potret deretan laki-laki paruh baya dari beberapa masa kehidupan. Aish menyimpulkan bila orang-orang itu adalah keluarga habib Ja'far melihat betapa mirip mereka semua.


"Umi, Umi?" Habib Ja'far memanggil istrinya.

__ADS_1


__ADS_2