
Nabila, adiknya, dan Bu Shinta bekerja sama membopong Aish masuk ke dalam mobil. Saat di dalam mobil tadi mereka telah melihat semua yang terjadi diluar sana tapi tidak tahu apa yang habib Khalid dan preman itu bicarakan.
Mereka juga melihat dengan jelas bagaimana Aish bisa berakhir ke dalam pelukan habib Khalid dan jatuh tertidur dengan pulas nya. Hanya satu kata yang terbenam di hati para gadis, yaitu cemburu.
Alangkah beruntungnya Aish pikir Nabila dan adiknya. Di luar sana sudah banyak gadis-gadis cantik yang menghantarkan proposal nya kepada habib Khalid, tapi tidak satupun dari mereka yang mendapatkan balasan. Para orang tua juga tidak kalah gencarnya. Mereka berlomba-lomba memperkenalkan putri-putri mereka, mengatakan hal-hal baik tentang putri mereka di depan habib Khalid agar putri mereka dapat bersanding dengan sang keturunan Rasulullah shalallahu alaihi wa salam. Namun, habib Khalid tidak pernah memberikan reaksi yang mereka inginkan sebab habib Khalid selalu menolak dengan sopan.
Banyak gadis yang ingin mendekati habib Khalid dengan susah payah, namun Aish, si gadis pemabuk ini justru tidak melakukan upaya besar agar masuk ke dalam pelukan habib Khalid.
Menghela nafas panjang, Nabila juga menilai jika Aish adalah gadis yang sangat cantik walaupun dia biang onar.
Cantik, Nabila tanpa sadar membawa pandangannya menatap punggung lurus habib Khalid di kursi depan, bertanya-tanya apakah habib Khalid menyimpan rasa kepada Aish?
__ADS_1
"Astagfirullah, apa yang sedang aku pikirkan. Ada banyak gadis cantik yang mendekati habib Thalib, dan rata-rata mereka semua memiliki wajah yang lebih cantik dari Aish. Tapi habib Thalib masih belum menunjukkan minat karena masih fokus mengajar. Jadi, dibandingkan dengan Aish, mungkin habib Thalib lebih suka memilih gadis dari pondok yang memiliki akhlak baik." Gumam Nabila mengenyahkan kecemburuannya kepada Aish.
Cemburu wajar, tapi cemburu pada seorang gadis mabuk adalah perbuatan yang sia-sia.
"Kak Nabila?" Bisik adiknya.
Nabila menoleh melihatnya,"Ada apa?" Tanya Nabila.
"Hus, hati-hati kalau ngomong, dek. Habib Thalib tidak sengaja memeluknya karena dia sedang mabuk dan tidak sadarkan diri. Sedangkan kasus Kakak berbeda. Bukan Kakak yang mabuk tapi preman itulah yang mabuk. Dan orang mabuk biasanya sulit mengenal orang karena saat itu preman mabuk itu menganggap Kakak sebagai istrinya yang melarikan diri. Kakak tidak bisa melarikan diri karena preman itu juga sangat kuat. Jika habib Thalib tidak datang membantu saat itu, Kakak tidak bisa membayangkan apa yang terjadi selanjutnya." Cerita Nabila dengan rona merah diwajahnya.
Dia memang sempat diganggu oleh pemimpin gangster di wilayah ini tapi habib Khalid datang menolongnya. Nabila melihat dengan kedua mata kepalanya sendiri bagaimana habib Khalid menghabisi pemimpin gangster itu hingga berakhir masuk ke rumah sakit.
__ADS_1
Dari kejadian itu Nabila memiliki tekad yang kuat untuk mengejar cinta habib Khalid.
"Apa habib Thalib mengenal Kakak di pondok pesantren?" Tanya adiknya penasaran.
Adiknya juga menyukai habib Khalid dan berencana melanjutkan sekolah di pondok pesantren seperti Nabila.
"Kakak gak tahu karena santriwati di pondok sangat banyak, dek. Yang mau mendekati habib Thalib juga banyak jadi Kakak gak yakin habib Thalib mengenal Kakak." Kata Nabila tidak optimis.
Habib Khalid adalah pengajar tetap di pondok pesantren tempat Nabila menuntut ilmu. Kabarnya, habib Khalid akan menjadi pemimpin selanjutnya pondok pesantren.
Tapi ini masih isu.
__ADS_1
"Woah, saingan di sana pasti banyak." Gumam adiknya juga ingin mengejar habib Khalid.