Wanita Surga Bidadari Dunia

Wanita Surga Bidadari Dunia
Bab 10.4


__ADS_3

Mereka berangkat larut malam dan menghabiskan beberapa jam di perjalanan. Pondok pesantren Abu Hurairah adalah pondok pesantren yang berada di luar kota. Untuk sampai ke pondok pesantren Abu Hurairah mereka harus menempuh perjalanan yang cukup jauh karena melewati dua kota untuk sampai ke sana. Selain berangkat larut malam, jarak yang cukup jauh juga menjadi pertimbangan semua orang bahwa Aira, Bunda, dan Nenek serta Kakek tidak bisa ikut mengantarkan Aish ke pondok pesantren. Kondisi Aira yang sedang sakit tidak mampu menempuh perjalanan jauh adalah pertimbangan yang paling di dalam keluarga. Jika tidak, Aira pasti akan ikut mengantarkan Kakaknya langsung ke pondok pesantren sebab tadi saja dia sangat sedih karena tidak bisa mengantarkan Kakaknya pergi menuntut ilmu. Untuk menebus kesedihannya, Bunda memutuskan untuk menemani Aira di rumah dan langsung disetujui semua orang.


Karena berada di luar kota, jarak tempuh mereka cukup memakan waktu hingga beberapa jam. Berangkat larut malam dan sampai dini hari pukul 3 pagi.


"Assalamualaikum, Pak." Di depan gerbang sudah menunggu beberapa laki-laki paruh baya.


Penampilan mereka sangat sederhana tapi entah mengapa setiap kali Aish melihat senyum yang terpatri di wajah mereka, Aish seolah merasa bila orang-orang ini adalah orang yang baik dan ramah. Mungkin mudah didekati.


Sikap sopan dan ramah mereka mengingatkan Aish pada sosok habib Khalid yang beberapa hari ini telah menghilang dari pandangannya.

__ADS_1


Menghela nafas lembut. Wajah cemberutnya tidak bisa menyembunyikan betapa galaunya dia sekarang.


Sekarang aku dan Kak Khalid tidak akan pernah bertemu lagi. Ya Allah, rasanya hati ini tidak rela melupakan Kak Khalid di dalam hatiku. Karena...sejauh ini dia adalah laki-laki pertama di dunia ini yang mampu membuat hatiku bergetar... karena dia aku memiliki angan-angan untuk merasakan manisnya sebuah cinta...aku...aku sungguh naif. Batin Aish tenggelam dalam lara hatinya.


"Ini adalah putriku, namanya Aisha Rumaisha. Ibu bilang dia sudah mengurus pendaftaran putriku di sini beberapa waktu yang lalu." Kata Ayah sembari menarik Aish.


Dia memegang tangan Aish lembut, menciptakan sebuah ilusi bila hubungan mereka sangat dekat selayaknya pasangan Ayah dan anak pada umumnya.


Aish cemberut. Dia menarik tangannya dari Ayah menjauh. Penolakan Aish juga dirasakan oleh Ayah dan dia tidak menarik tangan Aish lagi.

__ADS_1


"Habib Ja'far sudah menjelaskannya kepada kami, Pak. Beliau meminta kami untuk membawa keluarga Bapak langsung ke rumah beliau untuk lebih jelasnya." Kata laki-laki paruh baya yang berdiri paling depan di antara dua lainnya.


Dia merentangkan tangan kanannya sopan dengan gesture 'silakan'. Ayah mengangguk sopan. Tanpa mengambil kembali tangan dingin Aish, dia melangkah ringan mengikuti jalan yang laki-laki paruh baya itu tunjukkan.


Aish sangat marah dan langsung menyentak tangan Ayah di bawah pengawasan semua orang. Tapi tidak ada yang berbicara melihat sikap kurang ajar Ayah kepada Aish karena ini sudah masuk wilayah pondok pesantren.


Sambil menundukkan kepalanya dia memperlambat langkah kakinya hingga dia berjalan di barisan paling belakang.


Menjauh dari Ayah ataupun anggota keluarga yang lain.

__ADS_1


Di sela-sela langkah mereka menuju rumah habib Ja'far, mereka menyempatkan diri untuk berbicara sepatah dua patah kata untuk mencairkan kecanggungan keluarga Aish. Mungkin karena mengantuk setiap orang sangat enggan untuk berbicara atau berbasa-basi. Jika bisa mereka ingin segera pergi dari sini untuk mencari hotel terdekat untuk beristirahat karena mereka tidak mungkin kembali ke rumah dalam keadaan kelelahan dan mengantuk. Bukannya sampai tujuan dengan selamat, yang ada mereka malah mengalami sesuatu yang tidak diinginkan.


__ADS_2