
Aish tidak suka dikhianati karena pengkhianatan akan selalu mengingatkannya pada Mama. Mamanya meninggal karena dikhianati oleh Ayah, dia patah hati dan jatuh sakit karena depresi, lalu tidak lama setelah itu Mama pergi.
Aish membenci siapapun yang mengkhianati Mamanya dan dia bahkan lebih membenci orang-orang yang mengkhianatinya di belakang.
Sejujurnya Aish lebih suka mereka jujur. Bila mereka memang saling menyukai maka ayo, dia tidak akan marah putus dengan Iyon karena memang sedari awal dia juga tidak bisa memberikan apa-apa kepada Iyon. Tapi lihatlah sekarang. Mereka lebih memilih untuk bermain curang dibelakangnya.
"Sayang sekali, hah...sayang sekali." Bisik Aish kecewa.
"Di dunia ini aku tidak punya siapapun kecuali diriku sendiri. Aku tidak bisa mempercayai siapapun kecuali diriku sendiri. Aku tidak mempercayai mereka karena pada akhirnya mereka semua pasti akan melukaiku, mengkhianati ku, dan bermain curang dibelakang ku. Faktanya, mereka semua tidak pernah tulus kepadaku. Sekarang aku harus bagaimana Tuhan? Aku tidak punya siapa-siapa lagi di dunia. Aku tidak punya satupun orang yang bisa aku percayai di dunia ini!"
"Aku..." Bernafas saja rasanya sangat menyakitkan.
"Apa aku hanya lelucon untuk mereka semua?" Tanyanya terluka.
"Apa aku hanya lelucon saja?" Tanyanya lagi sambil mengusap kasar air mata di wajahnya.
Sakit rasanya. Hatinya sesak bagaikan diiris-iris oleh pisau tajam tidak kasat mata. Untuk bernafas saja, Aish harus menanggung rasa sesak yang menyakitkan. Membuat pelupuk matanya dibanjiri oleh perasaan asam yang menyedihkan.
Yang satu adalah pacarnya dan yang lain adalah temannya. Sungguh drama yang bagus. Dia bahkan tidak bisa mengekspresikan betapa hancur hatinya saat ini.
Dia tiba-tiba merasa bosan dan lelah menghadapi situasi yang sama.
Terd
Terd
Terd
__ADS_1
Ada panggilan masuk. Aish melirik id penelpon di ponselnya, dari Iyon.
Aish sudah terlanjur kecewa. Dia awalnya ingin menutup telpon tapi untuk alasan khusus dia menahannya.
"Ekhem," Dia menstabilkan suaranya sebisa mungkin untuk tidak meninggalkan kecurigaan.
Dia tidak mau suara parau nya ditemukan oleh Iyon.
"Ada apa?" Kata Aish langsung terdengar acuh tak acuh.
"Sayang, maaf aku baru menghubungi kamu sekarang. Tadi aku sangat sibuk di bawah menemani Papa dan Mama memasak, dan melupakan ponselku di dalam kamar."
Sibuk membantu Papa dan Mama memasak?
"Pefth!" Aish hampir saja tertawa terbahak-bahak jika dia tidak buru-buru menutupi mulutnya.
"Sayang, kamu kenapa, sayang?" Suara Iyon yang perhatian terdengar sangat menjijikkan di dalam pendengaran Aish.
Saat ini mereka baru saja keluar dari kafe sambil bergandengan tangan, tampak manis selayaknya pasangan kekasih.
Hem, tapi bila dipikir-pikir mereka berdua memang cocok untuk satu sama lain. Kenapa aku baru menyadarinya sekarang? Batin Aish mencemooh.
"Salah lihat, maksud kamu?" Iyon masih santai.
Sementara itu Aish tersenyum tipis masih mengamati mereka berdua,"Yah...aku melihat mu sedang makan dengan Gisel di jalan tadi. Tapi kamu bilang sedang ada di rumah jadi yang aku lihat tadi orang lain dong."
Setelah mendengar apa yang Aish katakan, sontak saja Iyon segera membawa matanya menatap sekeliling untuk mencari keberadaan Aish. Ekspresinya tampak panik dan bahkan, dia tanpa ragu melepaskan tangannya dari Gisel. Dia tidak ingin putus dengan Aish hanya karena perselingkuhan sesaat ini.
__ADS_1
"Iyon, kamu kok berisik banget di sana. Katanya lagi ada di rumah?" Aish menundukkan kepalanya di dekat semak-semak bunga trotoar.
Setelah memastikan tidak ada Aish di sini, Iyon segera menjadi tenang. Di sampingnya Gisel jelas tidak puas dan ingin mengambil tangan Iyon, tapi langsung ditolak oleh Iyon.
"Iya, sayang. Kebetulan sinyal di dalam rumah lagi jelek jadi aku pergi keluar untuk cari sinyal." Bohong Iyon membuat alasan.
Aish tersenyum dingin. Untungnya dia dan laki-laki ini sekarang tidak memiliki hubungan apa-apa lagi. Jika tidak, entah sampai kapan laki-laki pembohong ini akan bermain drama di belakangnya.
"Oh, kalau gitu telponnya aku tutup aja, soalnya di sini aku juga sibuk bersiap untuk pemotretan. Bye!"
Dan,
Tud
Tud
Tud
Aish menutup sambungan telepon mereka. Dia memegang ponselnya seerat mungkin sambil mengangkatnya untuk mengambil foto.
Di ujung sana Gisel membisikkan sesuatu kepada Iyon, lalu beberapa detik kemudian Iyon menarik tangan Gisel masuk ke dalam mobil dan pergi.
Aish tidak tinggal diam saja. Dia buru-buru menghentikan taksi untuk mengikuti mereka. Anehnya, jalan yang mereka lewati tampak familiar. Aish sepertinya ingat pernah melewati jalan ini. Dia ragu-ragu pada awalnya, tapi saat kedua matanya menangkap gedung motel, Aish akhirnya ingat tempat ini.
"Punya banyak uang tapi mainnya di tempat miskin, cih." Cela Aish dengan wajah muram.
Iyon dan Gisel tanpa ragu masuk ke dalam motel. Mereka memesan kamar pasangan di meja admistrasi dan mendapatkan kamar di lantai dua. Setelah pelayan memberikan kunci kamar, Iyon dan Gisel langsung masuk ke dalam kamar, dan tidak pernah keluar lagi.
__ADS_1
"Hehehe... kalian bermain dibelakang ku maka aku tidak akan sopan lagi." Gumam Aish sambil menggeser-geser layar ponselnya dengan senyum main-main.
Ah, sudah lama dia tidak bersenang-senang.