Wanita Surga Bidadari Dunia

Wanita Surga Bidadari Dunia
Bab 8.6


__ADS_3

Semua orang di rumah ini sangat egois. Dia tidak ada di mata maupun keluarga Ayah dan dia juga tidak ada di mata Nenek ataupun Kakek dari pihak Mama.


Pihak Ayah tidak mencintainya dan pihak Mama hanya mementingkan luka lama saja, melupakan keberadaannya yang amat sangat membutuhkan kasih sayang keluarga.


Lantas...


Bagaimana dia tidak cemburu melihat orang-orang yang ada di luar sana berbagi kebahagiaan dengan keluarga hangat mereka?


Bagaimana dia tidak cemburu melihat Aira yang dipenuhi oleh kasih sayang yang berlimpah. Aira tidak memintanya tapi semua kasih sayang itu ada, sedangkan dirinya? Dia memang tidak menunjukkannya tapi jauh di dalam lubuk hatinya dia sangat menginginkannya. Dia membutuhkannya tapi tidak ada yang mau memberikan.


"Aku lelah..." Bisiknya parau menahan sesak di dada.


"Tidur pun tidak bisa mengobatinya." Kedua tangannya mengusap lelehan air mata yang tumpah di wajahnya.


"Lantas, apa yang harus aku lakukan?" Tanyanya putus asa.

__ADS_1


...🌪️🌪️🌪️...


Sore harinya Aish terbangun. Dia baru menyadari selama ini tidur di atas lantai. Menguap lebar, kedua tangannya terangkat ke atas sambil menggeliat nyaman. Dia lalu bangkit dari lantai dan masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci wajah. Mengganti bajunya dengan pakaian santai dan melemparkan beberapa lapis bedak bayi di atas kulit putih wajahnya untuk menutupi jejak sembab karena terlalu banyak menangis.


Setelah itu Aish menyisir rambut panjang nan hitamnya. Sore ini cuacanya sangat baik jadi dia memutuskan untuk membiarkannya tergerai.


Setelah merasa cukup cantik. Dia lalu beranjak dari tempat duduknya di depan meja rias dan segera keluar dari kamar. Aneh, Aish melihat jika tidak ada siapa-siapa di dalam rumah. Ini tidak seperti biasanya.


Tapi tidak masalah untuknya. Toh dia akan selalu berdebat jika bertemu mereka semua. Keluar dari rumah, Aish menemukan jika hampir semua warga kompleks sedang beristirahat di pinggir jalan. Tampaknya hari ini ada gotong royong dan baru saja selesai.


Habib Khalid baru saja keluar dari musholla dan langsung berpapasan dengan Aish. Habib Khalid membersihkan musholla sendiri agar tempat suci ini bisa digunakan beribadah dengan nyaman.


Sore ini habib Khalid menggunakan baju koko biru laut dengan celana cingkrang gelap yang sangat serasi di tubuhnya.


Aneh, biasanya cowok keliatan cupu pakai pakaian begini tapi Kak Khalid kok beda yah, bukannya cupu kalah keliatan makin ganteng! Batin Aish terheran-heran.

__ADS_1


"Kak Khalid baru selesai bersih-bersih, yah?" Aish langsung menghampiri habib Khalid sambil mengabaikan suara detak jantungnya yang menggebu-gebu.


Habib Khalid tersenyum lembut tapi tidak menatap Aish atau bahkan berjalan mendekatinya. Bahkan ketika Aish berjalan terlalu dekat, dia secara alami mundur beberapa langkah ke belakang untuk meninggalkan jarak di antara mereka berdua.


Habib Khalid juga tidak mau memandanginya yang sangat membuat Aish frustasi.


Apa aku sejelek itu makanya Kak Khalid enggan melihatku? Batin Aish sedih.


"Alhamdulillah, aku baru saja membersihkan musholla. Sedangkan kamu sendiri?" Suara berat dan lembut habib Khalid membuyarkan lamunan Aish.


Aish tersenyum tipis,"Aku mau cari Abang-abang penjual nasi goreng, Kak, soalnya hari ini aku gak sempat makan siang."


Habib Khalid membawa pandangannya ke satu titik di pinggir jalan kompleks. Kebetulan di sana ada beberapa penjual makanan yang baru saja membuka stan mereka. Menurut kebiasaan penjual di kompleks perumahan di sini, mereka hanya datang dan buka pada sore hari lalu tutup tepat jam 12 malam, kecuali dagangan mereka telah habis terjual batu bisa pulang sebelum jam 12.


"Kebetulan, aku juga ingin makan sesuatu. Mau pergi bersama?" Tawar habib Khalid masih enggan melihat Aish.

__ADS_1


__ADS_2