Wanita Surga Bidadari Dunia

Wanita Surga Bidadari Dunia
Bab 9.6


__ADS_3

"Nak, kamu kenapa?" Guru itu jelas sedih melihat penampilan Aira yang sangat kacau.


Anak yang selalu menjadi kebanggaan sekolah mereka dan disayangi hampir semua guru kini tengah berjuang dalam siksaan yang sangat mengerikan.


"Hah..hah...hah..." Kepala Aira berkabut, dia tidak bisa berpikir jernih apalagi sampai menjawab pertanyaan guru wanita itu.


Dia sepenuhnya telah dikuasai oleh haus akan sentuhan hasrat. Dia menginginkannya tapi tidak ada satupun orang yang mau memberikannya. Malah dia semakin disiksa karena kedua tangan maupun kakinya telah dikekang oleh semua orang.


"Bu, Bu...aku takut ada obat perangsang di dalam minuman Aira. Karena tadinya Aira masih baik-baik saja sebelum minum jus itu." Gadis yang selalu bersamanya menyuarakan kecurigaan nya.


Beberapa gadis yang kebetulan memperhatikan ini juga menyuarakan kecurigaan mereka tentang minuman itu.


"Benar, Bu. Aku juga curiga ini ada hubungannya sama minuman yang Aira minum tadi. Dia awalnya baik-baik aja tapi setelah minum dia tiba-tiba kipas-kipas sendiri terlihat sangat kepanasan dan berakhir seperti ini." Kata yang lain sama-sama curiga.

__ADS_1


Guru wanita itu juga curiga bila minuman Aira mengandung obat terlarang. Kalau tidak, dia tidak mungkin memiliki reaksi sehebat ini. Dan sebagai seorang wanita dewasa dia tidak asing dengan obat seperti ini jadi seharusnya kecurigaan anak-anak yang lain tidak salah bila Aira sebenarnya minum minuman yang mengandung obat terlarang.


Semua orang panik. Termasuk para guru laki-laki. Tapi karena kondisi khusus Aira, mereka tidak diizinkan mendekat kecuali para guru wanita atau anak-anak cewek. Pesta menjadi kacau karena masalah ini dan tidak mungkin dilanjutkan lagi. Ada yang menyayangkan ada pula yang tidak mempermasalahkannya karena Aira harus segera mendapatkan pertolongan. Di atas semua kekacauan ini, Aish adalah satu-satunya orang yang tidak terpengaruh. Dia masih berdiri di tempat yang sama, memandangi kekacauan dengan ekspresi datar di wajahnya.


Seperti yang hatinya harapkan, Aira tidak hanyalah dipermalukan malam ini tapi dia juga mendapatkan rasa sakit yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya.


Aish harusnya senang tapi entahlah, dia tiba-tiba tidak sesenang yang dibayangkan sebelumnya. Malah ada perasaan melankolis di dalam dirinya melihat wajah kesakitan Aira di atas lantai sana.


Biar bagaimanapun Aira adalah adiknya.


"Apa aku bertindak terlalu jauh?" Gumamnya sedih.


Linglung, dia menundukkan kepalanya memikirkan dampak apa yang akan dia dapatkan setelah ini dan kebahagiaan apa yang akan dia terima setelah ini.

__ADS_1


Tapi tidak satupun yang menenangkan hatinya. Sampai akhirnya dia menyimpulkan bahwa dia benar-benar terlalu jauh kali ini.


Aish tidak ingin berlama-lama dalam rasa bersalah. Dia lantas pergi dari gedung ini sebelum dirinya dicurigai oleh orang lain.


Dia melambaikan tangannya di depan sebuah taksi, mengatakan alamat rumahnya dia lalu diantarkan pulang oleh taksi tersebut.


Beberapa waktu kemudian dia akhirnya sampai ke rumah. Setelah membayar ongkos taksi, dia masuk ke dalam rumah. Jantungnya berdegup kencang takut orang-orang rumah mencegatnya untuk diinterogasi. Tapi tidak seperti yang dia takutkan, tak satupun orang ada di rumah saat ini.


Di depan Aish, beberapa kopi yang masih hangat dan makanan ringan tersaji di atas meja, mungkin beberapa menit yang lalu tempat ini cukup ramai.


"Mereka pasti sudah mendengar kabar dari pihak sekolah tentang Aira." Gumam Aish sendu.


Mau tak mau dia merasa cemburu untuk kebahagiaan dan kasih sayang adiknya yang melimpah, sedangkan dirinya?

__ADS_1


Tak sekalipun dirinya mendapatkan perhatian sebesar ini dalam hidupnya.


"Mengapa hidup ini sangat melelahkan?"


__ADS_2