Wanita Surga Bidadari Dunia

Wanita Surga Bidadari Dunia
Bab 11.2


__ADS_3

Nasifa menyimpulkan dari reaksi mereka berdua bila kedua orang tua mereka adalah sebuah kelemahan. Nasifa bukan orang yang usil tapi juga bukan orang yang nudah untuk dihadapi. Jika bukan karena mereka berdua sangat ribut dan kacau, maka dia tidak akan menggunakan cara picik untuk mengancam semua orang.


"Dasar!" Sungut Aish tidak mau berbicara lagi dengannya.


"Ayo pergi ke kamar asrama mu. Kak Lara tolong bawa dia ke kamar asramanya." Nasifa berbicara sangat sopan kepada orang yang lebih tua darinya.


Senyum diwajahnya terbentuk begitu indah dan meneduhkan, para santriwati yang kebetulan melihatnya merasa hati sangat senang dan nyaman.


Setelah mendapatkan anggukan dari staf asrama putri, Nasifa lalu menyeret Aish menjauh dari mereka untuk melanjutkan perjalanan mereka ke asrama putri. Sedangkan Dira sendiri tinggal bersama staf kedisiplinan santriwati sebelum dibawa pergi kembali ke kamarnya.


Tidak jauh dari mereka semua, beberapa santriwati yang sempat menonton pertunjukan diam-diam menggelengkan kepala mereka setelah melihat betapa kacau Aish dan Dira.


"Apa anak kota biasanya begini?" Salah satu santriwati jelas tidak suka dengan sikap Aish dan Dira yang bar-bar.


"Mungkin karena pergaulan anak-anak kota agak bebas sehingga sikap mereka berdua juga buruk." Yang lain menimpal.


Dimana-mana, ada saja orang yang ada saja orang yang berhati gelap, mudah tersinggung, dan suka berpikiran negatif. Pondok pesantren yang didedikasikan sebagai tempat untuk menuntut ilmu juga tidak luput dari sifat manusia ini. Ada manusia yang baik maka ada pula manusia buruk, buruk karena jauh dari Allah.


"Kalo mereka enggak suka di sini, lalu kenapa masih masuk ke sini? Mereka berdua sangat kasar dan ribut, aku takut mereka akan membuat banyak masalah untuk pondok pesantren kita." Kata santriwati yang lain muram.


Aish dan Dira adalah pendatang dari kota besar yang sangat mencolok. Terutama untuk Aish sendiri yang baru datang hari ini. Menurut pendapat beberapa santriwati di sini, Aish merupakan gadis yang sangat cantik. Bulu matanya tidak panjang tapi berwarna gelap dengan bentuk mata aprikot yang cantik, hidungnya yang tinggi tapi tidak terlalu tinggi dan bentuk tubuh yang bagus walaupun disamarkan oleh kain gamis tapi tidak bisa menutupi betapa sempurna sosok Aish.


Jujur dia merasa terancam karena takut dia akan menarik perhatian beberapa santri.


"Putri enggak boleh ngomong kayak gitu. Niat kedua orang tua mereka di sini baik. Mereka pasti berharap anak-anak mereka bisa berubah menjadi gadis yang baik dan soleha."


Putri, santriwati yang berbicara dengan masam tadi tersenyum sinis di bibirnya sambil berkata,"Yah, aku harap harapan kedua orang tua mereka terkabul karena tidak mudah menjinakkan manusia liar seperti mereka."


Para santriwati yang mendengar ucapan kasar Putri saling tatap, mereka tidak terkejut dengan sikap menyebalkan Putri karena dari awal berteman pun mereka sudah tahu. Tapi melihatnya berbicara kasar dan bahkan sampai mengecap orang lain sebagai manusia liar? Mereka jelas tidak menyangka kata-kata ini keluar dari mulutnya.


"Astagfirullah, Put. Ucapan mu kasar. Itu tidak baik."

__ADS_1


Putri mengangkat bahunya tak perduli,"Apa yang aku katakan memang benar adanya kok."


Mereka menggelengkan kepala dan memutuskan tidak lagi berbicara dengan Putri dikarenakan sikapnya yang sudah terlalu kasar.


Sementara mereka mulai menutup mulut, Aish dan Nasifa sekarang sudah berdiri di depan gedung asrama putri. Gedung ini terdiri dari 3 lantai yang cukup tinggi dengan banyak ruangan di dalamnya.


Saat melewati lorong, Nasifa memperkenalkan setiap kamar yang diberi nama Islam kepada Aish sampai akhirnya mereka sampai di depan sebuah ruangan yang terletak di tengah-tengah lantai 1.


Kamar Aisyah R. A


Ini adalah nama istri yang paling nabi Muhammad saw cintai, dan Aish akan sangat bodoh jika tidak mengetahuinya.


"Ini adalah kamarku?"


"Kamarku juga. Kita adalah teman sekamar." Kata Nasifa dengan senyuman lembut di wajahnya.


Aish,"...oh, teman sekamar." Dia sama sekali tidak bahagia hidup di tempat yang sama dengan orang sok ngatur ini.


Di belakang Aish dengan ogah-ogahan mengikuti.


"Waalaikumussalam, Nasifa."


Orang yang menjawab salam lebih dari satu, ah tidak! Ini lebih dari enam orang, tentu saja Aish sama sekali tidak bodoh.


"What the hell?" Bisik Aish kaget melihat deretan ranjang kecil di dalam kamar.


Dia menghitung dengan polosnya, 1 2 3 4 5 6...21 ranjang?!


Dengan kaku dia bertanya kepada Nasifa,"Satu kamar 21 orang?"


Nasifa tersenyum lebar dan menjawab dengan santai.

__ADS_1


"Tidak, Aish. 1 kamar terdiri dari 41 santriwati. Pondok pesantren harus menampung 7000 lebih santriwati sehingga 1 kamar dialokasikan untuk 41 santriwati."


Aish melongo, untuk beberapa alasan dia meragukan pendengarannya sendiri.


"Apa kamu bercanda?"


Nasifa menggelengkan kepala dengan tatapan polos dimatanya.


"Aku tidak bercanda. Jika tidak percaya kamu bisa bertanya kepada santriwati yang lain."


Aish terdiam. Kepalanya sedang memproses semua informasi ini dengan lambat dan hati-hati.


Belum selesai keterkejutan Aish karena harus tidur dengan segudang manusia asing, dia kembali dikagetkan dengan suara menyebalkan siluman biawak jejadian.


"Yo, kadal, lo juga tinggal di sini?"


Juga?


Aish mengangkat kepalanya dan menoleh ke samping, di sampingnya Dira berdiri dengan angkuh sambil tersenyum sok cool. Aish tidak percaya jika keberuntungan hari ini sedang pelit.


"Jangan kaget karena lo satu kamar bukan hanya sama gue, tapi lo juga bakal satu kamar sama si buaya." Diam-diam Dira bahagia di atas kemalangan Aish.


Aish mengernyit, buaya? Siapa lagi orang sial yang dijuluki sembarangan oleh manusia biawak ini?


"Siapa-"


"Ah, Aish?!"


Deg


Aish spontan melihat ke arah sumber suara. Di sana, di antara para santriwati berdiri seorang gadis kuyu nan pucat yang memiliki rasa kehadiran paling rendah di kamar ini.

__ADS_1


"Gisel?" Panggil Aish shock.


__ADS_2