Wanita Surga Bidadari Dunia

Wanita Surga Bidadari Dunia
Bab 11.1


__ADS_3

...Abaikan rasa sakit itu...


...Atau jika tidak,...


...Kamu tidak akan pernah merasa bahagia....


...Ali bin Abu Thalib...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Dira sialan, siapa yang lo panggil kadal!"


Ketika raungan Aish terdengar, semua santriwati yang kebetulan berkumpul di sini untuk melihat keseriusan seketika membeku. Semua mata langsung tertuju kepada Aish, gadis asing dengan perilaku buruk dan memiliki sikap yang buruk pula. Lihat saja penampilannya, dia menggunakan baju gamis tapi salah satu kakinya terangkat menginjak batang pohon mati dipinggir, memperlihatkan kulit betisnya yang mulus putih bersih terawat dengan baik. Berkacak pinggang dengan gaya anak kota yang mendominasi, perilaku Aish sontak menarik perhatian staf kedisiplinan asrama putri. Mereka adalah pengawas para santriwati, ibaratnya di sekolah umum mereka adalah segerombolan anak osis yang dibentuk setelah melewati berbagai macam seleksi.


"Kalo bukan lo siapa yang gue panggil kadal? Bapak lo?" Ejek Dira di pinggir sawah.


Awalnya dia sangat sedih di sini. Beberapa kali dia coba melarikan diri tapi naas, para staf kedisiplinan santriwati yang sok ini sangat mengganggunya. Dia selalu berakhir ditangkap dan hari inipun tak jauh berbeda. Tapi saat dia bertemu dengan Aish, semua kesedihannya segera tersapu karena anak sok dingin di sekolah dulu sekarang terlempar di tempat yang sama dengannya.


Mereka berdua sama-sama mendapatkan kemalangan di tempat ini.


"Wah lo ngelunjak, yah. Kalo gue kadal berarti lo biawak, dong?!" Klaim Aish semena-mena.


Dira terperangah mendengar julukan Aish kepadanya yang asal-asalan. Logikanya, dia adalah gadis cantik yang pemalu dan baik hati tapi disamakan dengan biawak?


Dia keberatan dan tidak bisa menerimanya.

__ADS_1


"Siapa yang biawak? Gue kelinci tahu! Orang manapun tahu kalau gue lebih cocok dipanggil kelinci daripada biawak!"


Aish memutar bola matanya malas. Kelinci?


Apa sirkuit kepalanya mengalami masalah? Dari segi manapun dia lebih cocok dipanggil sebagai biawak daripada hewan imut nan polos itu.


"Lo tuh cewek liar dan sangar, mana adil disangkut pautin sama kelinci yang imut dan manis."


Dira mengusap hidungnya sok berani,"Lo kok songong ya jadi kadal. Gelut yuk, kebetulan gue lagi gerah banget."


Katanya sambil mengangkat lengan gamisnya yang sudah kotor karena lumpur yang entah dimana dia dapatkan. Semua santriwati meringis melihat penampilan Dira sekarang. Apalagi ketika melihat gamis baru yang baru keluar dari toko ditubuh Dira, mereka diam-diam meyayangkan betapa brutal Dira menggunakan gamis tidak bersalah itu.


"Ayo, siapa takut!" Aish juga menarik lengan abayanya ke atas.


Aish dan Dira sama-sama bersemangat. Mereka telah menyiapkan ancang-ancang untuk bertengkar tapi segera dihentikan oleh Nasifa.


"Jika kalian bertengkar, maka masing-masing dari orang tua kalian akan dipanggil." Ancam Nasifa berhasil menghentikan mereka berdua.


Aish mendengus sebal karena Nasifa selalu bawa-bawa orang tua. Bibirnya cemberut karena marah, sikapnya sangat arogan dan kurang sopan di depan para santriwati yang yel bermandikan ilmu.


"Dasar pengadu." Kata Dira muram.


Nasifa adalah orang asing di matanya. Sebelum hari ini dia sempat mendengar tentu Nasifa dari teman-teman kamarnya. Tapi Dira tidak perduli karena itu bukan urusannya. Di samping itu dia sangat sibuk memikirkan jalan keluar agar bisa melarikan diri dari penjara ini.


"Jaga bahasa dan sikap kalian di sini. Apalagi lawan bicara kalian adalah seorang sari-"

__ADS_1


"Kepada siapapun, kalian harus belajar menahan diri dan berbicara sesopan mungkin." Potong Nasifa dengan ekspresi serius diwajahnya.


Staf kedisiplinan asrama santriwati yang berbicara tadi sontak menutup mulutnya malu. Dia menatap Nasifa dengan permohonan maaf dimatanya. Nasifa hanya meliriknya ringan ranpa kemarahan di matanya dan dengan cara ini staf itu langsung merasa lega.


Interaksi mereka berdua tidak diperhatikan oleh Aish maupun Dira karena mereka berdua masih melakukan perang dingin dengan mata masing-masing. Mereka tidak melihat ekspresi kesal para santriwati yang masih betah melihat kelakuan konyol mereka berdua.


"Oh, lo tadi bilang apa?" Dira menarik pandangan dari Aish.


Aish mengejek,"Dia bilang lo sama gue harus ngomong sopan sama sari.. sari siapa, yah?"


Dira menjawab asal,"Sari-sari makanan kali." Jawabnya sambil cekikikan.


Mendengar jawaban asal-asalan Dira, beberapa santriwati itu mulai marah. Mereka lalu melirik Nasifa untuk melihat bagaimana reaksinya saat ini. Tapi Nasifa tidak bereaksi apa-apa, dan malah menganggap kedua orang ini cukup lucu.


"Aku pikir kalian adalah musuh dari dalam rahim, tapi kayanya aku salah karena kalian berdua sebenarnya sangat akrab!" Kata Nasifa asal menebak.


Tidak disangka tebakan asal ini memicu gelombang penolakan dari Aish dan Dira. Mereka mana sudi berteman satu sama lain.


"Akrab dari Hongkong! Gue mah ogah punya teman kadal jejadian." Tolak Dira mentah-mentah.


Aish cemberut,"Seolah-olah gue sudi punya teman biawak sesat kayak lo." Aish juga mana sudi temenan sama Dira karena dia penuh dengan sifat mudarat yang harus segera dibasmi.


"Lo bilang apa tadi?!" Dira mengamuk tapi segera dihentikan oleh Nasifa lagi.


"Ribut lagi kalian berdua akan ku bawa ke staf kedisiplinan biar kalian berdua bisa negosiasi dengan kedua orang tua kalian." Ancam Nasifa yang kedua kalinya.

__ADS_1


__ADS_2