
Aish tertawa masam mendengar semua percakapan mereka. Menjodohkan habib Khalid untuk Aira, apakah akan semudah itu?
Aish tidak tahu tapi dia cemburu. Dia sungguh cemburu, Tuhan.
Tuhan, lihat apa yang mereka tampilkan di dalam sana. Pertunjukan kasih sayang yang hangat dan manis, mereka memang keluarga yang harmonis.
Jujur,
Aish ingin berada di posisi itu. Disayangi oleh mereka dan dijanjikan sebuah kebahagiaan oleh mereka, Aish menginginkannya juga. Bohong jika dia tidak cemburu. Tidak, dia malah sangat cemburu. Dia ingin dipeluk, dia ingin memiliki tempat untuk bersandar, dan dia ingin memiliki sekelompok orang-orang yang siap membelanya ketika dianiaya oleh orang lain. Dan itu harusnya menjadi keluarga, orang-orang yang diberi gelar sebagai keluarga, seharusnya mereka semua menyiapkan masa depan yang indah untuknya sama seperti yang mereka lakukan kepada Aira.
Tapi mengapa selalu berat sebelah?
Mengapa cinta semua orang hanya untuk Aira?
__ADS_1
Ketika dirinya berulang tahun, tidak ada satupun orang yang bertanya apakah dirayakan atau tidak. Sedangkan Aira? Tanpa bertanya pun mereka sudah berlomba-lomba menyiapkannya!
Sigh, dunia sungguh tidak adil, kan?
"Ini semua gara-gara Aira dan Ibunya! Ini semua karena mereka, aku kehilangan Mama dan tidak mendapatkan kasih sayang! Aku membenci mereka!" Gumam Aish benci.
Dia lalu membawa langkah kakinya naik ke lantai dua dengan kecepatan yang tidak melambat sama sekali. Begitu sampai di lantai dua, Aish tidak masuk ke dalam kamarnya tapi pergi ke kamar Aira.
Menarik gagang pintu kamar, tidak terkunci. Aish tersenyum miring. Tanpa menunggu lama dia langsung masuk ke dalam kamar Aira.
Kamar ini sangat feminim dan terkesan manis, seolah-olah ada seorang gadis muda yang hidup dengan baik di dalamnya.
"Coba kita lihat dimana dia menyimpan kain-kain ninja itu." Gumam Aish main-main seraya membuka laci, tapi tidak ada.
__ADS_1
Lacinya berisi mushaf Al-Qur'an kecil dan barang-barang kecil yang cukup familiar untuk Aish.
"Ouh, mungkinkah kain-kain ninja itu disembunyikan di sini?" Aish kini beralih membuka pintu lemari Aish.
"Hem, dugaan ku memang tidak salah. Coba lihat, kain sebanyak ini ternyata menumpuk dengan rapi di dalam lemarinya. Sayang sekali...oh sayang sekali, kain ini sungguh tidak memiliki kegunaan untuk adikku terkasih. Semua kain-kain ini harusnya tidak ada di sini karena begitu disentuh oleh adikku yang terkasih, kainnya akan ternoda. Jadi..." Dia celingak-celinguk mencari sesuatu yang baru saja muncul di kepalanya.
Ah, dia sangat membutuhkannya!
"Adikku ini sangat pintar menyembunyikan barang..." Desahnya tidak berdaya.
"Nah, barang itu benar-benar ada di sini!" Aish baru saja melewati nakas dan kebetulan melihatnya.
Tanpa basa-basi dia mengambil benda itu- atau sebut saja gunting. Nah, untuk membantu adiknya mengenyahkan semua kain-kain itu, Aish bertekad untuk merusaknya agar Aira tidak bisa memakainya lagi.
__ADS_1
"Okay, aku akan mulai bekerja sekarang!" Satu persatu cadar dan burdah di dalam lemari Aish dia gunting dengan hati-hati.
Merusaknya tanpa ampun hingga menyisakan tampilan yang sangat jelek. Semua cadar dan burdah ini tidak bisa lagi digunakan karena bentuknya yang sudah terkoyak-koyak. Bahkan walaupun dijahit cadar maupun burdah ini benar-benar sudah tidak enak dipandang lagi.