Wanita Surga Bidadari Dunia

Wanita Surga Bidadari Dunia
Bab 8.10


__ADS_3

"Kak Khalid sudah mengatakannya kepadaku jadi kamu tidak perlu mengatakannya lagi." Kata Aish dengan dada membusung tinggi.


Nabila menjadi lebih malu. Kedua bibir merahnya bergetar ingin mengatakan sesuatu akan tetapi habib Khalid telah mengambil langkah ke depan untuk memesan nasi goreng.


"Kamu ingin makan yang pedas atau manis?" Dia bertanya tanpa menoleh.


Aish semakin bangga karena habib Khalid memberikannya perhatian lebih. Sikap angkuhnya telah masuk ke dalam mata habib Khalid sejak lama tapi dia tidak mengatakan apa-apa.


"Samakan saja dengan milik Kak Khalid. Aku suka semua yang Kak Khalid makan." Jawab Aish serasa di atas angin.


Nabila tersenyum masam. Dia cemburu dengan interaksi mereka berdua dan berharap bisa ada di posisi Aish. Namun itu tidak mungkin karena dia sendiri pun canggung bersikap terbuka di depan habib Khalid.


Terutama saat mendengar panggilan akrab Aish kepada habib Khalid. Terdengar sangat tidak sopan.


"Aish, lain kali jangan panggil habib Thalib dengan nama 'Kak Khalid' lagi, itu tidak sopan." Tegur Nabila dengan suara lembutnya.


Aish mengernyit, bagaimana mungkin panggilannya tidak sopan?


"Panggilan ku sangat sopan. Dimana letak titik tidak sopan nya?"


"Memanggil seorang ha-"


"Ini pesanan mu." Habib Khalid berbalik dengan sebuah pesanan rapi di tangannya.


Nasi goreng itu masih hangat. Dari piringnya mengepul uap hangat yang memiliki bau menggugah selera. Uap hangat yang mengepul itu kebetulan berbenturan dengan indera penciuman Aish, membuat perutnya yang lapar menjadi bergejolak minta diisi sesegera mungkin.

__ADS_1


"Terima kasih. Oh, ini uang gantinya." Aish mengambil uang 50 ribuan dari saku celananya.


"Simpanlah. Ini bukan apa-apa."


Tolak habib Khalid.


Aish tidak mendengarkan.


"Kak Khalid gak boleh sungkan sama aku-" Dia meraih tangan kanan habib Khalid yang bebas namun belum sampai jarinya menyentuh, habib Khalid telah mengambil jarak mundur beberapa langkah ke samping.


"Aku benar-benar tidak membutuhkannya."


Penolakan habib Khalid langsung menampar rasa antusias Aish. Tangan kanannya yang menegang uang membeku di udara. Tersenyum canggung, dia lalu menarik tangannya kembali. Entahlah, saat ini ada perasaan malu yang melingkupi kedalaman hatinya.


Belum lagi penolakan habib Khalid, dilihat sama orang-orang saja dia sangat malu. Apalagi ada Nabila di sini. Bisa dibayangkan betapa senangnya Nabila melihat habib Khalid menolak sentuhan Aish.


Rasanya seperti orang yang patah hati, sakit. Anehnya Aish tidak sesakit ini ketika melihat pacar sekaligus sahabatnya berselingkuh.


"Pulanglah dan segera makan nasi goreng itu sebelum dingin." Habib Khalid mengusirnya secara halus.


Tubuh Aish menegang.


Kak Khalid kayaknya sangat marah? Batin Aish sedih.


"Jika tidak ada yang lain aku akan pergi dulu, assalamualaikum."

__ADS_1


"Waalaikumussalam." Balas Aish merasakan perasaan yang sangat tidak nyaman di dalam hatinya.


Setelah Aish menjawab salamnya, habib Khalid langsung membawa langkah kakinya menjauh dari keramaian. Berjalan menapaki jalan yang pernah mereka lalui tadi dengan sapaan akrab dari beberapa warga.


Aish menggigit bibirnya malu melihat kepergian habib Khalid. Kedua matanya yang memerah tidak pernah lepas dari pemilik punggung lurus dan tegap itu.


"Kamu benar-benar salah tadi, Aish." Kata Nabila menarik Aish dari kekacauan hatinya.


Aish menoleh ke samping dan baru menyadari keberadaan Nabila.


Nabila tidak menunggu Aish berbicara dan langsung mengatakan apa yang ingin dia katakan.


"Habib Thalib bukanlah orang yang bisa disentuh oleh wanita manapun karena dia sangat menghormati seorang wanita. Dia menghormati seorang wanita yang mampu menjaga dirinya tapi tidak menyukai wanita yang tidak bisa menjaga dirinya sendiri. Baginya wanita seperti itu tidak akan mampu masuk ke dalam pandangannya." Kata Nabila lembut tapi memiliki sentuhan ketajaman.


Setelah mengatakan apa yang ingin hatinya katakan, Nabila kemudian pergi untuk melanjutkan acara belanjanya yang sempat tertunda.


Sekarang hanya Aish yang masih berdiri di tempat dengan linglung. Penolakan habib Khalid sangat berkesan di dalam hatinya, jauh, jauh menyentuh kedalaman hatinya.


Lalu suara lembut Nabila terus menerus terngiang-ngiang didalam kepalanya.


Habib Thalib bukanlah orang yang bisa disentuh oleh wanita manapun karena dia sangat menghormati seorang wanita. Dia menghormati seorang wanita yang mampu menjaga dirinya tapi tidak menyukai wanita yang tidak bisa menjaga dirinya sendiri. Baginya wanita seperti itu tidak akan mampu masuk ke dalam pandangannya.


Merasakan dadanya yang sakit, dia bertanya-tanya,"Jadi aku bukan wanita itu, ya?"


Padahal dia telah melambungkan sebuah angan-angan sebelumnya. Meskipun tidak tinggi, tapi siapa tahu rasanya tetap sakit ketika jatuh.

__ADS_1


__ADS_2