Wanita Surga Bidadari Dunia

Wanita Surga Bidadari Dunia
Bab 5.9


__ADS_3

PLAK


Suara tamparan nyaring mengisi telinga semua orang. Aish tercengang merasakan sensasi perih dan panas di pipi kanannya. Aish tercengang. Dia sama sekali tidak menduga jika orang yang telah menamparnya tadi adalah Neneknya!


Orang yang paling menghargainya di tempat ini telah menjatuhkan tangan kepadanya. Aish termangu. Dia merasa dikhianati oleh Neneknya, orang yang dia kira paling menghargainya.


Apa ini sekarang?


Dia akhirnya benar-benar sendirian di rumah?


Apa yang harus Aish lakukan sekarang?


"Lancang!" Murka Nenek entah sejak kapan sudah ada di samping Aish dan mengirimkannya sebuah tamparan.


"Namamu adalah Aisha Rumaisha, memiliki makna yang sangat indah dan harusnya kamu tumbuh mencerminkan namamu sendiri. Tapi kamu tidak, Aish. Kamu telah mengecewakan Nenek!" Kata Nenek murka.


Mencerminkan namanya sendiri? Aish tersenyum dingin. Hatinya sudah tidak mampu menanggung semua ini lagi. Dia ingin segera pergi entah kemana, melarikan diri dari orang-orang yang menyebut diri mereka sebagai keluarganya.

__ADS_1


Hah, betapa tidak adilnya hidup ini.


"Nenek kecewa dengan ku? Maka aku pun sama, aku kecewa karena Nenek tidak ada bedanya mereka." Katanya tanpa emosi.


Tanpa menunggu reaksi marah mereka lagi Aish segera membawa langkah kakinya menjauh dari mereka semua. Berjalan tanpa niat berhenti dengan keinginan gigih di dalam hatinya untuk segera pergi.


Jika dia tetap bertahan di sana mungkin cepat atau lambat dia akan berakhir gila seperti Mamanya.


"Bodoh, apa yang perlu aku tangisi dari mereka." Rutuk Aish ketika merasakan wajahnya sudah mulai basah.


Dan perihnya sungguh menjengkelkan saat jari-jarinya bergeser menyentuh pipinya yang ditampar Nenek. Aish yakin jika pipinya sekarang terlihat bengkak dan merah, meninggalkan cap lima jari yang sangat memalukan apabila dilihat orang.


...🌪️🌪️🌪️...


Suasana hati Aish sedang buruk dan dia butuh pelampiasan. Makanya dia memutuskan untuk pergi ke club'malam sendirian. Untungnya bartender club' malam yang dia datangi adalah kenalan lamanya sehingga Aish tidak perlu takut tinggal sendirian di sana karena kenalannya itu pasti akan melindunginya.


"Jangan mabuk Aish atau enggak Ayah lo bakal makin marah sama lo." Bujuk laki-laki itu tidak ingin memberikan Aish minuman lagi.

__ADS_1


Aish mendengus tidak senang. Kepalanya sangat pusing dan penglihatannya pun mulai tidak jelas. Tapi meskipun begitu dia masih saja meminta minuman tambahan kepada bartender.


"Gue haus, gue mau minum.." Tenggorokannya sangat kering dan dia butuh air minum.


Yang mengherankan adalah setiap kali Aish minum hausnya tidak hilang-hilang dan malah semakin haus ingin minum lagi.


"Gak ada, udah habis." Kata bartender itu berbohong.


Orang mabuk kan gak tahu apa-apa. Lagian Aish masih terlalu kecil untuk minum air keras sehingga bartender tidak ingin memberikan lagi. Lagipula Aish juga baru minum 3 gelas dan reaksinya sudah begini apalagi dia beri gelas tambahan, mungkin dia akan meracau tidak jelas.


"Jangan bohong, gue punya banyak uang dan mampu bayar!"


"Benar-benar habis, gue gak bohong."


Aish mendengus kesal. Marah, dia langsung pergi dari club'malam tanpa membayar uang minuman. Di jalan, dia melangkah terhuyung-huyung dengan tujuan yang tidak jelas. Mungkin dia memang mabuk tapi pikirannya tidak terlalu berkabut dan masih agak jernih. Jadi dia tahu untuk tidak pulang ke rumah Ayah karena dia masih mengingat insiden di rumah.


"Hei cewek, sendirian aja. Mau Abang anterin pulang, enggak?" Di tengah-tengah kebingungannya mencari tempat tujuan, seorang laki-laki jangkung bertatto tiba-tiba datang menghampirinya.

__ADS_1


Aish melihatnya singkat dan berusaha menjaga jarak dari laki-laki bertatto itu. Entah mengapa intuisinya mengatakan jika laki-laki bertatto itu memiliki niat jahat kepadanya.


"Minggir! Jangan deket-deket sama gue!" Bentak Aish tidak mau didekati.


__ADS_2