
"Sejak kapan Kak Aish dekat dengan habib Thalib?" Gumam Aira bertanya-tanya saat merasakan perasaan krisis menghampiri hatinya.
Dia bukannya meremehkan kelebihannya sendiri sebagai seorang gadis, enggak sama sekali. Cuman Aish itu terlalu cantik dan menawan untuk laki-laki. Dan dia sudah membuktikan betapa kuat daya magnet Aish ke beberapa laki-laki. Ini bukan cuma omong kosong saja tapi memang kenyataannya Aish seberbahaya ini.
Wajah Aira langsung menjadi muram. Ingin sekali dia mengikuti Aish dan habib Khalid untuk menengahi mereka tapi penampilannya terlalu mencolok. Orang-orang pasti akan merasa aneh melihatnya tiba-tiba datang menghampiri Aishi karena di kompleks ini perseteruannya dengan Aish bukanlah rahasia lagi. Mereka telah tahu jika Aish sangat tidak menyukainya.
Dan Aira juga sadar tidak seharusnya dia meremehkan estetika habib Khalid tentang perempuan. Karena habib Khalid adalah laki-laki yang dibesarkan di dalam lingkungan yang beradab dan bermandikan ilmu, setiap waktu-waktu nya diajarkan untuk dimanfaatkan beribadah kepada Allah. Jadi agak mustahil bila habib Khalid menyukai Aish, gadis bebas yang jauh akan selera sekelas habib Khalid.
"Nak, kamu ngapain bersembunyi di sini?" Suara Bunda mengalihkan perhatian Aira.
Aira menoleh ke samping dan melihat Bunda sudah berdiri di sisinya entah sejak kapan. Melihat Bunda dia langsung menjadi cemberut dan menempeli Bundanya tampak sedikit manja. Suasana hatinya benar-benar buruk hari ini karena tidak bisa memanen apa-apa.
"Bunda, dimana yang lainnya?" Aira tidak menjawab dan malah bertanya balik.
__ADS_1
Bunda membawa tangannya menunjuk ke halaman rumah mereka. Semua orang sudah duduk dan beristirahat di sana sambil minum beberapa gelas air dingin untuk menghilangkan dahaga. Ada juga beberapa tetangga yang ada di sana dan berbincang-bincang dengan mereka sebentar sebelum pergi kembali ke rumah masing-masing.
"Ada sesuatu yang ingin Aira bicarakan." Kata Aira memiliki kilatan licik di dalam matanya."Ayo kita pergi menemui Nenek dan yang lainnya." Ajak Aira.
Dia menggandeng tangan Bunda dan berjalan bersama-sama ke halaman rumah. Masuk ke halaman rumah, Aira mengernyit tidak senang melihat beberapa Bibi sedang menggerogoti es krim di tangan mereka. Bukan apa-apa, hanya saja rasanya terlalu menyebalkan. Bibi-bibi ini sudah menginap lama di rumah dan telah menghabiskan simpanan es krimnya untuk yang kesekian kali. Setiap melihat lemari es kosong, Aira dengan terpaksa harus mengisi ulang lagi dengan membeli es krim di minimarket terdekat. Belum dua hari es krim simpanannya di dalam kulkas, Bibi-bibi nya pasti dengan semangat akan menggerogotinya. Padahal kan mereka sudah tua tapi senang sekali melahap bongkahan es krimnya.
"Aira, es krim yang ini enak banget. Tapi sayang stoknya udah habis di kulkas." Kata salah satu Bibi seolah tidak memiliki rasa malu di wajahnya.
Aira menggertakkan giginya menahan kesal. Sudah habis?
Bahkan dia baru makan dua biji dan mereka sudah menghabiskan semua simpanannya?
"Aira baik banget ya ampun. Bibi makin betah tinggal di sini."
__ADS_1
Cek, kapan mereka semua pergi dari rumah ini? Setiap hari melihat mereka tidak melakukan apa-apa selain bersantai dan bermalas-malasan, aku sangat bosan. Parasit ini, lain kali mereka datang ke sini aku tidak akan pernah membeli es krim lagi! Batin Aira jengkel.
Hatinya sudah suram gara-gara Aish dan semakin suram lagi ketika melihat sekelompok parasit yang terus menerus menjarah isi rumahnya.
"Aira lagi sedih ya, nak?" Nenek peka dengan perasaan Aira.
Aira mengangguk pelan. Dia mendudukkan dirinya di samping Nenek dan memeluknya untuk mencari kenyamanan. Aira selalu lebih manja jika bersama Nenek karena dari sejak kecil, dia selalu dimanjakan oleh Nenek. Dan karena kebiasaan itu Aira tumbuh menjadi gadis yang lengket ketika bertemu dengan Nenek.
"Iya, Nek. Aira lagi sedih banget."
Nenek menepuk ringan pundak cucunya,"Aira kenapa sedih, mau cerita enggak sama Nenek?"
Aira tampak berpikir, beberapa menit kemudian dia menganggukkan kepalanya bimbang.
__ADS_1
"Nek, aku kasian banget sama temenku." Kata Aira memulai cerita.
"Temenku adalah orang yang baik tapi sedikit nakal saat jatuh cinta. Dia dan pacarnya pernah melakukan sesuatu yang salah tapi mereka berjanji kok untuk menebusnya. Mereka sangat baik tapi Kak Aish... Kak Aish menyebarkan kesalahan yang mereka lakukan ke sekolah dan ke sosial media. Pada akhirnya kesalahan kecil itu diketahui oleh semua orang dan bahkan menyebar ke sekolah-sekolah lainnya sehingga nama naik mereka berdua tercoreng. Sekolah ku juga tidak bisa melakukan apa-apa karena kesalahan itu telah diketahui oleh sekolah-sekolah lain sehingga mereka tidak punya cara selain memberhentikan mereka. Mereka... padahal mereka enggak jahat kok, Nek, dan mereka juga berjanji akan menebusnya suatu hari nanti. Lagipula kita semua masih belum dewasa dan belum bisa bersikap bijak. Jadi melakukan kesalahan kecil menurutku bukanlah sebuah dosa, dan bisa diperbaiki suatu hari nanti. Tapi Kak Aish tidak memberikan mereka berdua kesempatan dan langsung menyebarkannya ke sekolah dan ke sosial media. Hasilnya temanku diberhentikan dari sekolah dan terancam putus sekolah karena tidak ada sekolah yang mau menerima siswa buangan. Dan Kak Aish sendiri... Kak Aish hanya diskorsing beberapa hari untuk menebus kesalahannya tapi temanku terancam kehilangan masa depannya. Nenek...ini sangat tidak adil. Aku menyayangi temanku dan tidak ingin dia putus sekolah." Dia sangat pandai mengarang sebuah cerita.