Wanita Surga Bidadari Dunia

Wanita Surga Bidadari Dunia
Bab 4.4


__ADS_3

"Hari ini keberuntungan ku sangat buruk. Mungkin karena semua keberuntungan ku hari ini digunakan untuk bertemu dengan Kak Khalid." Gumamnya memikirkan hal konyol.


"Tapi... justru karena keberuntungan ku hari ini semua diambil oleh Kak Khalid, aku akhirnya mengetahui perselingkuhan Iyon dan Gisel di belakang ku. Tidak, apakah ini juga bisa aku sebut sebagai keberuntungan? Bukankah karena perselingkuhan ini aku tidak akan terikat lagi dengan Iyon dan Gisel?"


"Sudahlah, jangan memikirkan mereka lagi..." Desah Aish tidak mau terlalu pusing.


Dia segera membuang jauh-jauh pikirannya tentang perselingkuhan Iyon dan Gisel ataupun tentang kejadian tadi. Dia tidak mau terlalu terpuruk.


Diam membisu lagi, pikiran Aish tiba-tiba berkelana mengingat betapa tampan wajah habib Khalid. Tidak hanya tampan, namun habib Khalid juga memiliki akhlak yang baik dan murah senyum.


Habib Khalid adalah tipe laki-laki yang mudah disukai banyak gadis dan Aish....juga tidak mengelak cukup tertarik.


"Sayangnya, dia sudah punya pacar!" Keluh Aish masam.


Memikirkan tentang habib Khalid, Aish tiba-tiba teringat dengan pertemuan di depan musholla tadi. Dia kemudian turun dari ranjangnya dan membuka pintu jendela selebar-lebarnya. Ah, sayang sekali. Orang-orang sudah selesai sholat karena musholla terlihat sangat sepi.


Aish cemberut.


Dia pikir tidak masalah tidak bisa memiliki habib Khalid tapi melihatnya dari jauh juga tidak apa-apa'kan?


Lagipula dia tidak akan merampok habib Khalid dari siapapun!


Rurk!


Perutnya berbunyi. Aish mengusap perutnya yang kini tengah meminta untuk diisi.


Rumah sekarang dipenuhi banyak anggota keluarga Ayah jadi Aish tidak bisa memasak di dapur dan dia juga menolak untuk memakan buatan Ibu tirinya. Tidak punya cara lain, Aish memutuskan untuk pergi membeli nasi goreng di persimpangan komplek biasa tempat orang menjual bubur.


Aish kemudian mengambil baju rumahan dan menggantinya di kamar mandi. Lalu membasuh wajahnya sebentar dan memperbaiki letak rambutnya yang berantakan sebelum keluar dengan dompet di tangan.

__ADS_1


Kebetulan sekali. Saat turun ke bawah Aish melihat keluarga bahagia itu sedang makan di ruang makan. Mereka mengelilingi Aira dengan berbagai macam pertanyaan menggelikan.


"Aira tidak mau pacaran, jika bertemu jodoh nanti Aira ingin menikah dengan ta'aruf agar terhindar dari dosa zinah." Suara lembut itu langsung membuat bulu kuduk Aish merinding.


Dia buru-buru berjalan menjauh dari mereka sebelum yang lain melihatnya.


"Cih, ta'aruf? Mana ada laki-laki baik mau nikah sama nenek lampir kayak lo!" Sungut Aish jadi emosi memikirkannya.


Berjalan cepat menyusuri jalanan komplek, Aish akhirnya sampai di persimpangan gang tapi tidak menemukan abang-abang nasi goreng yang biasanya beroperasi di sini.


"Lho, yang jual nasi goreng kemana?" Tanya Aish celingak-celinguk melihat ke segala arah.


Dia masih tidak menemukan keberadaan abang-abang penjual nasi goreng!


Padahal dia sudah lapar dan ingin makan yang anget-anget.


"Assalamu'alaikum?" Suara lembut seorang gadis mengambil fokus Aish.


Merasa aneh, dia melihat ke kiri dan ke kanan sambil bertanya-tanya mengapa gadis ini ada di komplek ini?


"Wa... waalaikumussalam. Siapa?" Aish berpura-pura tidak mengenalnya.


Gadis itu tersenyum lembut, sangat sopan dan ramah. Sikap gadis itu membuat Aish tanpa sadar nyaman dan pada saat yang sama merasa teduh. Apa alasannya?


"Namaku Nabila, putri Bu Shinta yang ada di seberang gang ini. Kebetulan malam ini keluarga ku mengadakan acara berbagi jadi kami memberikan makanan kepada siapapun yang melewati rumah ku. Tadi aku sempat melihatmu lewat rumahku, jadi kamu juga harus mendapatkan makanan seperti yang lain." Kata Nabila ramah sambil memberikan Aish kotak makanan styrofoam yang masih hangat dan memiliki wangi enak.


Aish meliriknya, dia enggan mengambilnya. Tapi saat melihat orang-orang juga menerima kotak yang sama dia akhirnya mengalah dari ego-nya. Toh, dia juga lapar jadi tidak ada salahnya mengambil makanan ini.


"Terima kasih, wanginya sangat enak." Sanjung Aish mengakui.

__ADS_1


Sejak pembantu rumah mengundurkan diri beberapa bulan yang lalu, Aish berusaha memasak di dapur jika lapar. Namun, makanan yang dia masak tidak pernah mencapai kata lezat sehingga dia lebih sering memesan makanan dari luar. Tapi kotak makanan ini memiliki wangi yang tidak pernah Aish cium sekalipun. Wanginya harum dan pasti sangat lezat.


Aish semakin lapar menciumnya.


Anehnya, senyuman Nabila agak aneh saat dia memuji makanan itu.


"Em, apakah aku boleh bertanya?" Tanya Nabila hati-hati.


Pasalnya dia sudah mendengar tentang Aish dari orang tuanya, jadi dia agak takut.


"Boleh, tanya saja." Aish dalam suasana hati yang baik saat ini.


"Sebenarnya...apa hubungan kamu dengan habib Thalib?" Dia sangat ingin tahu.


"Habib Thalib?" Aish awalnya bingung, tapi tiba-tiba teringat,"Oh, Kak Khalid!"


Nabila mengernyit terganggu, tapi bungkam.


"Kak Khalid adalah laki-laki yang baik, kamu tidak usah khawatir aku mengambil pacarmu. Aku bukan gadis yang seperti itu." Kata Aish blak-blakan.


"Pacar?" Kedua pipi Nabila langsung bersemu merah.


"Ada apa? Apa aku salah berbicara?"


Nabila segera menggelengkan kepalanya membantah. Hatinya segera ditenangkan oleh Aish.


"Apa hanya ini? Bolehkah aku pulang?" Tanya Aish tidak sabar ingin segera pulang makan.


Nabila menganggukkan kepalanya memperbolehkan. Langsung saja, Aish segera pergi tanpa sempat mengucapkan salam perpisahan.

__ADS_1


"Jika gadis ini tidak memiliki hubungan apa-apa dengan habib Thalib, lalu kenapa habib Thalib membuatkannya kotak makanan itu?" Bingung Nabila masih belum menemukan jawaban.


__ADS_2