
Diam di tempat tanpa tahu harus melakukan apa-apa untuk melaksanakan rencananya, Aish kebetulan mendengar percakapan di antara mereka.
"Aku ingin minum orange jus saja." Aira memesan minuman.
"Aku ingin jus mangga." Yang lain menimpali.
"Baiklah, hanya kalian berdua, kan?" Gadis itu bertanya.
Aira dan gadis itu mengangguk. Setelah memastikan pesanan mereka, dia lalu pergi ke arah lain untuk menyiapkan pesanan mereka. Aish secara alami akan mengikutinya. Dia melangkah pelan mengikuti gadis itu ke area makanan. Tidak ingin terlalu mencurigakan, Aish berhenti di sebuah meja kue untuk menikmati makanannya.
Dia menggigit sebuah kue dengan pandangan yang tidak jujur. Sesekali matanya akan menyapu orang itu yang kini tengah sibuk menyiapkan minuman.
5 menit kemudian minuman Aira dan gadis itu sudah siap. Dia mengangkat nampan itu dan bersiap mengantar minuman itu ke mereka.
Aish segera menegakkan tubuhnya, meraba botol mungil itu di dalam tas dan membuka tutupnya di dalam.
Menghela nafas panjang, dia mempercepat langkahnya dan pura-pura menabrak pundak orang itu.
Cling
Aish dengan cepat menyapu tangan kanannya ke atas gelas orange jus pesanan Aira.
"Ah, maaf." Aish pastikan sudah ada 3 atau 4 tetes di dalam minuman itu.
__ADS_1
"Tidak masalah, lagipula minumannya juga tidak tumpah." Orang itu tersenyum santai.
Aish tersenyum lebar, hatinya saat ini berada dalam suasana yang baik,"Lain kali aku akan memperhatikan langkahku."
Orang itu terinfeksi oleh senyuman lebar Aish. Dia terpesona dan tidak bisa mengalihkan pandangannya dari wajah cantik Aish yang menawan. Sampai Aish akhirnya menghilang dari pandangannya, barulah dia tersadar. Menggelengkan kepalanya tidak berdaya, dia tiba-tiba menertawakan dirinya yang dibuat terpesona oleh seorang gadis.
Setelah menyelesaikan misinya, Aish tidak langsung pulang ke rumah. Dia pertama-tama naik ke lantai dua yang cukup ramai tapi tidak seramai di lantai pertama. Berdiri di pinggir pagar besi pembatas untuk melihat pertunjukan yang akan segera dimulai.
Dari tempatnya berdiri Aish bisa melihat orang itu mengantarkan minuman itu kepada Aira dan gadis. Mereka langsung mengambil minuman itu dan menyesapnya sedikit sebelum melanjutkan obrolan lagi. Minuman itu hanya diminum sedikit oleh Aira tapi dampaknya langsung terlihat.
Beberapa kemudian Aira seringkali mengangkat tangannya untuk mengipas-ngipasi wajahnya yang tertutup cadar. Tindakannya yang berulang ini membuat orang-orang disekitarnya bertanya-tanya apakah dia baik-baik saja karena hanya Aira lah yang kepanasan.
Padahal ruangan ini full AC dan sangat sejuk.
Aira juga tidak tahu. Badannya tiba-tiba terasa gerah tapi lama-lama rasanya panas.
"Aira ngaco deh, di sini tuh dingin banget. Masa iya kamu masih ngerasa panas?"
Aira juga tahu itu tidak mungkin tapi tubuhnya benar-benar tidak berbohong. Dia sangat kepanasan saat ini.
"Enggak... enggak..." Kata Aira semakin mengipasi dirinya sekencang mungkin.
Tubuhnya sangat panas. Dia butuh udara dingin. Tapi panasnya semakin membara seiring waktu berjalan. Ini sangat mengherankan dan membuat Aira menjadi takut. Takut sesuatu terjadi pada tubuhnya.
__ADS_1
"Ini panas banget!" Keluh Aira tidak sabar.
Dan ini aneh, panasnya terasa agak berbeda. Dia kepanasan dan memiliki perasaan ingin disentuh. Dia tiba-tiba menjadi haus belaian- ini tidak benar, mungkinkah ada seseorang yang memberikannya obat?
"Aku...aku-"
Prank
Suara pecahan gelas menarik perhatian semua orang.
"Aira!" Semua orang berteriak histeris ketika Aira tiba-tiba jatuh.
Badan Aira sangat lemas dan dia tidak bisa menopang beban tubuhnya lagi. Kehilangan tenaga, tubuhnya segera jatuh merosot ke lantai dan mengejutkan semua orang yang mengelilinginya.
"Panas...panas..." Keluh Aira lemah.
Badannya panas dan menggeliat-liat tidak sabar di atas lantai seperti cacing kepanasan. Citranya sebagai gadis lembut nan anggun seketika hancur karena penampilannya malam ini sangat kacau. Entah sejak kapan dia melepaskan cadarnya dengan kedua tangan mulai meraba-raba tubuhnya. Pemandangan ini praktis terlihat sangat memalukan. Tidak seharusnya menjadi tontonan anak laki-laki. Akhirnya dibimbing seorang guru wanita, anak-anak cewek secara berbondong-bondong mengelilingi Aira, menutupi penampilan memalukan Aira dari mata laki-laki.
"Panggil ambulans! Panggil ambulans!" Perintah guru wanita itu panik.
Dia dan anak-anak cewek yang lain memegang tangan serta kaki Aira yang sedang menggeliat tidak nyaman ingin terus menerus menyentuh tubuh bagian bawahnya.
"Nak, kamu kenapa?" Guru itu jelas sedih melihat penampilan Aira yang sangat kacau.
__ADS_1