
Bukankah gadis ini gila? Aku baru saja sampai di sini pukul 3 pagi dan harus dibangunkan untuk sholat pukul 5 subuh?!
Hei, aku butuh istirahat! Aku butuh waktu untuk istirahat tapi sudah mendapatkan ancaman pengurangan poin dari gadis asing sok alim yang sangat menyebalkan!
Lagipula aku juga belum mendaftarkan diri menjadi santriwati di sini!
"Aku belum mendaftar."
"Kamu sudah didaftarkan oleh keluargamu." Bantahnya cepat.
Aku memelototinya tidak senang tapi dibalas dengan senyuman menyebalkan nya. Fiks, dia adalah kembaran Dira dengan versi upgrade karena mereka berdua memiliki aura menyebalkan di sekujur tubuh mereka berdua.
"Jika kamu tidak mau, maka aku akan memberitahu Umi-"
"Okay, fine! Aku pergi, dasar cerewet!"
Aku menutup pintu kamar jengkel. Mengikutinya pergi ke kamar mandi yang terletak agak jauh dari kamar tempat ku tidur. Kami harus melewati beberapa kamar untuk sampai ke tempat itu.
"Oh ya, kenalkan namaku Nasifa, aku adalah salah satu santriwati di pondok pesantren ini. Senang bertemu dengan mu, Aisha." Dia mengenalkan dirinya sendiri.
__ADS_1
"Hem." Kataku tidak tertarik,"Jangan panggil aku Aisha karena aku lebih suka di panggil Aish." Tekan ku tak senang.
Aisha, nama ini terlalu alim dan aku tidak suka memakainya karena aku tahu seberapa rendah pemahaman agamaku.
"Nama yang bagus, aku juga suka nama ini."
Celotehnya di sampingku. Karena agak jengkel dengan ancamannya tadi, persepsi ku tentang Nasifa turun beberapa derajat. Dia adalah jelmaan Dira, untungnya, ini lebih baik daripada aku harus bertemu dengan jelmaan Gisel.
Jelmaan satu Dira saja sudah memusingkan apalagi jelmaan Gisel, bisa-bisa stres aku lama-lama di sini. Ish, apa sih yang aku pikirkan?
Aku enggak akan tinggal lama di sini karena aku akan memulai kehidupan baruku di luar kota!
Yah, bersama dengan kedua tabungan Mama, aku pasti bisa menjalani hari yang baik di luar sana. Tinggal cari cara aja biar bisa keluar dari tempat ini--
Deg
Jantungku berdegup sangat kencang ketika mendengar suara ini. Ini adalah Kak Khalid, tidak salah lagi. Yakin dengan tebakan kepala ku, langkah kakiku berjalan cepat berbelok ke arah sumber suara- di teras rumah.
"Eh Aish, kamu mau kemana?!" Panggil Nasifa di belakang ku.
__ADS_1
Panggilan Nasifa langsung ku abaikan karena yang terpenting sekarang adalah menemukan Kak Khalid. Karena aku hapal betul dengan suara Kak Khalid jadi aku yakin, orang yang berbicara tadi pasti Kak Khalid.
Semakin dekat pintu teras maka semakin cepat pula langkahku. Beberapa langkah mendekat pintu, aku segera meraihnya dan menarik gagang pintu hingga terbuka.
"Kak Kha- ah..." Seketika langkah kakiku terpaku di tempat.
"Lho, Aish kok ada di sini?" Suara lembut Abah menegurku.
Aku tersadar, menatap kecewa Abah dan seorang laki-laki asing berbaju koko dengan sarung coklat kini tengah berdiri di teras. Kecewa, ternyata aku salah menebak. Suara yang aku pikir milik Kak Khalid mungkin suara laki-laki asing ini.
Aku melirik laki-laki asing itu dengan tatapan penilaian, akan tetapi laki-laki itu tidak mau melihat ku. Dia langsung menundukkan kepalanya menghindari mataku.
"Aish?" Panggil Abah.
Aku malu.
"Maaf, Abah. Aku...mencari sandal rumah yang aku bawa semalam." Bohongku membuat alasan.
"Sandal mu masih di sini. Semalam Umi memindahnya ke atas rak."
__ADS_1
Aku mengangguk malu, tidak berani menatap mata Abah. Takutnya Abah membaca kebohongan ku.
"Kalau begitu aku akan pergi mengambilnya di rak."