
"Habib Thalib, namamu habib Thalib, kan?" Tanya Aish langsung.
Dengan kepala merendah habib Thalib tersenyum lembut di depannya. Senyumannya sangat ringan tapi Aish merasa nyaman ketika melihatnya.
"Benar, namaku adalah Muhammad Thalib Al Khalid, kamu bisa memanggil ku Thalib ataupun Khalid." Ujar habib Thalib memperkenalkan diri.
"Hem...nama yang bagus, apa aku boleh memanggil mu Khalid saja?" Tawar Aish lebih nyaman dengan nama ini.
Habib Khalid menatap wajah cantik Aish yang kini tengah menatapnya dengan tatapan penuh harap, tersenyum, dia memalingkan wajahnya melihat ke depan seraya menganggukkan kepalanya.
"Panggil saja aku Khalid." Katanya samar.
Dug
Dug
Dug
Darah Aish langsung berdesir dengan panik dan jantungnya tiba-tiba berdebar lebih kencang tanpa peringatan apapun. Rasanya sangat aneh...tapi anehnya ini menyenangkan.
"Maka aku akan memanggil mu Kak Khalid mulai dari sekarang bila kita bertemu lagi. Tidak apa-apa kan aku tidak memanggil mu dengan habib?" Sekali lagi Aish menawar.
Diam-diam dia memperhatikan wajah tampan habib Khalid. Dia ingin tahu apakah habib Khalid keberatan dengan permintaannya atau tidak. Tapi dugaannya ternyata salah. Habib Khalid malah tersenyum, dan tampak sangat ringan. Dia sungguh laki-laki yang hangat dan murah senyum.
__ADS_1
"Tentu saja, aku tidak keberatan."
Aish puas. Dia juga tidak ingin ketinggalan jadi dia mengambil kesempatan ini untuk memperkenalkan dirinya kepada habib Khalid.
"Kita sekarang satu komplek dan mungkin akan sering bertemu. Jadi jika bertemu lagi kamu bisa memanggilku A-"
"Assalamu'alaikum, habib Thalib?" Suara lembut seorang gadis menginterupsi ucapan Aish.
"Dasar pengga-"
Aish terganggu, dia awalnya ingin melayangkan protes pada gadis itu tapi semua kata-katanya segera tertelan saat dia melihat siapa gadis itu.
Gadis cantik itu tampak malu,"Maaf?"
Aish ingat siapa gadis ini. Dia adalah gadis cantik yang Aish lihat di pinggir jalan beberapa waktu lalu. Gadis ini adalah pacar habib Khalid dan ini tidak diragukan lagi disimpulkan saat melihat interaksi mereka berdua yang pemalu.
"Bukan apa-apa." Kata Aish sambil mengalihkan pandangannya menjauh dari mereka berdua.
Aish bukanlah orang yang munafik. Dia mungkin tertarik kepada habib Khalid tapi bukan berarti dia mau bertindak tidak tahu malu seperti Ibu tirinya. Dia membenci setiap orang yang merusak hubungan orang lain jadi bagaimana mungkin dia menjerumuskan dirinya ke posisi yang paling dia benci itu?
Tidak, Aish tidak mau melakukannya jadi dia segera membuang jauh-jauh pikirannya mengenai habib Khalid.
"Aku harus pergi Kak Khalid, assalamualaikum." Kata Aish melarikan diri dari mereka berdua.
__ADS_1
Dia tidak tahu bila ekspresi gadis itu sedikit aneh saat mendengar panggilannya tadi kepada habib Khalid.
"Kak Khalid?" Gumamnya tidak nyaman.
Sebab ini pertama kalinya dia mendengar seseorang memanggil habib Khalid dengan sebutan 'Kak Khalid'. Biasanya orang-orang akan memanggil habib Khalid dengan sebutan habib Thalib atau habib, sebagai bentuk kesopanan.
...🌪️🌪️🌪️...
Aish berencana langsung pulang ke rumah dan tidak akan mampir kemanapun karena suasana hatinya hari ini sedikit tidak benar. Namun, niatnya tiba-tiba tertunda saat melihat seseorang yang dia kenal kini tengah asik bercengkrama di dalam kafe.
"Eh, Iyon sama Gisel kok keluar gak bilang-bilang? Biasanya mereka selalu menghubungiku saat berpergian." Gumam Aish heran.
Dia berencana ingin memanggil mereka berdua dan ikut bergabung di dalam sana. Akan tetapi langkah kakinya tiba-tiba tertahan saat mengingat peringatan Dira tadi siang di sekolah.
Tadinya dia bingung dengan peringatan Dira tapi sekarang setelah dipikir-pikir, ada yang salah dengan semua ini. Untuk memastikan kecurigaannya, Aish mencoba menghubungi Iyon terlebih dahulu.
"Ho, kamu semakin membuatku curiga." Kata Aish suram.
Di seberang sana Iyon jelas-jelas melihat panggilan masuk di ponselnya tapi dia tidak mau mengangkatnya karena tangan Gisel menghalanginya. Mereka terlihat membicarakan sesuatu, entah tentang topik apa tapi terlihat sangat asik karena setelah itu Iyon benar-benar mengabaikan panggilannya.
Dari sini semua kecurigaan Aish seharusnya terbukti jika ada sesuatu diantara Iyon dan Gisel. Dengan kata lain mereka berdua telah diam-diam menusuknya dari belakang. Dua orang, yang satu adalah teman dan yang satu adalah pacarnya, diam-diam dan secara kompak mengkhianatinya.
"Ouh, ****!" Umpatnya marah dengan emosi tertahan.
__ADS_1
Hah, betapa menjijikkannya mereka berdua. Aish tiba-tiba merasa mual tapi tidak bisa menumpahkan apapun dari dalam perutnya. Hatinya hancur, dia tidak bisa mengelak. Ada marah dan juga sedih karena dia orang kepercayaannya telah menusuknya dari belakang.
Sakit rasanya.