
"Ayah... Ayah..." Tangis menyedihkan Bunda menarik Ayah dari lamunannya.
Dia menatap wajah basah nan sembab istrinya karena terlalu banyak menangis. Dalam hidup ini dia tidak pernah melihat istrinya sehancur malam ini dan menangis sekeras ini, jujur, rasanya sangat menyakitkan melihatnya seperti ini.
"Tolong... berikan keadilan untuk Aira. Aku mohon kali ini saja...kali ini saja, tolong berikan keadilan untuk putriku! Dia...dia tidak bersalah! Padahal dia selalu berusaha menjalin hubungan yang baik dengan Aish! Dia berharap Aish bisa menganggapnya sebagai adiknya sendiri! Dia...dia selalu berkata ingin berbicara banyak dengan Aish. Tapi Aish, Yah...tapi Aish justru menolaknya. Berulang kali adiknya berusaha menjalin hubungan dengannya tapi selalu diperlakukan dengan dingin oleh Aish. Ayah... Aira tidak salah apa-apa tapi kenapa Aish harus melakukan ini kepadanya? Aku tidak mengerti dimana letak salah putriku sampai-sampai mendapatkan kejahatan ini di dalam hatinya?! Aku tidak mengerti dimana salah putriku, Ayah!" Tanya Bunda tidak mengerti.
Dengan ditopang beberapa ipar perempuannya Bunda mengatakan semua keluh kesahnya yang terkendali di dalam hati. Sungguh, dia tidak mengerti dimana salah Aira hingga harus mendapatkan perlakuan kasar dari Aish?
Bukankah mereka saudara? Dan Aira juga tidak pernah menganggu Aish karena dia tahu bagaimana sikap acuh tak acuh Kakaknya tersebut.
"Kakak jangan terlalu banyak menangis. Aira pasti sedih melihat Kakak seperti ini." Hibur yang lain ikut sedih mendengar tangisannya.
"Bagaimana aku tidak menangis melihat putriku dipermalukan sedemikian rupa oleh orang yang sangat ingin dia panggil sebagai Kakaknya, tidak! Aku bahkan merasa sangat hancur untuknya!" Balas Bunda sakit hati.
__ADS_1
"Aish pasti akan mendapatkan ganjarannya, Kak. Dia pasti akan dihukum oleh suami Kakak."
Ayah memejamkan matanya menahan gejolak amarah. Beberapa detik kemudian dia membuka matanya dengan tatapan berapi-api dan berkata kepada adik laki-laki dan ipar laki-lakinya yang hadir di sini.
"Ayo kita dobrak pintu ini sama-sama..."
...🌪️🌪️🌪️...
Brak!
Brak!
Brak!
__ADS_1
Di luar sana sangat berisik. Dia tidak lagi bisa tidur dengan nyaman. Kesal, dia membuka paksa matanya dan melihat tidak puas ke arah pintu kamarnya. Awalnya dia akan berteriak untuk menghentikan tindakan gila orang-orang di luar sana.
Tapi semua kata-katanya seolah tertelan saat kedua bola matanya menatap ngeri pintu kamarnya rusak parah hingga terbanting ke atas lantai.
"Argh!" Dia menjerit ketakutan di atas ranjang menyaksikan pintu kamarnya rusak.
"Aisha Rumaisha!" Raungan marah Ayah sekali lagi mengejutkan Aish.
Aish menatap bengong orang-orang di luar sana yang kini tengah menatapnya dengan tatapan tajam dan beracun. Dan dia semakin bengong ketika Ayah nya tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya, mencengkram lengan tangannya dan menyeret Aish kasar keluar dari kamarnya.
"Akh, Ayah sakit! Tangan Aish sakit, Ayah!" Teriak Aish spontan ketika diseret keluar oleh Ayahnya.
Aish sungguh tidak bersandiwara. Lengan tangan yang Ayahnya cengkram sangat sakit. Ayah mencengkeram tangan Aish dengan tenaga yang tidak main-main sehingga membuat Aish berteriak kesakitan. Saking sakitnya Aish sampai memukul-mukul tangan Ayah agar melonggarkan cengkeramannya tapi tidak pernah digubris oleh Ayah. Dia mengabaikan suara kesakitan Aish dan menyeretnya ke ruang tamu.
__ADS_1
"Aduh Ayah, sakit! Tangan Aish sakit, Ayah-"
Brak