Wanita Surga Bidadari Dunia

Wanita Surga Bidadari Dunia
Bab 6.8


__ADS_3

"Ayah, itu bukan salah kita. Tapi salah Mamanya sendiri yang ngotot ingin menikahi Kakak. Padahal kan Kakak saat itu sedang berpacaran dengan Kakak ipar." Bibi enggan disalahkan dalam hal ini.


"Kamu masih berani membantah?" Tanya Ayah tidak puas kepada putrinya."Jika Kakak mu mengatakannya lebih awal mengenai hubungannya dengan yang lain, maka Mama Aish tidak akan pernah melambungkan harapan kepadanya. Tapi pada akhirnya apa yang dia lakukan? Dia diam saja saat Kakek dan Nenek mu menjodohkan mereka berdua, tapi diam-diam menikahi wanita lain tanpa sepengetahuan Mama Aish juga Kakek dan Nenek. Maka wajar saja Aish kecewa kepada kita semua karena bahkan kita, keluarganya tidak mampu menyelamatkan Mamanya. Kita telah mengkhianatinya sejak Kakakmu menikah lagi." Sambung Kakek dengan suara tuanya yang berat.


Karena perdebatan di atas meja, Kakek tidak memiliki nafsu makan lagi dan tidak ingin melanjutkan makanannya. Dia segera melepaskan alat-alat makannya dan segera beranjak dari tempat duduknya. Mengabaikan panggilan orang-orang di atas meja karena dia sedang ingin menenangkan dirinya.


Selepas kepergian Kakek, suasana di atas meja tidak membaik. Semua orang terinfeksi suasana buruk hati Kakek. Mereka juga tidak berniat melanjutkan acara makan siang lagi namun enggan beranjak dari tempat duduk.


Sementara Ayah dan Bunda, sang pelaku yang dicap telah melakukan pengkhianatan juga tidak bisa memberikan komentar apapun karena pada dasarnya mereka menyadari jika ini adalah kesalahan mereka sejak awal.


"Maaf, Mas. Ini semua karena aku." Mohon Bunda sedih.


Kedua matanya berkaca-kaca ingin menangis tapi dia menahannya sekuat tenaga agar tidak membuat suaminya sedih.

__ADS_1


"Tidak," Bantah Ayah bersalah. Bahkan hatinya masih sakit ketika mengingat hari kepergian Mama Aish. Hari dimana istri pertamanya tidak pernah mengucapkan sepatah katapun kepadanya.


Dia sangat menyesal.


"Ini semua adakah salahku."


...🌪️🌪️🌪️...


Sore hari. Seorang laki-laki tampan dan tinggi turun dari sebuah mobil Van hitam yang tidak terlalu mencolok. Di tangan kanannya laki-laki itu terlihat membawa sebuah parsel buah-buahan yang tersusun rapi dan indah, sedangkan ditangan kiri laki-laki itu dia membawa beberapa paper bag hitam ukuran sedang.


Kaki jenjangnya melangkah lurus menapaki jalan beraspal sebuah perumahan elit di daerah tertentu. Lingkungan rumah yang sepi menunjukkan jika orang-orang yang tinggal di sini adalah orang-orang berkarir atau memiliki pekerjaan yang sangat sibuk.


"Assalamu'alaikum?" Suara beratnya yang lembut mengalun lembut di udara.

__ADS_1


Orang-orang yang mendengar ucapan salam laki-laki ini tidak bisa menahan diri untuk menjawabnya.


"Assalamu'alaikum?" Salam laki-laki itu lagi karena belum mendapatkan respon dari sang penghuni rumah.


"Waalaikumussalam." Jawab suara wanita tua dari dalam.


Beberapa detik kemudian suara kunci berderak nyaring di dalam pendengaran laki-laki itu.


"Siapa- hah, habib Thalib?" Wanita tua itu sangat terkejut melihat habib 'Thalib', laki-laki tinggi nan tampan itu adalah habib Khalid.


"Nenek, lama tidak bertemu. Bagaimana kabar Nenek dan Kakek selama ini?" Sapa habib Khalid sopan dengan senyuman lembut di wajahnya yang meneduhkan.


Hati Nenek terguncang. Dia tiba-tiba memiliki keinginan untuk menumpahkan air matanya tapi karena alasan tertentu dia terpaksa menahannya. Habib Khalid, laki-laki ini sekarang sudah tumbuh dewasa dan sangat tampan, selain itu dia juga memiliki akhlak yang sangat baik.

__ADS_1


"Alhamdulillah, kabar kami semua baik-baik saja di sini. Kedatangan habib Thalib ke sini..." Nenek ragu menanyakannya.


"Nenek, maaf hari ini aku mengganggu waktumu. Namun, kedatangan ku hari ini sangat mendesak karena berkaitan dengan janji Bibi Arum 15 tahun yang lalu. Aku pikir sudah waktunya dia dikirim ke pondok." Jawabnya lembut dan sopan tidak lupa dengan senyuman cerah di wajahnya yang tampan lagi meneduhkan.


__ADS_2