
"Iya, Bun. Oh iya, Kak Aish semalam udah pulang ke rumah kan?"
Suasana di meja makan langsung menjadi canggung. Aira heran kenapa semua orang terdiam dan enggan memberi tanggapan. Tapi kenyataanya, dia sudah mendengar semalam jika Aish pulang dalam keadaan mabuk. Aira juga tahu semua keluarganya pasti sangat marah dengan sikap Aish karena membuat wajah keluarga mereka tercoreng. Aira tahu tapi masih mengungkitnya karena dia masih marah dengan semua barang-barang Aish hancurkan kemarin.
Suasana hatinya saat bertemu dengan habib Khalid langsung tersapu bersih oleh ulah gila Aish.
"Jangan sebut dia lagi, Aira. Kakak kamu itu telah membuatku malu keluarga. Dia masih gadis tapi minum minuman keras, hah...entah akan seperti apa dia ketika besar nanti." Kata bibi yang sering mencari masalah kepada Aish.
Aish adalah momok bagi keluarga. Dia tidak tahan melihatnya berkeliaran dimana-mana dan mempermalukan nama keluarga.
"Astagfirullah, Kak Aish mabuk?" Aira sangat shock mendengarnya.
Kedua matanya yang tidak tertutupi kain cadar melotot tidak percaya dengan apa yang baru saja bibi katakan.
Aira dengan sandiwaranya yang cantik masih berbicara untuk Aish.
__ADS_1
"Kak Aish gak mungkin minum minuman keras. Dia tahu kalau minuman keras itu gak baik dan diharamkan oleh agama kita."
Ayah menghela nafas berat. Dia menggelengkan kepalanya lemah. Makanan yang tersaji di atas piringnya tiba-tiba terlihat tidak enak di matanya. Dia tidak mau sarapan.
"Aish mungkin tidak sengaja melakukannya dan hampir saja digangguin oleh seorang preman. Tapi untungnya ada habib Thalib yang datang menolong. Jika tidak, nasib Aish pasti tidak bisa dikatakan lagi. Di masa depan, jangan lupa untuk berterima kasih kepada habib Thalib untuk kebaikan nya menolong Aish. Dia adalah laki-laki yang baik dan sopan."
Begitu kata-kata Ayah jatuh, gelas yang baru saja diangkat Aira langsung jatuh ke atas meja dengan bunyi denting yang membuat ngilu pendengaran semua orang. Air putih yang belum sempat Aira minum langsung membasahi sebagian besar permukaan meja makan.
"Nak?" Kaget Bunda.
Aira tersadar dan menatap ngeri air gelasnya telah membasahi sebagian permukaan meja makan. Dia mana mau disuruh membersihkan meja karena sebentar lagi dia akan berangkat sekolah. Di tambah lagi dia tidak pernah melakukan pekerjaan kasar di rumah ini jadi akan membuat berbagai macam alasan untuk menolak- namun, fokusnya sekarang bukan masalah ini.
Dia menggunakan cadar sehingga mereka tidak bisa melihat ekspresi cemberutnya.
"Seperti yang Pak Amat jelaskan. Dia membantu Aish mengusir preman yang mengganggunya." Jawab Ayah tidak melihat keanehan putrinya.
__ADS_1
"Terus...terus, Kak Aish pulangnya sama siapa?"
Jangan bilang dia pulangnya sama habib Thalib! Batin Aira masam.
"Aish pulang semalam dianterin sama Pak Amat dan istrinya-"
Begitu mendengar paruh kalimat ini, Aira bernafas lega dan senang mendengarnya. Tapi saat mendengar paruh kalimat lainnya, dia tidak bisa tersenyum lagi.
"Kebetulan habib Thalib dan keluarga Pak Amat pulang bersama. Jika tidak, habib Thalib tidak akan bisa menolong Kakak mu, Nak." Kata Ayah langsung membuat Aira tertekan.
Aisha! Gadis bodoh ini sudah melangkah terlalu jauh! Karena membenciku, dia bahkan nekat menarik perhatian habib Thalib! Ini tidak bisa dibiarkan. Aku harus memikirkan rencana agar Aish tidak bisa dekat lagi dengan habib Thalib dan merusak rencana perjodohan ku! Batin Aira panik mulai mencari solusi.
Jangan salahkan dia terlalu kejam kepada saudaranya sendiri karena faktanya Aish memang orang yang sangat menyebalkan. Sejak kecil Aish tidak pernah menganggapnya sebagai saudara, melainkan seorang gadis bermuka dua. Tentu saja perlakuannya ini tidak membuat Aira senang. Sama seperti Aish yang tidak menyukainya, Aish pun juga tidak menyukai Aish!
Dia masih sabar diganggu dan disumpah serapahi oleh Aish. Bahkan dia mengikhlaskan semua barang-barangnya yang dirusak kemarin karena keluarnya membelikan dia barang yang baru. Dia sabar tapi tingkat ketidakpuasannya semakin tinggi.
__ADS_1
Dan puncaknya saat ini. Dia memiliki ambisi yang kuat untuk segera mengenyahkan Aish dari rumah ini.
"Alhamdulillah, syukurlah habib Thalib membantu Aish. Jika tidak, Aira takut Kak Aish kenapa-kenapa." Kata Aira lembut, bersikap seolah-olah dia sama sekali tidak terganggu dengan taktik yang Aish lakukan kepada habib Khalid- ini murni pemikirannya yang berlebihan.