
"Sungguh, Ayah?" Aira sangat senang mendengarnya.
Sementara itu Aish yang tidak sengaja menonton dan mendengarkan pertunjukan keluarga harmonis mereka langsung memutar bola matanya malas. Keluarga ini selalu tampil bahagia dan hangat dimana-mana pikirnya.
"Oh ya, sangat bahagia. Setelah malam ini aku berjanji akan membuat mu tidak pernah lagi tersenyum." Gumam Aish sinis.
Dia lalu melanjutkan langkahnya dan mengabaikan keberadaan keluarga bahagia itu. Pergi tanpa pamit sudah menjadi kebiasaannya baru-baru ini. Tapi tidak ada yang melayangkan protes atau berkomentar lagi sejak Aish berdebat dengan mereka.
Setelah Aish keluar dari rumah, Aira diam-diam melirik pintu yang masih terbuka lebar dengan senyuman manis terbentuk dibibir nya. Senang, dia kemudian melihat kedua orang tuanya dengan perubahan emosi yang sangat cepat. Tidak ada lagi senyum kemenangan yang sempat terukir di bibirnya tadi.
"Bunda, Ayah, Kak Aish gak mau ngomong lagi sama aku." Kata Aira terdengar sedih.
Ayah mendesah panjang. Hatinya rumit. Ia merasa bersalah untuk putri pertamanya tapi pada saat yang sama dia juga marah karena putri pertamanya telah membuatnya sangat kecewa. Dia telah berulang kali mencoba untuk mempercayainya tapi akan selalu dikecewakan olehnya. Jadi, bagaimana mungkin dia mempercayainya disaat Aish sendiri telah berulang kali mengecewakannya.
"Nak, sabarlah. Kakak mu memang seperti itu. Bila sudah waktunya dia pasti akan berbicara denganmu." Kata Ayah menghibur kesedihan putrinya.
Aira mengangguk sedih. Menundukkan kepalanya, sudut mata menyedihkan itu menarik sebuah garis senyuman, namun tidak lama.
__ADS_1
"Yah, Aira harap Kak Aish memaafkan kesalahan Aira dan mau berbicara lagi dengan Aira." Kata Aira masih memainkan perannya.
"Doakan yang terbaik untuk Kakak mu."
...🌪️🌪️🌪️...
Di tengah jalan, Aish berhenti di depan sebuah apotek. Dia datang menghampiri mbak-mbak yang berjaga di sana.
"Ada obat afrodiasik, enggak?" Tanya Aish mengejutkan mbak-mbak itu.
Melihat keraguan wanita itu, Aish langsung menunjukkan kartu tanda penduduk sambil menunjuk bagian tanggal lahir dengan jari panjangnya.
"Aku sudah 18 tahun, mbak." Bilangnya tanpa merubah warna wajahnya.
Wanita itu melihat kartu tanda penduduk Aish dan langsung mengangguk dengan malu. Tapi meskipun begitu tetap saja rasanya aneh seorang remaja membeli obat terlarang.
"Tunggu sebentar." Wanita itu masuk ke dalam sambil menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Cek..cek..cek, pergaulan anak remaja sekarang sangat berbahaya. Baru umur 18 tahun saja sudah berani menggunakan obat-obatan terlarang." Gumam wanita itu ditengah-tengah mengambil obat.
Beberapa menit kemudian dia kembali ke depan dan menaruh sebotol kecil obat afrodiasik kepada Aish.
"Ini, 135 ribu." Kata wanita itu.
Aish mengambil dua lembar merah uang dan menaruhnya di atas meja.
"Anggap saja kembaliannya sebagai tips dariku." Kata Aish.
Dia mengambil botol mungil itu dan memasukkannya ke dalam tas.
Keluar dari apotek, dia melambaikan tangannya untuk menghentikan taksi dan melanjutkan perjalanan menuju gedung pesta.
Di dalam mobil taksi Aish memandangi jalanan di luar sana dengan perasaan campur aduk. Dia salah, dia tahu semuanya salah. Dan dia bukan orang yang pendendam pula. Hanya saja dia tidak bisa menahan diri untuk melihat keluarga rampasan itu hidup bahagia di atas penderitaan Mamanya. Bahkan Ayah yang telah menyakiti Mamanya juga tidak mencintainya sebagai seorang anak. Dia telah dipinggirkan sepenuhnya dalam keluarga ini. Jadi rasa sakit ini...anggap saja untuk menebus rasa sakit yang dirasakan Mamanya bertahun-tahun yang lalu.
"Maaf, Aira. Tapi aku tidak punya cara selain melakukan ini kepadamu."
__ADS_1