Wanita Surga Bidadari Dunia

Wanita Surga Bidadari Dunia
Bab 3.4


__ADS_3

Aish mengangkat bahunya mengabaikan peringatan Dira. Dia tidak menganggapnya serius karena Iyon adalah pacarnya sekaligus orang yang dia percayai. Iyon tidak akan mengkhianatinya sebab hubungan ini berawal dari Iyon sendiri.


Aish lalu membawa langkah kakinya menuju ruangan kelasnya. Niat hati ingin membolos sekolah lagi tapi segera pikiran itu menguap dari otaknya saat matanya tidak sengaja menangkap tanggal berapa hari ini di kalender.


Hari ini tanggal x, bulan xx, tahun xhh.


Tidak terasa sudah 16 tahun sejak Mama pergi meninggalkannya di dunia ini. Tepatnya hari ini. Hari ini adalah hari peringatan kematian Mama dan biasanya Ai akan meluangkan waktu untuk mengunjungi makam Mama. Dia akan membeli buket besar bunga mawar putih untuk Mama dan menggunakan pakaian terindah di dalam lemari untuk bertemu dengan Mama.


"Bagaimana bisa aku melupakan hari penting ini?" Bisiknya pada diri sendiri.


Suasana hatinya langsung menurun. Dia terlihat tidak bersemangat dan agak dingin. Tidak ada lagi senyuman manis di bibirnya.


Dia juga tidak mood bolos sekolah hari ini karena ingin berperilaku baik. Dia tidak mau Mama tahu betapa nakalnya dia di sekolah.


Maka hari ini dilalui dengan sangat tenang dan damai oleh Aish, setidaknya ini yang teman kelasnya lihat. Aish tidak berbicara dan hanya memainkan ponselnya sepanjang waktu.


Tepat setelah bel pulang berbunyi, dia langsung memasukkan ponselnya ke dalam tas dan buru-buru keluar dari kelas.


Di lapangan sekolah dia tiba-tiba dipanggil oleh Iyon.


Iyon ingin mengajaknya pergi berkencan tapi langsung ditolak oleh Aish tanpa pikir panjang. Dia tidak mau menyia-nyiakan waktu pentingnya hari ini dan melewati pertemuannya dengan Mama.


"Jadi kamu gak pergi?" Iyon kecewa.

__ADS_1


Aish mengangguk,"Maaf, hari ini aku ada urusan. Mungkin lain kali."


"Urusan apa?" Iyon ingin tahu.


Aish memalingkan wajahnya menatap gerbang untuk menghindari tatapan kecewa Iyon.


"Urusan keluarga." Untuk saat ini dia tidak bisa memberi tahu Iyon mengenai Mama.


Iyon tahu atau bahkan mungkin hampir semua orang tahu jika dia besar tanpa kasih sayang seorang Ibu. Tapi selain dirinya tidak ada yang tahu jika setiap tanggal kepergian Mama, Aish akan pergi berkunjung ke makam.


"Oh, mau aku temani?"


Aish sekali lagi menggeleng.


"Udah ya, aku harus pergi. Lain kali kalau ada waktu kita akan pergi berkencan." Kata Aish dengan tangan melambai-lambai menjauh dari Iyon.


Aish pulang ke rumah dengan taksi. Dia pulang untuk membersihkan diri dan mengganti pakaiannya dengan gaun hijau muda selutut yang baru saja dia beli di mall beberapa waktu yang lalu. Saat akan berangkat ke tempat pemakaman, Aish sejenak melihat lingkungan rumah tempat tinggalnya. Tidak ada siapapun di rumah dan hanya ada Aish seorang. Entah kemana keluarga bahagia itu pergi tapi yang pasti Aish tidak ingin tahu.


Malah ia bersyukur tidak bertemu dengan mereka saat ini.


Pergi ke pemakaman dia menghabiskan waktu yang cukup lama di sana untuk mengobrol dengan Mama. Setelah puas, dia lalu pamit izin pulang kepada Mamanya yang hanya dibalas oleh sapuan sejuk angin sore.


Aish mengambil nafas panjang. Langkah kakinya sama sekali tidak goyah sekalipun kedua matanya telah menimbulkan riak-riak dangkal di pelupuk.

__ADS_1


"Hah?" Tiba-tiba mata merahnya menangkap keberadaan seseorang.


Dia berhenti dan menatap aneh sosok tampan itu.


"Apa kebetulan di dunia sedang melakukan diskon? Kenapa aku merasa habib Thalib ada dimana-mana?" Katanya aneh.


Walaupun merasa aneh tapi dia sebenarnya agak senang bertemu dengan habib Thalib, apalagi saat ini hatinya sedang dalam kondisi yang buruk dan membutuhkan penghiburan.


"Habib Thalib!" Aish berteriak nyaring dan langsung mendapatkan perhatian habib Thalib.


Senang, Aish buru-buru mempercepat langkahnya mendekati habib Thalib. Saat jarak di antara mereka semakin menipis, habib Thalib tiba-tiba mundur beberapa langkah agak menjauh dari Aish seraya merendahkan pandangannya.


Aish tercengang dengan jarak yang habib Thalib ciptakan dan dia agak tersinggung saat habib Thalib menghindari matanya.


Apa dia sama sekali tidak menarik untuk habib Thalib atau apa sebenarnya dia kurang cantik makanya habib Thalib enggan melihat wajahnya?


"Assalamu'alaikum?" Suara berat dan lembut habib Thalib segera mengambil alih fokus Aish lagi.


Habib Thalib sangat sopan tapi Aish tidak senang karena entah mengapa dia merasa habib Thalib sedikit mengasingkannya.


"Wa.. waalaikumussalam, habib." Ugh, canggung rasanya.


Dia tidak pernah sesopan ini sebelumnya ketika bertegur sapa dengan orang. Kecuali, yah, dengan Ayah dan beberapa guru di sekolah yang pantas dihormati.

__ADS_1


"Habib Thalib, namamu habib Thalib, kan?" Tanya Aish langsung.


__ADS_2