
Saat bangun tidur, aku melihat sebuah paper bag putih di atas meja. Padahal sebelum tidur tadi aku tidak melihat keberadaannya tapi setelah bangun sudah ada di atas meja saja.
"Apa ini?" Aku membukanya.
"Apa-apaan?" Jelas aku marah.
"Siapa yang menaruh baju badut ini di sini-"
"Aku." Seseorang memotong ucapan ku.
"Kamu?" Ternyata ada Nasifa di dalam kamarku.
Eh, sejak kapan dia masuk?
"Jangan banyak protes. Sekarang baju badut ini harus kamu pakai." Katanya sambil menahan tawa.
Apa dia pikir baju badut ini lucu, kali! Eh, dia sendiri kan pakai baju badut juga tapi kok masih sok menertawakan orang lain sih?
"Kalau aku enggak mau?" Tanyaku bersikukuh.
Dia tersenyum kecil,"Maka poin mu akan dikurangi 50. Maka dengan pengurangan yang sangat besar, mau tidak mau Abah harus memanggil kedua orangtua mu. Setelah itu kamu akan dihukum membajak sawah pondok-"
"Cukup!" Semakin lama aku mendengar maka semakin gila aku!
Yang benar saja?
Dengan dibuangnya aku ke tempat ini maka hubungan ku dengan mereka sudah berakhir. Aku tidak ingin dipermalukan lagi oleh mereka dan aku juga tidak mau membajak sawah. Hell, di kota kelahiran ku saja hal yang sangat berlumpur tak pernah menyentuh kulit kakiku, apalagi sampai menjajakinya?! Mimpi!
"Ck, aku akan ganti baju!"
Aku terpaksa melakukannya, catat! Aku terpaksa!
__ADS_1
"Tunggu sampai aku melarikan diri dari tempat penampungan sampah ini!" Monolokku pada diri sendiri.
10 menit kemudian aku keluar dari kamar dan melihat wajah berseri Nasifa yang sangat menyebalkan. Anak ini telah membuat ku gondok setiap kali kami bertemu.
"Baiklah, sekarang kemasi barang-barang mu."
Aku menatapnya kosong, tiba-tiba merasa bodoh dengan kelambanan sirkuit kepalaku.
"Untuk apa?"
"Kamu harus pindah ke asrama."
Aku bertanya dengan bodoh,"Aku enggak tinggal di kamar ini?"
"Enggak boleh, Aish. Rumah ini kuis kediaman Abah dan Umi. Hanya mereka yang bisa menempatinya."
Penjelasan nya memang masul akal tapi tidur di asrama?
"Baiklah..aku akan mengemas barang-barang ku."
"Kamu tidak boleh membawa baju-baju kecilmu. Kecuali gamis dan beberapa pakaian pribadi, kamu tidak diizinkan membawa yang lain."
"Sok ngatur!" Kataku gondok!
Aku mengabaikannya dan mulai memilah isi koper ku. Setelah melihat-lihat isi koperku, hampir 90 persen dari isinya barang ilegal jadi aku tidak bisa membawanya pergi dan memutuskan untuk membakarnya. Anggap saja untuk menghilangkan jejak masa lalu.
Alhasil aku hanya membawa satu tas kecil dan paper bag yang Nasifa berikan kepadaku. Kami berpamitan kepada Umi dan menghabiskan hampir 20 menit untuk mendengarkan wejangan Umi kepadaku. Meskipun terdengar membosankan, namun karena cara penyampaian Umi yang keibuan dan hangat, aku nyatanya tidak mengeluarkan suara keluhan di bibirku.
"Nah, ini adalah perpustakaan santriwati. Semua buku ataupun kitab yang berhubungan sekolah bisa kita temukan di sini. Penjaga perpustakaan ini adalah Ustadzah Dian dan Ustadzah Sulastri, mereka berdua cantik dengan mata sipit."
Aku mendengarkan dengan asal-asalan tidak terlalu tertarik.
__ADS_1
Begitu keluar dari rumah Abah, dia mengenalkan ku tata letak pondok pesantren ini. Mulai dari perpustakaan yang paling dekat dengan rumah Abah, hingga sekolah dan stan makanan pondok pesantren yang sangat besar!
Nasifa bilang pondok pesantren ini terdiri dari 6000 ribu lebih santri dan 7000 lebih santriwati dari berbagai kelas. belum lagi staf pondok dan staf pengajar, jumlah mereka sungguh luar biasa. Aku bahkan sampai terperangah dibuatnya.
"Enggak, enggak! Aku mau pulang! Aku enggak mau tinggal di sini!" Kami baru saja melewati stan makanan dan sudah disambut suara hiruk pikuk.
Di depan kami sekumpulan wanita berjubah sedang mengelilingi seseorang. Aku pikir suara ini agak tidak asing di dalam pendengaran ku.
"Aku pikir memikirkan Kak Khalid itu wajar karena aku memang kangen sama dia. Tapi memikirkan pemilik suara ini agak enggak wajar karena pemilik suara ini menyebalkan."
"Hah, kamu tadi ngomong apa?"
"Enggak, aku enggak ngomong apa-apa." Telinga ini anak kok sensitif banget.
"Ngomong-ngomong di depan kok ramai banget? Kalau dilihat-lihat anak pondok ternyata enggak terlalu ketat yah karena masih bisa nongkrong beba." Duh, berita bagus banget ini.
Nasifa melihat ke kejauhan dengan pandangan berarti.
"Enggak kok, mereka semua adalah staf kedisiplinan asrama putri. Mereka di sini untuk membujuk seorang santriwati baru yang membuat ulah karena ingin dipulangkan."
Wah, aku punya teman seperjuangan. Harus menjalin koneksi nih agar peluang melarikan diri semakin besar.
"Astaga, tontonan bagus nih. Liat yuk!"
Tanpa menunggu jawaban aku langsung pergi ke arah kerumunan. Berjalan lihai di antara kerumunan hingga aku akhirnya berhasil masuk ke dalam. Dengan harapan tinggi aku melihat gadis mana yang telah berjasa membuat keributan,
What the hell!
Harapan ku langsung kandas saat bertemu mata dengan gadis itu. Bagaimana tidak kandas karena orang yang ku temui adalah,
"Oi, kadal, lo juga dibuang ke sini?!" Dia sama terkejutnya dengan ku.
__ADS_1
"Dira sialan, siapa yang lo panggil kadal!"