Wanita Surga Bidadari Dunia

Wanita Surga Bidadari Dunia
Bab 6.4


__ADS_3

"Woah, saingan di sana pasti banyak." Gumam adiknya juga ingin mengejar habib Khalid.


Sesampainya di komplek. Habib Khalid memutuskan untuk berhenti di depan rumah sewaannya dan menyerahkan urusan Aish kepada keluarga Paman Amat. Paman Amat dan Bu Shinta akan pergi ke rumah Ayah Aish untuk mengantarkan Aish yang sedang tidak sadarkan diri.


"Tuh lihat, dek. Kalau emang habib Thalib suka sama Aish pasti dia akan ikut bersama kita mengantarkan Aish. Tapi nyatanya dia tidak mau dan tahu untuk menghindari fitnah." Kata-kata penghiburan ini seharusnya ditujukan kepada dirimu sendiri.


Dia sangat senang melihat habib Khalid tidak ikut bersama mereka untuk mengantarkan Aish.


Adiknya tersenyum aneh,"Lagian orang alim mana mau dekat sama gadis yang buruk akhlaknya, apalagi orang itu adalah keturunan Rasulullah shalallahu alaihi wa salam." Celetuk adiknya blak-blakan.


Jika di sini ada orang lain, Nabila pasti sudah menghentikan adiknya. Tapi di sini hanya ada keluarga mereka saja dengan tambahan Aish yang belum sadarkan diri.


"Kamu benar, dek."


Beberapa menit kemudian mereka sampai di depan gerbang rumah Ayah Aish. Ini masih jam 9 jadi orang-orang di dalam masih beraktivitas dan belum mengantuk.


Ting Nong~


Paman Amat menekan bel gerbang.

__ADS_1


Satu menit kemudian seorang laki-laki paruh baya dan tampak masih bugar keluar dari rumah dan langsung datang menghampiri mereka.


"Assalamu'alaikum, Pak?" Sapa Paman Amat ramah.


"Waalaikumussalam, Pak Amat. Ayo masuk Pak, kita bicara di dalam saja." Kata Ayah sopan.


"Tidak usah, Pak. Saya di sini cuma mau mengantarkan putri Bapak untuk pulang saja." Tolak Paman Amat.


"Putri saya? Aish?" Tanya Ayah ragu karena Aish belum pulang sejak insiden itu.


Ayah pikir Aish mungkin pergi ke rumah keluarga Mamanya di luar kota.


"Iya, Pak. Kami menemukannya sedang diganggu oleh preman di jalan xx. Tapi untungnya ada habib Thalib yang membantu putri Bapak sehingga dia terselamatkan dan kami bawa pulang." Cerita Paman Amat singkat.


Karena menurutnya, gadis yang baik hanya bisa bertemu dengan laki-laki yang baik pula.


"Tolong sampaikan ucapan terima kasih ku kepadanya. Lalu dimana Aish?" Berbicara tentang Aish, wajah Ayah terlihat muram.


"Dia di dalam mobil, Pak."

__ADS_1


Ayah lalu mengikuti Paman Amat ke tempat mobilnya di parkir. Di dalam ada dua putri dan istri Paman Amat sedang menunggu Ayah mengambil Aish.


Dengan ucapan terima kasih sopan, Ayah mengambil Aish dari mereka dan membopongnya ke dalam rumah. Dari pakaian putrinya, samar, dia bisa mencium bau alkohol. Ayah semakin marah dan memiliki keinginan melemparkan Aish ke kolam. Namun, niatnya harus diurungkan ketika melihat wajah damai Aish yang sedang tertidur mengingatkannya pada sosok Mama Aish di atas ranjang kamar mayat.


Saat itu Mama Aish tidur sangat damai dan tampak jauh lebih cantik. Mama Aish tidak pernah mengatakan satu patah katapun kepada Ayah maupun keluarga Ayah sebelum pergi. Mama Aish hanya berbicara dengan beberapa orang, salah satunya dari keluarganya sendiri. Menyampaikan sesuatu sebelum akhirnya pergi dengan sangat damai.


"Mas, Aish mabuk?" Tanya Bunda ketika melihat Ayah masuk ke dalam kamar dengan linglung.


"Yah, dia membuat masalah lagi tapi untungnya habib Thalib membantunya tadi." Jawab Ayah.


Mendengar nama habib 'Thalib' disebut, Bunda tiba-tiba menjadi bersemangat dan antusias. Sebagai seorang Ibu, dia sangat mendukung putrinya menikah dengan habib Khalid. Ini tentu saja bukan sembarang persetujuan karena Bunda telah bertanya ke beberapa orang di komplek ini mengenai habib Khalid dan bahkan Bunda juga bertanya kepada mertuanya mengenai masalah ini.


Jawaban semua orang sangat baik dan posisi jadi Bunda tidak khawatir mengenai masa depan Aira.


"Habib Thalib adalah orang yang baik, Yah. Dia juga memiliki latar belakang yang sangat baik jadi kita harus membicarakan perjodohan ini setelah Aira lulus sekolah." Kata Bunda sangat optimis.


"Kamu tenang saja. Masalah ini juga sudah masuk agenda ku. Kita hanya perlu menunggu waktu yang tepat untuk membicarakannya."


...🌪️🌪️🌪️...

__ADS_1


Pagi harinya Aish bangun dalam keadaan linglung. Kedua mata bersudut nya yang terbentuk indah menatap langit-langit kamarnya heran sekaligus bertanya-tanya, bukankah ini kamarnya?


"Kenapa aku tiba-tiba ada di kamarku?" Tanya Aish mulai merasakan sakit kepala yang berdenyut di kepalanya.


__ADS_2