Wanita Surga Bidadari Dunia

Wanita Surga Bidadari Dunia
Bab. 10.6


__ADS_3

"Umi, Umi?" Habib Ja'far memanggil istrinya.


Lalu masuklah seorang wanita paruh baya dengan mukena putih yang telah membalut seluruh tubuhnya kecuali bagian wajah. Meskipun sudah tua tapi jejak kecantikan masih sangat hidup diwajahnya.


"Ya, Abah?"


"Kita kedatangan tamu. Lihatlah siapa yang datang, Umi pasti akan senang melihatnya." Kata habib Ja'far.


Mata habib Ja'far jelas-jelas mengarah kepada gadis cantik yang kini tengah duduk menyendiri dengan ekspresi muram di wajahnya.


Umi mengikuti kemana arah mata habib Ja'far memandang. Dan betapa terkejutnya dia saat melihat Aish, gadis murung yang sangat mencolok.


"Abah, ini teh...ini teh Aisha?" Tanya Umi mengagetkan mereka semua kecuali habib Ja'far sendiri.


Ayah, Bibi, maupun Paman yang datang mengantar Aish merasa heran sekaligus bertanya-tanya darimana mereka mengenal Aish.


Aish dikejutkan oleh panggilannya dan menoleh tanpa sadar mengikuti dimana sumber suara.


Mata lembut itu, Aish sejenak merasakan jejak kasih sayang seorang Ibu di dalam dirinya. Tapi tidak, Aish segera menundukkan kepalanya. Dia tidak mau terjebak perasaan semu itu lagi. Takutnya dia kecewa.


"Namaku Aish, bukan Aisha." Ralat Aish.


"Tidak sopan." Ucap Bibi.


Tapi Aish tidak perduli.


"Nama yang cantik. Aish atau Aisha, mereka sama saja." Kata Umi masih lembut.

__ADS_1


Aish tiba-tiba merasa malu.


"Benar, nama yang sangat bagus. Seperti orangnya, nama ini sangat cantik dan memiliki makna yang sangat cantik pula. Umi, bawa Aish masuk ke dalam untuk beristirahat. Dia butuh istirahat karena telah menempuh perjalanan jauh." Kata habib Ja'far mengintruksikan istrinya.


Umi sudah sangat antusias dan tidak bisa menutupi kegembiraan di wajah tuanya.


Berjalan menghampiri Aish, dia meraih tangan Aish dan menariknya pergi.


"Aish ikut sama Umi ke dalam, yah?" Umi sangat ramah.


Aish tidak terbiasa dengan sikap akrab Umi karena biasanya dia selalu mendapat perlakuan dingin dari orang-orang di sekitarnya.


"I-iya, Umi." Jawab Aish tergagap.


"Tunggu, Aish." Ayah memanggil.


"Bawalah ini untuk bekalmu." Kata Ayah merasa sangat tidak nyaman.


Aish melirik dua kartu bank di tangan Ayah dan tanpa ragu menjawab.


"Tidak perlu. Aku punya uang sendiri." Tolak Aish.


Ayah tersenyum tipis,"Ini adalah uang yang Mama kamu simpan untuk kamu." Kata Ayah setengah berbohong.


Aish terkejut, dia menatap Ayah ragu.


"Ambillah."

__ADS_1


Aish mengangkat tangannya ragu dan mengambil kedua kartu bank itu dari tangan Ayah.


"Aku akan menyimpannya. Terima kasih." Setelah mengatakan itu dia langsung membelakangi Ayah dan meminta Umi untuk berjalan cepat.


Ayah melihat kepergian putrinya. Pergi tanpa mengatakan pamit ataupun salam terakhir, Ayah tahu bila Aish mungkin sangat marah dengan keputusannya mengirim dia ke tempat ini. Tapi apa yang harus dia lakukan?


Nenek sudah memberikan keputusan final di rumah. Dia menolak tapi Nenek bersikeras bahwa ini adalah demi kebaikan Aish sendiri.


"Kak, uangnya kenapa dikasih semua ke Aish? Bukankah Mamanya hanya meninggalkan satu tabungan untuknya?" Bibi tidak setuju dengan keputusan Ayah.


"Memang benar Mamanya hanya meninggalkan satu tabungan untuknya. Tapi dia adalah putriku juga dan dia berhak mendapatkannya." Kata Ayah lemah.


"Tapikan masih ada Aira, Kak. Aira juga butuh biaya sekolah dan kuliah."


"Ada aku di sampingnya jadi bagaimana dia bisa kekurangan? Sedangkan Aish...dia sendirian di sini."


"Tapi, Kak-"


"Diam!" Potong Ayah tidak mau berbicara lagi.


Bibi cemberut dan marah tapi hanya bisa menahannya di dada.


Tersenyum tipis, Ayah beralih menatap habib Ja'far dan memohon dengan tulus,"Tolong jaga putriku, habib. Dia adalah gadis yang keras kepala dan mungkin sedikit sulit di atur, tapi yakinlah dia adalah gadis yang sangat baik sebenarnya. Dia hanya... sedikit tertutup, jadi tolong jaga putriku, habib."


Habib Ja'far tersenyum lebar, menepuk pundak Ayah dengan gerakan akrab,"Di bawah tanggungjawab ku, insya Allah dia akan tumbuh menjadi muslimah yang baik dan dekat dengan Allah. Bapak bisa yakin." Janji habib Ja'far dengan senyuman tersungging.


Bersambung...

__ADS_1


SELAMAT HARI RAYA IDUL ADHA, MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN, SEMUANYA 🤗


__ADS_2