Wanita Surga Bidadari Dunia

Wanita Surga Bidadari Dunia
Bab 5.1


__ADS_3

..."Tidak perlu menjelaskan tentang dirimu kepada siapa pun, karena yang menyukaimu tidak butuh itu. Dan yang bencimu tidak akan mempercayai itu." ...


...(Ali Bin Abi Thalib)....


...🌪️🌪️🌪️...


Hari ini libur sekolah karena tanggal merah. Jadwal Aish hari ini kosong dan dia tidak akan melakukan apa-apa menurut rencana. Mungkin hari ini dihabiskan untuk lebih banyak menebus tidur paginya di pagi-pagi sebelumnya.


Namun, kebiasaan untuk bangun malam masih tidak bisa dihilangkan. Dia terbangun di tengah malam dan rasa kantuknya telah menguap entah kemana. Tapi Aish tidak jengkel seperti malam-malam sebelumnya karena dia memiliki rencana di dalam hatinya.


Segera dia turun dari ranjangnya. Berjalan menuju jendela dan menyingkap gorden kamarnya. Tangannya lalu bergerak cepat membuka jendela, membiarkan angin malam yang dingin masuk memenuhi kamarnya.


"Apakah dia sudah datang?" Tanya Aish sambil mengamati jalanan di bawah.


Sepi, tidak ada seorangpun.


"Apa dia sudah masuk ke dalam sana?" Mengintip gerbang musholla- masih terkunci.


Habib Khalid masih belum datang.

__ADS_1


Tidak sabar, Aish melihat waktu di jam weker atas nakas nya. Sudah pukul 3 dini hari tapi mengapa habib Khalid belum datang?


"Apa aku bangun terlalu pagi?" Dia bergumam kepada dirinya sendiri.


Tidak lama setelah dia bergumam, terlintas di dalam benaknya sebuah pertanyaan, mengapa dia sangat bersemangat melihat habib Khalid?


Padahal pengkhianatan Iyon dan Gisel mengajarkannya sebuah pelajaran bahwa tidak mudah untuk mempercayai orang dalam hidup ini. Sebab, bila sudah terlanjur mempercayai orang rasanya akan menyakitkan ketika tahu orang tersebut tidak tulus dan diam-diam mengkhianati.


Mirisnya.


SHUHH


Angin malam bergerak ringan, sentuhannya sangat ringan tapi tidak dipungkiri cukup dingin. Karena dingin, Aish bergidik sambil memeluk badannya untuk memberikan kehangatan.


Suara langkah kaki seseorang. Gugup, Aish spontan melihat ke arah asal suara. Menajamkan penglihatannya guna melihat laki-laki jangkung di ujung jalan sana.


"Kak Khalid..." Aish terpesona.


Aura habib Khalid saat ini agak berbeda. Entah mengapa ada sentuhan keseriusan dan keteduhan yang Aish rasakan ketika memandangnya. Perlahan sosok habib Khalid semakin jelas di bidang penglihatan Aish. Dia berjalan lurus dan mantap, tanpa menoleh ke belakang atau ke samping, langkahnya sama sekali tidak goyah.

__ADS_1


"Kak Khalid?" Panggil Aish tidak terkontrol.


Dia membeku, sadar, dia langsung menyembunyikan dirinya sebelum habib Khalid menoleh. Tepat setelah Aish bersembunyi, habib Khalid mengangkat kepalanya melihat bangunan rumah berlantai dua di samping musholla.


Tidak ada siapapun tapi jendela kamar seseorang terbuka lebar.


"Hem?" Habib Khalid tersenyum, dia menggelengkan kepalanya sebelum melanjutkan langkahnya masuk ke dalam musholla.


"Apa dia sudah pergi?" Aish mengintip- sudah tidak ada siapapun di sana.


Habib Khalid sudah masuk ke dalam musholla. Aish kecewa, dia menarik kursinya di depan jendela dan duduk sambil menopang dagunya.


Tidak lama kemudian, suara lembut nan merdu itu kembali bergema mengisi kekosongan hatinya yang telah lama tidak tersentuh manisnya ayat-ayat suci Al-Qur'an.


Aish termenung dalam diam. Memikirkan kapan terakhir kali dia sholat dan membaca Al-Qur'an. Sudah, sudah lama sekali. Dia tidak sholat setelah bertahun-tahun- sejujurnya, saat di sekolah maupun di rumah, dia sering berpura-pura sholat untuk mengelabui guru maupun orang tuanya. Rasanya berat sekali, padahal hanya 4 sampai 5 menit, tapi Aish masih merasakan berat ketika diminta untuk sholat. Jangankan sholat, membaca Al-Qur'an saja dia amat sangat jarang. Selain enggan atau merasa berat, Aish masih terbata-bata ketika membacanya. Dulu dia dan Aira pernah belajar di guru ngaji yang sama. Tapi karena Aish nakal dan tidak mau bersama Aira, akhirnya dia sering bolos dan pada akhirnya berhenti mengaji.


Sudah bertahun-tahun, sudah lama sekali.


"Banyak orang mengatakan bila Allah itu adil, tapi jika memang seperti yang mereka katakan, maka dimana Allah menyimpan keadilan untukku?"

__ADS_1


Keluarga berat sebelah, tumbuh tanpa kasih sayang seorang Ibu, dan seringkali disalahpahami membuat Aish meragukan takdirnya.


__ADS_2