Wanita Surga Bidadari Dunia

Wanita Surga Bidadari Dunia
Bab 8.4


__ADS_3

"Aish, Aish!" Panggil Iyon buru-buru mengejar Aish.


Dia mengulurkan tangannya untuk memegang tangan Aish, tapi segera ditepis dengan kasar oleh Aish.


"Enyah, jangan dekati aku lagi." Kata Aish dingin dan melanjutkan lagi langkahnya.


"Aku minta maaf, Aish. Aku tahu kalau aku salah. Aku benar-benar tidak sengaja melakukannya, aku khilaf. Gisel lah yang merayuku lebih dulu. Dia mengajakku ku motel untuk melakukannya." Jelas Iyon tertekan.


Khilaf?


Aish entah kenapa langsung tertawa mendengarnya. Dia tidak tahu harus tertawa atau menangis untuk menghadapi kebobrokan IQ jongkok laki-laki ini. Hei, apa dia pikir semua wanita itu bodoh?

__ADS_1


"Khilaf, tapi rasanya enakkan?" Cela Aish tanpa melihat bagaimana frustasinya Iyon sekarang.


Iyon menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Mau bagaimana lagi, aku juga laki-laki yang membutuhkan-"


"Jijik, banget. Minggir lo, jangan pernah ganggu hidup gue lagi. Kalau enggak, gue bakal sebarin semua foto-foto dan video ini ke media sosial biar semua orang tahu gimana kelakuan bejat lo. Kalau begini kan lo gak punya muka lagi ngadepin orang banyak, secara lo kan najis. Oh ya, sebagai pengingat aja. Daripada lo susah-susah ngejar gue, ada baiknya lo siapin mental buat ketemu sama keluarga lo nanti. Karena yah... mereka semua pasti malu kalau punya anggota keluarga najis kayak lo." Potong Aish jijik, mengabaikan wajah pucat pasi mantan kekasihnya itu.


Ah, Aira. Aish menatap wajah palsu Aira yang tertutupi cadar. Saat di dalam ruang BK tadi tidak ada satupun guru yang memberikan komentar apapun kepadanya. Aish tidak heran, malah dia akan terkejut bila ada guru yang mengomentarinya karena di sekolah ini Aira adalah murid kesayangan semua guru. Sebab dia cantik, sopan, dan juga pintar. Dia disukai banyak siswa. Maka perdebatan hari ini secara alami akan menyampingkan Aira yang sempat ikut campur.


"Dasar sok alim." Ucap Aish mencela saat melewati mereka berdua.

__ADS_1


Di kelas dia hanya masuk mengambil tas sekolahnya dan langsung pulang ke rumah. Entah keluarganya tahu atau tidak tentang masalah yang dia perbuat hari ini, Aish sama sekali tidak perduli karena baginya merebahkan tubuh untuk beristirahat adalah hal yang utama.


Saat memasuki kompleks perumahan, Aish sengaja memilih berjalan kaki sambil berharap dapat bertemu dengan habib Khalid. Aneh, dia bilang tidak akan mengejar habib Khalid tapi tidak bisa tidak melihatnya sehari saja. Rasanya agak menyiksa.


"Aku tidak beruntung hari ini." Bisiknya menyesal.


Menghela nafas panjang, dia membawa langkahnya yang terburu-buru masuk ke halaman rumah. Di halaman rumah ada satu mobil asing yang tidak pernah Aish lihat sebelumnya. Bukan hal yang luar biasa jadi dia langsung mengabaikannya. Namun saat akan masuk ke dalam rumah, Aish tidak sengaja berpapasan dengan sepasang suami-istri lanjut usia yang cukup familiar untuk Aish.


"Kakek, Nenek?" Kaget Aish ketika melihat Kakek dan Nenek dari pihak Mamanya.


Sudah bertahun-tahun lamanya Aish tidak pernah bertemu dengan mereka berdua. Bukan karena Aish membenci mereka, tapi mereka berdua lah yang tidak suka datang ke rumah ini karena keluarga Ayah selalu mengingatkan mereka pada Mamanya Aish.

__ADS_1


__ADS_2