Wanita Surga Bidadari Dunia

Wanita Surga Bidadari Dunia
Bab 5.6


__ADS_3

"Ayah...ada yang, ada yang sengaja merusak buku-buku Aira..." Adu Aira sangat marah dan sedih.


Dia menangis terisak bukan karena dibuat-buat tapi karena dia memang sangat sedih melihat semua buku-buku sekolah, novel, agama, belajarnya digunting.


Mungkin tidak masalah untuk membeli lagi tapi membeli buku tidak semudah yang orang pikirkan karena ada beberapa buku yang sangat sulit dicari atau limited edition. Karena itulah Aira sangat menyayangkan semua barang-barang berharganya dirusak. Daripada merusak buku-buku ini, Aira lebih suka uangnya diambil.


"Ini pasti kerjaan Aish! Jika bukan dia, siapa lagi yang akan melakukan ini!" Tukas bibi yang pernah bermasalah dengan Aish kemarin.


Ketidaksukaan Aish terhadap Aira bukanlah rahasia lagi. Semua orang tahu jika Aish menjauhi Aira karena permasalahan kedua orang tua mereka dulu.


"Tidak, Aish tidak akan berani melakukan ini." Bantah Ayah tuduhan tersebut.


Aish hanya sesekali mencibir bila bermasalah dengan Aira tapi tidak pernah mengambil tindakan kasar seperti ini. Ayah percaya Aish tidak akan mau mengambil langkah sejauh ini.


"Tapi Ayah...aku tidak pernah melihat Kak Aish dari pagi ini. Mungkinkah dia yang melakukan semua ini kepadaku?" Aira tidak melepaskan Aish begitu saja.

__ADS_1


Karena dia sangat yakin diantara semua kandidat, hanya Aish lah yang paling tepat disebut pelaku dari semua permasalahan ini. Apalagi Aish dan dia tidak pernah akur sehingga tidak menutup kemungkinan jika pelakunya adalah Aish.


"Aish pasti masih tidur karena hari ini libur." Kilah Ayah masih mempercayai Aish.


Aish terkadang membuatnya marah dan terkadang pula, Aish sering bertindak kurang aja kepadanya, akan tetapi Aish masih putrinya. Dia tidak bisa asal menuduh dan bias terhadap putri yang lain karena Aish maupun Aira sama-sama putrinya.


"Justru karena alasan ini, bukankah ini mencurigakan, Kak? Dia tidak pernah turun ke bawah dan muncul di acara ulang tahun adiknya jadi pelakunya bisa saja dia." Bibi itu bersikeras mengatakan Aish adalah pelakunya.


Bibi masih menyimpan dendam atas sikap Aish kepadanya kemarin dan menggunakan kesempatan ini untuk membalas Aish.


"Baiklah, semua orang ayo turun ke bawah untuk membicarakannya." Putus Ayah seraya keluar dari kamar Aira dan pergi mengetuk pintu kamar Aish.


Begitu Ayah pergi, Bunda dan bibi membantu Aira bangun dari duduknya di lantai dan mendudukkan Aira di atas ranjang. Mereka bekerja sama merapikan gamis dan kain jilbab Aira yang kusut karena sempat diduduki.


"Nak, ayo ganti cadarmu. Yang ini sudah basah karena kamu menangis." Ajak Bunda sambil membantu putrinya melepaskan kain cadar yang melilit wajahnya.

__ADS_1


Aira hanya manut saja diatur Bunda. Dia juga tidak bisa bernafas menggunakan cadar ini karena sudah basah.


"Cadarnya di dalam lemari, Bun."


Bunda segera membuka lemari untuk mengambilkan Aira cadar. Saat membuka lemari kedua mata bola mata langsung membola melihat tumpukan kacau cadar di dalam lemari yang sudah digunting tidak beraturan.


"Astagfirullah...." Bunda shock.


"Ada apa, Kak?" Bibi datang menghampiri Bunda dan melihat apa ke dalam lemari.


"Ya Allah, ini sudah sangat keterlaluan!" Teriak bibi murka.


Bibi membawa kedua tangannya mengambil tumpukan cadar dan menunjukkannya kepada Aira sebagai bukti 'kejahatan' tambahan.


Bibi dan Bunda sekarang benar-benar yakin jika orang yang merusak barang-barang Aira di dalam kamar adalah Aish. Orang yang memiliki perbuatan ini adalah Aish dan mereka benar-benar diyakinkan setelah melihat tumpukan cadar yang dirusak dengan gunting.

__ADS_1


__ADS_2