
..."Sabar sesaat saja di saat marah akan menyelamatkan kita dari ribuan penyesalan."...
...Ali bin Abi Thalib...
...🌪️🌪️🌪️...
Besoknya Aish segera berangkat sekolah pagi-pagi sekali untuk menghindari orang-orang rumah. Karena sejak pertengkaran itu Aish dan orang-orang rumah tidak pernah bertegur sapa untuk alasan yang bisa dimengerti. Bukannya orang-orang rumah tidak mau berbicara dengan Aish karena mereka juga sudah mencoba untuk berbicara. Hanya Aish lah yang melarikan diri dari mereka. Dia terkesan menghindari orang-orang rumah karena masih marah juga kecewa dengan mereka semua.
Aish juga tidak membutuhkan uang saku dari mereka karena dia memiliki uang yang cukup untuk pengeluaran sehari-harinya. Gaji menjadi model majalah memang tidak besar tapi karena Aish rajin menabung dan tidak suka pergi berbelanja seperti anak gadis pada umumnya, jumlah tabungan itu mungkin bisa digunakan untuk membeli rumah sederhana di pinggir kota.
Jadi Aish tidak perlu khawatir soal uang.
Sesampainya di sekolah anak-anak yang datang baru beberapa orang. Aish senang. Diam-diam dia mendekati papan mading sekolahnya dengan maksud tertentu.
"Ini balasan kalian berdua setelah mengkhianati aku. Mampus." Kata Aish benci.
__ADS_1
Dia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Barang-barang ini kebetulan dia dapatkan saat keluar kemarin sambil mencari tempat untuk makan siang.
"Kalian pikir aku adalah gadis yang bodoh? Sayang sekali aku membuat kalian kecewa. Lihat, aku sangat mampu membalas perbuatan kalian yang tentunya jauh lebih baik daripada kalian. Baiklah, nikmatilah hubungan rahasia kalian. Aku turut bahagia untuk kalian." Setelah menyelesaikan tugasnya, Aish langsung pergi ke kantin sekolah untuk mencari sarapan.
Kantin sekolah memang belum buka karena Bibi di sana masih membereskan barang-barang jualannya. Namun Aish adalah pelanggan tetap mereka di pagi hari, jadi mereka tidak masalah menyiapkan Aish seporsi makanan hangat.
Suasana hati Aish mulai membaik. Dia menikmati makanannya dengan happy tanpa khawatir sedikitpun. Perlahan anak-anak sekolah mulai berdatangan dan ramai. Kantin juga mulai didatangi beberapa siswa yang ingin sarapan seperti Aish.
"Gila, masih SMA mereka udah main ke motel aja. Apa mereka gak sayang tuh sama masa depan sendiri?" Di sela-sela makan Aish mendengar pembicaraan mereka.
"Aku sih gak masalahin yang cowoknya yah, karena cowok kan gak dapat imbas besar. Tapi yang aku pikirin itu ceweknya. Dia kan masih sekolah tapi udah kehilangan perawan aja, terus gimana sama suaminya besok? Yah, kalau ujungnya nikah sama si cowok ini sih enggak apa-apa, tapi bagaimana kalau enggak? Kasian banget suaminya dapat cewek bekas." Yang lain menimpali dengan nada ironis.
Aish menundukkan kepalanya, sudut bibirnya membentuk senyuman miring jenaka. Ah, senang sekali pikir Aish. Rencananya berjalan sesuai harapannya. Saat ini anak-anak sekolah pasti sedang sibuk membicarakan Gisel dan Iyon.
"Menurut aku sih gak masalah ya, karena orang buruk pasti akan bertemu dengan yang buruk. Cuman ini lho...kalian harusnya tahu dong kalau Iyon itu pacarnya Aish dan Gisel adalah sahabat Aish. Mereka berdua... adalah orang terdekat Aish tapi diam-diam mengkhianatinya. Hati Aish pasti hancur banget." Yang lain tiba-tiba mengingatkan kebenaran ini.
__ADS_1
Hancur?
Aish terkekeh. Hatinya sudah kebal jadi sakitnya tidak seberapa. Dia tidak sehancur yang orang-orang pikirkan.
"Eh, itu bukannya Aish?" Mereka akhirnya menyadari keberadaan Aish.
Melihat Aish tertunduk dalam diam tanpa menyentuh lagi makanan di piringnya, mereka pikir Aish pasti sedang sedih hingga kehilangan selera makan. Lagipula siapa yang tidak sedih mengetahui pacar dan sahabatnya berselingkuh di belakang?
"Dia pasti sedih pacarnya selingkuh sama sahabatnya sendiri." Bisik yang lain perihatin.
"Bakal gak normal kalau gak sedih. Yah, aku bisa ngerti sih apa yang dia rasakan sekarang." Yang lain menimpali dengan nada pengertian.
"Dia mungkin udah gak berselera makan lagi karena kejadian ini. Liat aja piringnya, porsinya hanya berkurang sedikit."
Aish merapatkan mulutnya berusaha menahan tawanya agar tidak lepas. Siapa bilang dia tidak berselera makan?
__ADS_1
Hei, ini adalah piring keduanya pagi ini, okay?