Wanita Surga Bidadari Dunia

Wanita Surga Bidadari Dunia
Bab 10.10


__ADS_3

Aish melaksanakan sholat subuh dengan ogah-ogahan. Dia sangat mengantuk ditambah lagi masih merasa malu dengan tebakan beraninya beberapa waktu yang lalu tentang habib Khalid. Logikanya, mana mungkin habib Khalid ada di pondok pesantren ini?


Dunia tidak selebar daun kelor yang mana orang akan mudah bertemu satu sama lain dan Aish menyadarinya.


Melihat sikap ogah-ogahan Aish yang tidak mood di ajak mengobral ataupun berbicara, Umi dan Nasifa hanya menggelengkan kepala mereka tidak berdaya. Mereka juga tidak bisa memaksa Aish langsung turun bergabung dengan anak-anak pondok karena Aish butuh waktu untuk istirahat.


Maka dari itu setelah mengucapkan salam sholat subuh, Aish menyampaikan pamit kepada mereka berdua dan langsung kembali ke kamarnya untuk tidur. Begitu tubuhnya tengkurep di atas ranjang, Aish tidak sadarkan diri dan masuk ke dalam mimpi.


Sementara itu di rumah yang sama, Nasifa dan Umi mulai mengobrol di dalam ruang sholat.


"Umi, Aish cantik, yah?"


"Masya Allah, dia cantik banget, Nak. Kepribadiannya juga tidak seburuk yang keluarganya ceritakan. Tinggal di poles dikit aja, dia pasti bisa menjadi muslimah yang baik." Ujar Umi menyampaikan kekagumannya kepada Nasifa.


Nasifa menganggap setuju,"Semoga saja dia betah tinggal di sini dan aku harap dia juga mulai beradaptasi dengan pondok pesantren."


Umi menatap Nasifa dengan senyuman simpul di bibirnya. Ada sesuatu yang kian menarik kekagumannya kepada Aish, namun karena alasan tertentu dia enggan membicarakannya dengan Nasifa. Sebab masalah ini sedikit tertutup dan jauh dari jangkauan orang lain.

__ADS_1


"Mau tidak mau dia harus betah tinggal di sini karena ini adalah permintaan Mamanya. Dan betah atau tidak dia tinggal di pondok pesantren, ini bagaimana tergantung seseorang mampu mendidiknya." Kata Umi santai.


Kedua tangannya mulai sibuk melipat kain sajadah yang dia gunakan dan Aish sholat tadi. Setelah melipat sajadah, tangan Umi kini beralih melipat mukena putih yang dia gunakan tadi dan menaruhnya ke dalam kabinet di samping pintu masuk.


"Hem?" Nasifa penasaran.


Sebab kata-kata Umi menyembunyikan makna tertentu dan dia ingin tahu.


"Nak, ajak Aish pergi berkeliling pondok nanti setelah dia sarapan dan perkenalkan dia situasi atau kondisi pondok kita untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan di masa depan. Umi tidak ingin dia tersesat ke asrama ataupun sekolah santri (laki-laki) karena tidak hapal jalan." Umi mengabaikan rasa penasaran Nasifa.


Dia berbicara normal kepada Nasifa. Mengarahkan apa yang harus Nasifa lakukan nanti dengan beberapa hal yang sengaja dia tekankan kepada Nasifa. Pasalnya banyak cerita konyol dimana seorang santriwati tersesat masuk ke wilayah santri. Entah itu sekolah ataupun asrama, buku poin asrama putri telah mencatat banyak kasus. Maka dari itu untuk mencegah kejadian ini terjadi kepada Aish, Umi menekankan agar Nasifa mengenalkan lingkungan pondok kepada Aish.


"Oh ya, jangan lupa bawa Aish ke kamar asramanya. Menurut Umi, Aish adalah tipe anak yang tidak mudah berbaur dengan banyak orang jadi ini juga menjadi salah satu tugas penting Nasifa untuk membantu Aish bergaul dengan anak-anak pondok yang lain." Tekan Umi serius.


Sekali lagi Nasifa mengangguk serius. Diam-diam dia menyiapkan sebuah skenario di dalam hatinya untuk membuat Aish mudah bergaul dengan anak-anak pondok yang lain. Tapi- tapi dia pribadi agak ragu melakukan rencana ini karena dia yakin Aish tidak suka memiliki banyak teman. Entahlah, ini hanya perasaannya saja.


"Dan satu lagi," Umi menatap Nasifa serius, lebih serius daripada sebelumnya.

__ADS_1


"Iya, Umi?"


"Aish tidak punya gamis jadi biarkan dia meminjam pakaian mu dulu. Nanti setelah makan siang, ajak dia ke luar pondok untuk membeli beberapa gamis. Semalam Ayahnya sudah menjelaskan jika dia tidak memiliki gamis dan meminta Abah memberikan Aish izin keluar pondok untuk membeli gamis."


Nasifa tercengang. Beberapa detik kemudian dia menganggukkan kepalanya mengerti tanpa niat memberikan komentar apapun.


Setelah itu dia berniat kembali ke asramanya untuk mandi dan mengambil gamis yang akan dia pinjamkan kepada Aish. Tapi matanya tiba-tiba tertarik ketika melihat paper bag putih di atas meja.


"Paper bag siapa ini?" Heran Nasifa.


Dia membuka paper bag, di dalam ada dua abaya polos warna hitam dan Army. Tidak lupa juga dua kain panjang yang Nasifa indentifikasi sebagai jilbab.


"Punya Nadira, ya? Eh, ada suratnya." Ada kertas kecil berwarna kuning terselip di lipatan jilbab.


"Untuk Aisha Rumaisha, Aish?" Nasifa kian heran saat mengetahui ini milik Aish.


"Apa dia mengirimnya ke sini? Hem..." Senyuman aneh munculnya di wajah cantiknya.

__ADS_1


Dia melihat ke kanan dan ke kiri, nihil, tidak berselang lama bahunya bergetar ringan karena menahan tawa.


"Aku harap Aish menyukai pemberian mu." Bisiknya berharap.


__ADS_2