
...Aku tidak sebaik yang kamu ucapkan, tapi aku juga tidak seburuk apa yang terlintas di hatimu....
...Ali bin Abi Thalib...
...🌪️🌪️🌪️...
Aish menata hatinya kembali sebelum berjalan pulang ke rumah. Di rumah kedatangannya sudah ditunggu oleh semua anggota rumah. Mereka membentuk sebuah kelompok di ruang tamu, memanggil Aish begitu masuk ke dalam rumah dan menahannya di ruang tamu seperti angkatan gangster.
Aish terkadang heran. Mereka padahal keluarganya tapi kok seringkali memperlakukannya seperti tersangka kasus pembunuhan.
"Ada apa?" Aish sudah kelaparan dan ingin segera makan.
Dihadapkan dengan mata-mata penuh selidik mereka. Aish sama sekali tidak gentar, hanya perasaan miris, yah miris saja, miris karena diperlakukan sedemikian rupa buruknya oleh keluarga yang harusnya menjadi rumah tempat rasa lelahnya bersandar.
__ADS_1
Tapi tidak, ini mungkin bukan rumahnya karena pundak mereka hanya diperuntukkan untuk Aira. Hah, gadis bermuka dua itu.
"Lain kali sopan lah saat berbicara dengan orang yang lebih tua dari dirimu. Duduk." Perintah Ayah dingin.
Ayah duduk di sofa single sudah seperti seorang raja saja. Tatapannya yang dingin dan mematikan memiliki rasa arogansi yang langsung menekan saraf tegang Aish. Di tempat ini dia merasa seperti seorang tahanan kriminal yang bersiap mendapatkan vonis dari kata-kata emas sang raja.
"Iya, Ayah." Punggung Aish langsung berkeringat dingin.
Dia merasakan sebuah firasat buruk. Sangat buruk.
"Aisha Rumaisha. Apa benar kamu telah menyebabkan kedua temanmu keluar dari sekolah?" Tanya Ayah serius.
Aish menghirup udara dingin.
__ADS_1
"Ya, tapi Gisel dikeluarkan dari sekolah karena perbuatannya sendiri." Kata Aish tenang.
Rasa laparnya telah menguap entah kemana digantikan oleh rasa kritis yang dirasakan hatinya. Membuat saraf-saraf ditubuhnya menegang.
"Aisha Rumaisha, ini hanya karena kesalahan kecil. Kamu tidak boleh merusak masa depan temanmu hanya karena dendam pribadi. Dia salah, tapi bukan berarti kesalahannya tidak akan bisa diperbaiki jadi tidak seharusnya kamu menciptakan masalah untuk temanmu, kan?" Kata Ayah menyalahkan Aish.
Aish tidak menyangka bila kata pertama yang keluar dari mulut Ayah adalah ucapan menyalahkan ini. Harusnya Ayah bertanya dulu apa kesalahan yang Gisel lakukan atau apa sebabnya dia melakukan ini, bukannya bertanya dia malah langsung menyalahi nya. Aish sungguh sangat kecewa.
Aish tersenyum masam,"Kesalahannya tidak kecil. Ini sangat besar dan tidak termaafkan." Sama seperti yang kamu lakukan kepada Mama, kesalahan itu tidak akan pernah aku lupakan seumur hidup.
Namun kata-kata itu hanya bisa dia ucapkan di dalam hatinya. Dia tidak bisa mengatakannya secara langsung karena mereka semua pasti akan langsung memusuhinya.
"Jangan melebih-lebihkan, Nak. Aira sudah menjelaskan kepadaku jika kesalahan itu tidak besar tapi kamulah yang melebih-lebihkannya hingga menyeret temanmu sampai harus putus sekolah. Sekarang apa yang harus kamu lakukan untuk menebusnya? Temanmu sudah putus sekolah dan terancam tak bisa melanjutkan sekolah lagi karena anak yang dipecat oleh sekolah akan sangat sulit mendaftar sekolah lagi."
__ADS_1
Ah, Aira lagi. Desah Aish tidak heran. Gadis itu pasti telah mengatakan yang tidak-tidak sehingga Ayah bersikap seperti ini tapi bodohnya juga Ayah sama sekali tidak mencari tahu kesalahan Gisel dan langsung mempercayainya begitu saja.
Sungguh menakjubkan. Sungguh luar biasa. Rasanya sangat memuakkan.