
"Toko buku?" Iyon sepertinya tidak keberatan.
Lagipula jarak sekolah ke toko buku juga tidak jauh sehingga mereka tidak akan menghabiskan banyak waktu.
"Baiklah- tunggu, ada pesan dari Aish." Kata-kata Iyon terpotong ketika melihat pesan masuk dari kekasihnya.
Aish💚
Setelah pulang sekolah nanti ayo makan di kafe Mawar China.
"Aish bilang apa?" Tanya Gisel tidak sabar.
Apalagi saat melihat wajah tersenyum Iyon sambil menatap layar ponsel. Dia menebak jika ini bukanlah pertanda baik.
Iyon terlihat jauh lebih hidup,"Maaf Gis, sepulang sekolah nanti aku harus pergi kencan dengan Aish jadi kamu minta Aira aja temani."
"Oh,"
Kedua tangannya mengepal menahan rasa cemburu juga marah. Rasa ketidakpuasannya terhadap Aish rasanya semakin menggunung saja.
"Okay, nikmatilah kencan kalian." Untuk saat ini.
Namun kata-kata itu hanya bisa dia katakan di dalam hatinya.
Dengan tersenyum lembut dia mampu menyamarkan semua ketidakpuasannya kepada Aish di hadapan Iyon. Lagipula siapa yang meminta Aish menjadi gadis sok cantik dan sok jual mahal.l di sini. Menyia-nyiakan Iyon sebagai pacarnya dan bahkan seringkali mengabaikan keberadaannya, Gisel tentu saja memanfaatkan setiap peluang itu agar dapat memilikinya.
...🌪️🌪️🌪️...
__ADS_1
Aish menatap kosong rerumputan hijau di bawah kakinya. Entah apa yang dia pikirkan saat ini namun yang pasti dia tidak mungkin memikirkan hal-hal yang berbau kebahagiaan karena wajahnya memperlihatkan ekspresi sendu yang menyedihkan.
Semilir angin lembut menyentuh kulit wajah cantiknya yang memiliki tampilan sendu, menerbangkan rambut panjang nan gelapnya mengikuti kemana arah angin berhembus. Sekilas, dia memiliki tampilan keindahan yang membuat banyak gadis iri dan cemburu. Akan tetapi jika dilihat lebih dekat tampilan keindahan itu agaknya tidak terlalu mencolok saat melihat garis sendu yang terukir dalam di wajah maupun bola matanya.
Lama terdiam, kedua telinganya seolah tuli saat suara nyaring bel sekolah berbunyi menandakan waktu istirahat habis dan tubuhnya seakan mati rasa mengabaikan ratapan lambungnya yang mulai terasa tidak nyaman karena tidak memiliki apa-apa untuk diproses.
"Ma, hari ini aku bolos sekolah lagi. Gak apa-apa'kan?" Gumamnya pada orang yang telah lama meninggalkannya.
Dia menepuk wajahnya untuk menyemangati diri sendiri agar terlepas dari belenggu kesedihan. Setelah itu dengan mengendap-endap dia mulai membawa langkah kakinya ke arah gerbang sekolah. Melihat-lihat apakah satpam penjaga sekolah masih berjaga atau tidak.
"Eh, lo ngapain di sini? Mau kabur, yah?!" Tuduh Aish kepada Dira.
Benar, niatnya ke sini mau ngintip satpam tapi ketemunya sama Dira dan gengnya.
Dira mengelus dadanya kesal. Dia kira guru yang menegurnya tapi siapa yang tahu jika itu adalah Aish, si gadis sok jutek dan pembuat onar.
Aish mengangkat bahunya acuh.
"Kalau iya, kenapa? Bukan urusan lo juga kan? Lagian keluarga lo emang kaya tapi bukan berarti sekolah ini punya keluarga lo, kan?" Sindir Aish tidak mau kalah berdebat.
Dira tersedak, wajahnya berubah menjadi merah kemudian biru dan disusul oleh warna ungu. Dia jelas marah tapi tidak mampu mengembalikan kata-kata Aish. Bukan karena tidak bisa tapi karena tidak ada waktu. Pasalnya situasi mereka saat ini sedang genting-genting nya.
"Ekhem, kerjasama?" Tawar Dira enggan.
Aish melirik, juga enggan,"Gimana?"
Percakapan mereka hanya sampai di sini saja karena mereka berdua mengalami jalan buntu. Dalam hal ini tidak ada yang mau mengalah menjadi 'korban' karena mereka berdua sama-sama ingin keluar.
__ADS_1
Lalu Aish tiba-tiba mendapatkan ide. Tanpa aba-aba dia menarik lengan Dira dan membisikkan sesuatu di telinganya.
Walaupun Dira tidak suka dengan tindakan sok 'akrab' Aish tapi dia tidak mengatakan apa-apa karena setelah mendengar idenya, Dira pikir itu layak.
"Oke, kali ini gue rela 'berkorban'." Katanya dengan kedua mata berkilat aneh.
"Lo berdua sini deh." Perintah Dira kepada gengnya.
Mereka tanpa curiga mendekati Dira, sang ketua kelompok.
"Kenapa, Dir?" Tanya Asri.
Si gadis bertubuh mungil yang selalu tampil modis di sekolah.
"Sini." Dira menarik Asri d Lina, membisikkan sesuatu di telinga mereka.
Setelah mendengar pengaturan Dira, wajah mereka berdua langsung menjadi tidak sedap dipandang. Mereka jelas tidak setuju dengan ide gila ini.
"Yakin gak mau? Besok gue traktir tas branded keluaran terbaru, deh." Rayu Dira.
Asri dan gadis yang lain saling memandang, mereka berdua tentu tergoda dengan rayuan Dira.
"Cepetan, gue gak ada waktu lagi nih." Desak Aish tidak sabar.
Setelah membuat keputusan kilat, dengan enggan mereka terpaksa menerima tawaran Dira. Toh, tas branded langganan Dira adalah kelas atas yang cukup menguras kantong dan mereka tentu tidak akan sanggup membelinya.
"Baiklah, kami akan melakukannya. Ayo, Lin."
__ADS_1