Wanita Surga Bidadari Dunia

Wanita Surga Bidadari Dunia
Bab 5.8


__ADS_3

Aish masih mengatakan kebohongan yang sama.


"Bukan aku yang melakukannya, Ayah. Aku bahkan tidak tahu barang apa yang rusak di kamar Aira."


Jika sebelumnya, mungkin Aish akan mengakui semua perbuatannya tapi setelah melihat tatapan teguh Ayah, dia tanpa ragu langsung mundur dari rencananya.


Ya, mari bermain keras kepala.


"Kakak, izinkan aku bicara sebentar saja." Suami bibi mengajukan permohonan.


Sebagai seorang suami dia tentu tidak tahan melihat istrinya dipermalukan oleh anak gadis ingusan yang sok memahami urusan orang dewasa. Aish harus diberikan sebuah pelajaran.


"Silahkan." Kata Ayah tidak melarang.


"Begini, Kak. Saat acara tadi kita semua tahu bahwa satu-satunya orang yang tidak hadir adalah Aish dan satu-satunya orang yang ada di lantai dua adalah Aish. Dari fakta ini saja kita dapat menyimpulkan jika orang yang memiliki peluang besar merusak barang Aira adalah Aish. Ditambah satu poin lagi jika Aish kurang menyukai Aira sehingga tidak menutup kemungkinan Aish lah orang yang masuk ke dalam kamar Aira dan merusak barang-barangnya." Tidak seperti bibi yang berteriak-teriak saat berbicara, paman justru menggunakan cara yang lembut saat menyampaikan pendapatnya.


Di samping itu dia juga berusaha menggunakan nada bicara yang tenang agar pikiran orang-orang di ruang keluarga tertarik untuk mengikuti petunjuk yang coba dia sampaikan.

__ADS_1


"Apakah jendela kamar Aira baik-baik saja?" Ayah menduga jika ada orang luar yang masuk ke dalam kamar Aira dan memanfaatkan situasi untuk merusak barang-barang Aira.


Paman dengan meyakinkan menjawab,"Tidak ada kerusakan, jendela kamar Aira masih tertutup rapat." Untung saja dia sempat meliriknya waktu di dalam kamar Aira.


"Kakak tidak perlu bingung karena jelas-jelas pelakunya adalah Aish sendiri. Lagipula jika diingat-ingat dengan baik, Mama Aish dulu bukanlah orang yang suka berbohong. Dia suka berbicara jujur dan memiliki hati yang lembut. Tidak seperti Aish, aku malah curiga jika Aira adalah anak kandung-"


"Jangan berani menyandingkan Mamaku dengan gadis munafik ini!" Teriak Aish kehilangan kendali.


Dia berdiri dengan kedua tangan terkepal, dadanya bergemuruh karena amarah dan rasa benci, dan kedua matanya memerah menatap tajam ke arah bibi.


Bibi sangat terkejut. Kakinya tanpa sadar meringkuk membuat pose perlindungan diri.


"Apa?!" Balas Aish berteriak.


Aish menatap Ayah dengan pandangan rumit. Di dalam hatinya yang membara dia bertanya-tanya, mengapa dia masih mencintai laki-laki brengsek ini?!


Mengapa dia masih bertahan hidup dengan laki-laki brengsek! Mengapa? Mengapa! Raung Aish dengan amarah memuncak di dalam hatinya.

__ADS_1


"Lihat, lihat! Dia sama sekali tidak mencerminkan kekakuan Mamanya!" Bibi melihat situasi yang tegang dan segera memanfaatkannya untuk menjatuhkan kepercayaan diri Aish.


Lagipula semua orang ada di pihaknya jadi dia tidak takut memprovokasi Aish.


"Aira bukanlah darah dagingnya tapi dia lebih pantas-"


"Aku bilang jangan pernah menyandingkan Mamaku dengan gadis munafik ini! Apa bibi lupa, Mamaku mati karena kehadiran gadis munafik ini tapi kenapa masih disandingkan?! Tidakkah bibi tahu betapa benci Mamaku kepada gadis sialan ini!? Jika Mamaku masih hidup, dia tidak akan pernah sudi menerima dirinya disandingkan dengan gadis hina berbalut pakaian sok suci-"


"Aisha Rumaisha! Jaga bicaramu!" Bentak Ayah marah.


Tapi sayangnya Aish sudah tidak takut. Dia sudah terlanjur marah. Apapun... apapun yang menyangkut Mamanya akan selalu membuatnya tidak sabar apalagi sampai disanding-sandingkan dengan Aira- penyebab Mamanya jatuh depresi dan meninggal.


Hah, rasanya sangat menyakitkan. Hatinya sesak! Hatinya sakit!


"Apa? Ayah mau membela orang yang telah menghina Mamaku, ouh, tidak heran. Kalian adalah orang yang mendorong Mamaku mati. Kalian semua berkomplot untuk membuat Mamaku depresi dan mati! Kalian semua adalah orang yang membunuh Mamaku! Dan gadis hina sok suci yang kalian lindung bak permata berharga ini," Aish menunjuk Aira dengan tangan kirinya dibawah tatapan tajam semua orang.


"Ya, aku mengakui! Aku mengakui jika akulah yang merusak barang-barangnya. Aku merusak buku-bukunya dan menggunting semua kain ninja nya. Ah, terutama kain ninja itu! Dia tidak pantas memakai benda suci itu karena gadis sok alim dan sok suci yang kalian lindungi adalah gadis munafik! Dia tidak pantas menerimanya! Dia tidak pantas menggunakan benda-benda suci itu sehingga aku memutuskan untuk memusnahkan semuanya. Bahkan, bahkan aku sempat berencana memotong gamisnya juga karena dia benar-benar tidak memiliki kualifikasi untuk memakainya-"

__ADS_1


PLAK


__ADS_2