
Sementara di kediaman Tyson, Jerome tengah berbicara dengan kedua orang tuanya. Nyonya Winna tampak bersedih melihat sang anak terlihat murung.
"Nak, Agnes gadis yang baik. Kamu jangan sia siakan dia. " ucap Mami Winna pada putranya.
"Aku tahu mom, aku hanya perlu menerima kehadirannya dan seiring sejalannya waktu hatiku pasti akan menerimanya mungkin. " ungkap Jerome dengan wajah datarnya.
Mami Winna dan Papi Revan saling melirik satu sama lain. Mereka sangat paham jika putra mereka masih mencintai Irene hingga saat ini. Jerome lantas bangkit, dia langsung pamit pada kedua orang tuanya.
Pria itu menghentikan mobilnya di dekat penthouse milik Irene. Jerome tak berniat ke luar dari mobilnya, dia hanya memperhatikan Irene dari jauh. Hubungan mereka memang telah putus, Jerome masih sangat kecewa dengan keputusan sang mantan.
"Ternyata benar kau memang tak pernah mencintai aku Rene. Tadi saja saat kita bertemu di mall, kamu tampak tak cemburu melihatku bersama Agnes. " gumam Jerome lirih.
Jerome menghela nafas panjang, memukul setir mobil nya dengan kesal. Tak lama terlihat Irene ke luar dari penthouse gadis itu. Pria itu memutuskan melakukan roda empatnya memasuki halaman penthouse Irene. Pria itu lekas turun dan bergegas menemui Irene.
"Ehem, apa kau sangat sibuk? " tanya Jerome. Irene yang asyik menyiram tanaman bunganya seketika menoleh. Wanita itu tampak terkejut melihat kehadiran Jerome. Irene menaruh selang nya di bawah kemudian mematikan krannya.
"Memangnya mau bicara apa Jero? " tanya Irene sambil tersenyum.
"Ayo bicara di taman belakang. " Keduanya masuk ke dalam dan pergi ke taman belakang penthouse.
Irene tampak menunggu apa yang ingin di bicarakan Jerome padanya. Wanita itu diam dian mengepalkan tangannya, berusaha mengontrol dirinya agar tak lepas kendali memeluk Jerome. Terdengar suara helaan nafas panjang, Jerome kembali menatap Irene dengan lekat.
"Sepertinya kamu tampak bahagia setelah hubungan kita berakhir? " tanya Jerome setengah menyindir.
"Ya begitulah, kehadiran Ryn begitu membuat aku tak lagi terpuruk. " ungkap Irene dengan senyuman lebarnya. Wanita itu tampak banyak bicara, mengungkapkan isi hatinya saat ini.
Jerome sendiri hanya diam saja tanpa menyanggah ucapan Irene. Pria itu bisa bernafas lega melihat sang mantan yang terlihat baik baik saja tanpa hadir dirinya.
Kini wanita itu membahas tentang Agnes guna mengalihkan obrolan. Irene tentu mendoakan yang terbaik untuk Jerome dan Agnes. Jerome berdecak pelan, raut wajahnya kembali berubah datar.
"Berhentilah membahas Agnes, Rene. Aku hanya ingin tahu perasaan kamu saat ini padaku? " tegas Jerome.
__ADS_1
"Aku tidak pernah mencintaimu Jero, aku menganggap kamu hanya sebagai teman. " jawab Irene kala mata mereka bertemu, saling menatap satu sama lain. Setelah beberapa menit wanita itu memalingkan wajahnya kearah lain.
Jerome tentu saja sangat kecewa dengan jawaban yang di berikan Irene padanya. Pria itu langsung menarik tubuh sang mantan hingga mereka kembali menatap satu sama lain lagi.
"Kau pasti bohong 'kan Rene, jawab aku? " desak Jerome.
"Kamu harus terima kenyataan ini Jero, Agnes gadis yang tepat untukmu. Aku yakin kamu bisa mencintai gadis itu suatu saat ini. " ujar Irene sambil menepis tangan Jerome dari bahunya.
"Aku hanya wanita kotor, wanita yang telah di nodai pria brengshake. Kamu harus lupakan aku Jero, lupakan aku. " pekik Irene dengan emosional.
Wanita itu lantas menangis tergugu. Dia menepis sentuhan Jero padanya. Irene merasa tak perlu rasa kasihan dari orang lain termasuk Jerome. Jerome merasakan hancur melihat wanita yang dia cintai begitu terpuruk akan masa lalunya.
Tubuh Irene luruh ke atas lantai. Sang pengasuh datang membawa si kecil Ryn yang tampak menangis. Irene segera menghapus air matanya, mengambil alih putri angkatnya itu.
"Kenapa menangis sayang, mami tak apa apa nak. " gumam Irene sambil mengusap pipi gembul Ryn.
Jerome mengusap wajahnya kasar, dia kembali memperhatikan interaksi Irene dengan Ryn dalam diamnya. Diam diam dia memikirkan segalanya sebelum mengambil keputusan.
"Aku sudah memutuskan Rene, aku akan menikahi Agnes dan berusaha melupakan kamu. " ungkap Jerome.
Irene hanya diam tak menyahut, wanita itu fokus pada baby dalam gendongannya saat ini. Jerome lekas bangkit, dia menunduk dan mencium kepalanya singkat setelah itu pergi begitu saja.
Baru setelah kepergian Jerome, Irene menangis terisak. Dia merasa aneh dengan dirinya sendiri, bukankah ini yang dia inginkan. Jerome sudah sangat tepat dengan keputusannya yang sekarang.
Tap
tap
tap
Suara langkah kaki membuat Irene segera menghapus air matanya. Wanita itu lekas bangkit, menyerahkan Ryn pada sang pengasuh. Irene menoleh, terkejut melihat kehadiran Henry di kediaman dirinya.
__ADS_1
Irene memundurkan langkahnya. Henry langsung mendekat, pria itu berlutut di depan Irene sambil mengumamkan kata maaf.
"Maafkan aku Rene, maaf atas perbuatan bejatku dulu pada kamu. Aku telah begitu merendahkan kamu waktu itu, mohon ampuni aku Irene. " gumam Henry dengan nada penyesalan nya.
Irene menggeleng, air matanya kembali terjatuh. Melihat kehadiran Henry justru mengingatkan dirinya akan masa lalu bersama pria itu. Tubuhnya limbung, Henry yang melihatnya segera menahan tubuh wanita yang dia sakiti jiwa dan raganya.
Puk
"Irene, bangun. " Henry sangat panik melihat Irene jatuh pingsan. Pria itu lantas bangkit, segera membawanya menuju ke kamar Irene sesuai ucapan pelayan.
Dia juga meminta pelayan menghubungi dokter untuk segera datang. Beberapa menit berlalu, dokter datang dan segera memeriksa keadaan Irene saat ini.
Dokter menjelaskan keadaan Irene yang sempat mengalami depresi. Henry cukup syok, pria itu menanyakan perihal penangannya.
"Nyonya Irene perlu hal hal baru, jangan biarkan dia mengingat sesuatu yang membuatnya kembali depresi lagi. " ungkap Dokter.
"Akulah penyebab Irene mengalami hal ini dokter. " ungkap Henry.
"Kalau begitu, Anda perlu membantu nyonya Irene agar bangkit dari keterpurukannya. " pungkas Dokter. Setelah selesai dokter langsung pamit pulang.
Henry masuk ke kamar Irene, rasa bersalah pria itu kian besar pada wanita yang terbaring lemah di ranjangnya. Dia duduk di sebelahnya sambil menggenggam tangan Irene.
"Maafkan aku Rene, aku memang pria brengshake dan bodoh. " ungkapnya memaki dirinya sendiri. Henry menciumi telapak tangan wanita yang telah dia hancurkan hidupnya.
Henry turut menangis melihat keadaan Irene saat ini. Pria itu terus mengumamkan kata maafnya di depan Irene yang belum sadarkan diri.
Dia akan melakukan apapun agar bisa membuat Irene sembuh dan ceria seperti dulu. Henry hanya bisa berdoa semoga kelak Irene mau memaafkan dirinya dengan ikhlas. Untuk saat ini Henry hanya bisa bersabar menghadapi Irene yang tampak takut melihat dirinya.
"Engh. " Irene membuka kedua matanya. Dia menatap sekelilingnya kemudian memegangi kepalanya sebentar. Henry membantu Irene bersandar, wanita itu terhenyak melihat sosok Henry di depannya.
Irene memintanya untuk pergi namun Henry menolak.
__ADS_1
"Aku akan merawat dan menjagamu Rene sampai kamu sembuh. " gumam Henry.
"Ayo pukul dan tampar aku, tapi jangan siksa diri kamu sendiri seperti ini. " ungkapnya sambil menggenggam tangan Irene. Irene hanya diam saja, dia memilih memalingkan wajahnya.