
Hari berikutnya
Selesai sarapan Venia langsung bersiap untuk datang ke butik. Wanita itu lantas berpamitan pada suami dan anak anak mereka.
"Mas, aku naik mobil sendiri aja. Lebih baik kamu antar anak anak ke sekolah. " ujar Venia.
"Kami pergi duluan sayang, nanti aku nyusul ke butik kamu. " Sergio mencium istrinya sekilas lalu mengajak anak anaknya ke luar.
Venia segera menyusul mereka, wanita itu masuk ke mobil dan meninggalkan kediamannya.
Di Butik
Venia mengenakan dress berwarna biru. Perempuan itu turun dari mobilnya. Sofia langsung menyambut kedatangan sang atasan. Venia sendiri memberikan ucapan pembuka. Venia di temani para karyawan memotong pita di depan pintu.
Kresh
Suara tepuk tangan memeriahkan acara. Venia langsung membuka pintu butiknya, lalu masuk ke dalam di ikuti Sofia dan lainnya. Wanita cantik itu mendapatkan ucapan selamat dari Sofia dan para karyawan baru nya.
"Semoga Butik ini kelak akan menjadi sukses dan bisa go internasional. " ucap Venia penuh harap
"Amin nyonya. " jawab salah satu karyawan. Para pelayan langsung menempatkan posisi mereka masing masing di bagian mereka.
Venia langsung pergi ke ruangan nya di susul oleh Sofia. Wanita cantik itu mengeluarkan ponselnya, dia membaca pesan dari sang suami. Venia segera membalas pesan dan mengatakan dirinya enggak papa.
Dia menaruh kembali ponselnya ke dalam tas. Sofia langsung duduk berhadapan dengan sang atasan.
"Sepertinya di hari kita buka ini sudah ada pesanan. " ucap Sofia sambil tersenyum.
"Iyakah, memangnya siapa? " tanya.
"Sepasang suami istri dan katanya mereka akan datang ke sini nantinya. " ujar Sofia. Venia mengangguk paham, dia mengeluarkan selembar kertas dan pensil. Wanita cantik itu berusaha membuat desain gambar gaun sesuai yang dia pikirkan.
Beberapa saat berlalu pengunjung yang mereka bicarakan datang. Mereka langsung ke luar dari ruangan dan menyambut pasangan suami istri tersebut.
Venia terkejut melihat sosok Shaka begitu juga sebaliknya. Dia mengontrol dirinya dan berusaha tenang.
__ADS_1
"Ada yang bisa kami bantu nona, tuan? " tanya Venia dengan ramah.
"Perkenalkan saya Melisa dan ini Shaka suami saya. " jawab Melisa, wanita berambut pirang itu. Sofia mengajak keduanya duduk di sofa dengan nyaman.
Venia mengenalkan dirinya pada pasangan di depannya saat ini. Setelah itu dia menanyakan perihal kedatangan keduanya. Melisa mengatakan apa yang dia inginkan. Kedua wanita itu lantas bangkit, Sofia turut menunjukkan beberapa gaun pada Melisa.
Satu jam berlalu keduanya kembali. Sofia saat ini tengah mengurus gaun yang di pilih Melisa. Setelah selesai dia langsung menyerahkan pada Melisa bersamaan dengan pembayarannya.
"Bagaimana kabar kamu Vee? " sapa Shaka basa basi.
"Aku baik. " jawab Venia dengan singkat. Keduanya terlihat ngobrol dengan santai. Venia tetap saja menjaga sikapnya agar tak berlebihan. Dia juga cukup nyaman dengan keramahan yang di tunjukkan Melisa.
Setelah urusan selesai Melisa dan suaminya langsung pamit. Kepergian keduanya membuat Venia merasa lega. Venia menghela nafas berat, pertemuan ini membuatnya terkejut.
Venia POV
Aku enggak menyangka jika pelanggan pertama di butikku adalah Melisa dan Shaka. Namun melihat kak Shaka yang telah bahagia seperti saat ini membuatku turut bahagia. Jika mas Sergio tahu mengenai hal ini dia pasti akan cemburu dan mendiamkan aku. Haruskah aku bilang pada mas Gio mengenai hal ini, sepertinya tak perlu. Aku malas jika harus berdebat dengannya.
Vania POV end.
Sofia datang membawakan minuman untuknya. Dia langsung menyesap kopinya dengan perlahan. Setelah menaruhnya di meja, wanita anak dua itu mengobrol dengan Sofia dengan santai.
"Dia teman aku dulunya Sof, Tuan Shaka selalu membantuku beberapa tahun sebelumnya. " ungkap Venia dengan jujur.
Di sisi lain Melisa memperhatikan suaminya dengan kening berkerut. Wanita itu memilih tak bertanya dan kembali menatap jalanan lagi.
Penthouse Shaka
Turun dari mobil, Melisa masuk ke dalam menyusul sang suami. Dia sangat paham jika suaminya saat ini berada di kamar anak mereka. Wanita cantik itu berdiri di depan kaca yang ada di hadapannya.Melisa menatap pemandangan dari balik kaca.
"Semenjak ke luar dari butik nona Venia, kenapa Shaka tampak diam ya. " gumam Melisa dengan nada curiga nya. Terdengar suara helaan nafas berat, dia menepis pemikiran konyol nya itu.
"Mami. " suara cempreng seorang gadis membuat Melisa menoleh. Wanita itu berjalan mendekat, merentangkan tangan kala putrinya mendekat kearahnya.
__ADS_1
grep
Melisa menggendong sang anak lalu membawanya ke ruang tengah. Hot mami itu mengusap kepala sang anak dengan lembut.
"Kenapa sayang? " tanya Melisa pada sang anak.
"Tadi Papi bilang, suruh mami ke atas! " ucap gadis cilik dengan rambut sebahunya itu.
Melisa dan Shaka telah menikah, mereka memiliki anak perempuan bernama Karamel Brawijaya. Melisa langsung memanggil pengasuh sang anak.
"Kamu main dulu sama mbak Mei ya sayang. " ucap Melisa yang di angguki Karamel kecil. Karamel langsung menghampiri pengasuhnya. Melisa sendiri lekas bangkit dan pergi ke lantai dua.
Cklek
Melisa membuka pintunya lalu masuk ke dalam dan tak lupa menutupnya. Dia menaruh tas dan paperbagnya di atas meja setelah itu menghampiri sang suami.
"Ada apa mas? " tanya Melisa pada sang suami.
"Kemarilah. " ujar Shaka. Melisa menghela nafas panjang, segera naik ke atas ranjangnya. Wanita itu berbaring di sebelah sang suami. Pria itu lantas menjelaskan siapa Venia pada sang istri.
Melisa tentu saja terkejut mendengar nya. Wanita itu mengatupkan bibirnya rapat. Shaka sendiri memperhatikan istrinya dengan lekat.
"Kau tak cemburu? " tanya Shaka memancing istrinya.
"Jujur aku cemburu tapi aku tak punya hak jika hatimu masih untuk dia. Aku juga tak akan menyalahkan nona Venia karena ini bulan salahnya. " jawab Melisa dengan bijak.
Kini giliran Shaka yang bungkam mendengar jawaban Melisa barusan. Melisa sendiri sebenarnya merasa sesak, menganggap suaminya masih mencintai sang masa lalu. Diapun memilih mengabaikan rasa sakit hatinya, asalkan putri kecilnya selalu bahagia.
Melisa juga sadar pernikahan mereka di dasari perjodohan dari orang tua masing masing. Wanita itu tak akan menuntut apapun. Diapun memilih mengobrol hal lain, dia pun memang sengaja mengalihkan pembicaraan.
"Sebaiknya mas mandi duluan. " ucap Melisa dengan lembut.
"Mandi bareng lebih cepat dan menghemat air. " tawar Shaka. Melisa tetap menggeleng, wanita itu turun dari ranjangnya. Melihat istrinya yang menghindar membuat Shaka menghela nafas berat.
Pria itu lantas bangun, bergerak menghampiri Melisa. Tanpa aba aba dia menggendong istrinya menuju ke kamar mandi. Terdengar suara pekikan dari dalam, entah apa yang mereka lakukan saat ini.
__ADS_1
Satu jam berlalu mereka segera ke luar. Masing masing sibuk berpakaian, Melisa pun segera mengeringkan rambutnya. Keduanya ke luar dari kamar dan menemui si kecil Karamel.
Wanita itu memperhatikan interaksi lucu antara suami dan putrinya. Melisa mengulas senyumnya, dia merasa bersyukur atas kehadiran Karamel dalam hidupnya.