(Bukan)Pernikahan Impian

(Bukan)Pernikahan Impian
Bab 54 Keputusan Anna


__ADS_3

Hari berikutnya



Anna pergi menemui Devan di sebuah Cafe. Keduanya saling duduk berhadapan satu sama lain. Sebelumnya Devan telah memesan minuman untuk mereka berdua.


"Katakan kak, apa yang ingin kak Devan katakan padaku? " tanya Anna to the poin.


"Aku ingin kau ikut dengan aku Anna tapi ada syaratnya. " ujar Devan dengan serius.


"Syarat apa kak? "


"Gugur 'kan kandunganmu, mau sampai kapanpun aku tak akan pernah menerima bayi itu Anna. " ujar Devan dengan kejam.


Duarr


Anna tentu saja terkejut mendengar pernyataan Devan yang terdengar begitu kejam menurutnya. Wanita itu tentu saja tak akan pernah melakukan hal gila seperti itu.


"Kak Devan gila ya, sampai kapanpun aku tak akan menyingkirkan darah dagingku sendiri. " pekik Anna emosi. Perempuan itu terlanjur kecewa dengan permintaan Devan barusan.


"Jadi kau menolak Anna? " tanya Devan dengan geram.


"Iya. " tegas Anna tanpa ada keraguan. Devan tentu saha marah, dia langsung menyebarkan aib yang di miliki Anna. Pelanggan di saba langsung menggunjingkan dan banyak pula yang mencaci maki wanita hamil itu.


Anna tentu saja syok dengan apa yang di lakukan Devan. Wanita hamil itu lantas bangkit dan memilih ke luar dari Cafe. Dia segera memesan taksi, langsung masuk ke dalam dan melesat jauh.


Hiks


hiks


Anna menangis tergugu sambil mengusap perutnya. Dia meminta sopir untuk mengantarkannya jauh dari kota.



Anna memilih tinggal di rumah lama peninggalan orang tuanya. Ucapan Devan begitu menyakiti hatinya, wanita mana yang tega menyingkirkan calon bayinya sendiri.


Turun dari taksi Anna langsung masuk ke dalam. Pakaian lama pun masih tersimpan rapi di dalam lemari. Dia juga telah mematikan ponselnya agar tak di temukan suaminya.

__ADS_1


"Maafin Bunda sayang, untuk sekarang dan beberapa waktu ke depannya kita harus menepi lebih dulu. " gumam Anna sambil menyentuh perutnya.


Wanita itu memilih beristirahat di ruang tamu. Dia mengeluarkan ponselnya, ternyata suaminya menghubungi dirinya beberapa kali namun dia hiraukan.


Anna memilih memesan makanan setelah itu menaruh ponselnya di atas meja. Tak lama terdengar suara ketukan pintu, Anna langsung bangun dan pergi ke depan. Dia langsung menyerahkan uangnya dan mengambil pesanan makanan miliknya. Wanita itu kembali menutup pintu rumahnya kemudian duduk di sofa lagi.


Selesai menghabiskan makanan, Anna lekas bangkit dan membawa tasnya menuju ke kamar. Perempuan itu masuk ke dalam kamar, mengambil sesuatu dari dalam laci.


"Ayah, Ibu, Anna kangen sama kalian. Apa kalian telah bertemu dengan kak Venia saat ini. Dia perempuan yang sangat baik ayah, ibu. " gumam Anna dengan lirih.


Sementara di sisi lain Sergio tampak panik setelah gagal menghubungi Anna. Dia mendesah pelan, mungkin istrinya itu perlu waktu untuk sendiri saat ini. Pria itu memilih mengalah san membiarkan wanita itu menenangkan diri.


Pria itu menyambut kedatangan orang tuanya ke Villa. Mereka mengobrol santai di ruang tamu, mommy Amira memperhatikan wajah lesu sang anak.


"Gio, Anna ke mana? " tanya Mommy Amira pada putranya.


"Dia ke luar mom menemui Devan, pria yang di cintainya. " jawab Sergio.


"Kenapa kamu tak menyusulnya nak, kalau terjadi apa apa pada Anna gimana. Anna tetaplah istri kamu sayang, meski hati kamu masih tertuju pada mendiang Venia. " gumam mommy Amira menasehati sang anak.


Tiba di sana Sergio tampak kecewa tak mendapati sosok istrinya itu. Dia merasa jika Anna memilih ikut dengan Devan begitu pikir pria itu. Diapun memilih pergi dari sana dengan kekecewaan yang luar biasa.


Dia memilih kembali ke Villa dan pergi ke kamar mendiang Venia. Sergio mengambil foto mendiang wanita itu, mengungkapkan isi hatinya.


tok


tok


"Daddy. " si kembar masuk ke dalam kamarnya. Kedua bocah itu langsung duduk berdampingan dengan sang daddy. Sergio menaruh figura photo nya, fokusnya kini tertuju pada kedua jagoannya.


"Ada apa boys? " tanya Sergio dengan kening berkerut.


"Bunda ke mana Dad, kami tadi mencari Bunda ke manapun tapi tak ada. " keluh Finn. Sergio terdiam, dia memperhatikan raut wajah kedua putranya secara bergantian.


"Bunda kalian pergi. " ucap Sergio setelah beberapa saat. Si kembar terkejut, keduanya mengguncang lengan daddy mereka. Felix meminta sang daddy untuk mencari bunda Anna.


Sergio langsung memeluk kedua putranya, dia merasakan sakit hati melihat si kembar kembali merasa kehilangan. Dia berusaha menenangkan kedua jagoan kembarnya ini.

__ADS_1


Hiks


hiks


"Setelah mommy pergi ke surga sekarang bunda Anna ninggalin kita Dad. Apa Bunda tak pernah sayang pada kami. " gumamnya sambil menangis sesegukan.


"Masih ada Daddy dan dua opa dan dua oma kalian. Daddy mohon kalian jangan terus menangis seperti ini. " pinta Sergio.


"Kami ingin Bunda Dad. " pinta Felix sambil menangis.


Dari balik pintu mommy Amira berdiri sambil berlinangan air mata. Wanita paruh baya itu bisa merasakan apa yang di rasakan kedua cucunya. Si kembar berlari ke luar, mommy langsung memeluk keduanya lalu membawanya ke kamar si kembar.


"Kenapa kamu harus berjanji jika kamu mengingkarinya Anna. Kau dan Venia begitu jahat hingga membuat si kembar menangis seperti ini. " gumam Sergio. Pria itu berusaha menekan rasa sesak dalam dadanya.


Sergio memilih bangkit, melesat pergi ke kamar mandi. Dia perlu membersihkan diri agar pikirannya jauh lebih rileks. Pria itu mencoba menghargai keputusan Anna yang memilih pergi.


Skip


Hot Daddy itu tampak segar, dia segera membersihkan diri. Lalu mengambil ponselnya dan menghubungi sang asisten.Ya saat ini Damar yang menggantikan dirinya di negara X.


Sergio memastikan keadaan perusahaan miliknya, dia begitu percaya akan kecerdasan yang di miliki Damar.


"Kau sangat bisa di andalkan


Damar. " ucap Sergio


"Saya mendengar jika nyonya Venia telah tiada, saya turut berduka cita Tuan Sergio. " ucap Damar dengan tulus.


"Thanks Damar. " Dia menutup sambungannya, menyimpan ponselnya ke dalam saku celana. Dia langsung ke luar dari kamar dan turun ke bawah bergabung bersama Daddy.


Melihat wajah sedih putranya membuat Daddy Daffa turut bersedih. Paruh baya itu hanya bisa memberikan dukungan untuk putranya.


"Jika memang Anna jodohmu, pasti kelak kau akan bertemu dengannya Gio. " cetus Daddy.


"Aku sudah merelakan Anna dengan keputusannya Daddy. Aku hanya akan fokus pada si kembar saat ini. " ujar Sergio dengan serius. Tuan Daffa menghargai keputusan sang anak.


Sergio saat ini perlu menata kehidupannya secara perlahan.Dia mencoba merelakan kepergian Venia yang sampai kapanpun tak akan bisa kembali lagi. Pria itu menghukum dirinya sendiri atas kesalahan dirinya pada mendiang Venia.

__ADS_1


__ADS_2